Rentetan kasus korupsi negara makin hari kian parah hingga pada level stadium akhir yang tak dapat disembuhkan lagi. Suap-menyuap telah menjelma menjadi “kebiasaan” yang berakar pada mental serakah, biang keladi dari ketimpangan hari ini. Ironis memang, nasip para guru yang tak pasti dan petani yang berjuang tak kenal lelah sedang meratapi  nasib bangsa yang tak kunjung membaik.

Bukan bermaksud pesismistis, tapi berusaha merefleksikan setiap lembar kisah perjalanan bangsa yang belum menemukan jalan terang yakni jalan kemandirian atau arti kemerdekaan sesungguhnya yaitu tegak berdiri dengan rasa bangga di tanah sendiri. Sayangnya realitas perjalanan bangsa berkata lain, pelaku dalam cerita bangsa ini penuh dengan intrik  tak sedikit menjadi penghianat untuk kepentingan pribadi.

Sungguh malang negeri yang dikenal gemah ripah loh jenawi, surga yang diberikan keberkahan Tuhan tidak mampu dimanfaatkan untuk kepentingan rakyatnya sendiri. Kekayaan alamnya telah dirampas, dieksploitasi dan diperas hingga mengering. Apa yang kita rasakan pasca-reformasi? harapan untuk terbebas dari belenggu otoritarian kini tersandera utilitarianisme semua dikendalikan atas nafsu penguasa yang kian hari nampaknya makin menggila.

Apabila direnungkan dengan seksama, kita belum merasakan kata “baik” dalam kehidupan bernegara. Baik dalam arti sederhana pemenenuhan fisiologis dan pemanfaatan maksimal potensi sumber daya sesuai dengan amanat dalam Undang-Undang Dasar 1945. Bangsa kita sedang menghadapai permasalahan dari semua arah, persoalan ekonomi, sosial dan politik. 

Dalam konteks ekonomi misalnya kondisi fundamental ekonomi kita yang goyah dengan faktor eksternal akibatnya mata uang kita tergerus hingga pada level salah satu mata uang terendah di Asia (https://fxssi.com/top-10-of-the-weakest-world-currencies-in-current-year) dan akan tergerus hingga kondisi eksternal akan membaik, berarti kita akan menunggu hasil akhir perang dagang China-Amerika, Turki dan Venezuela dan narasi-narasi lain. Belum lagi, kebijakan bobrok impor Menteri Perdagangan beberapa waktu lalu yang jelas mencederai petani.

Negeri hijau itu kian tandus, tandus disebabkan ketimpangan sosial, ekonomi dan politik, makin tandus hingga tak mampu menyangga kehidupan masyarakat. Jika demikian, yang kita butuhkan adalah upaya untuk mengembalikan marwah negeri itu.

Mental Bangsa 

Untuk mencegah kondisi negeri makin gersang, dibutuhkan upaya konkrit sebab bila dibiarkan semua yang hidup di dalamnya akan mati, mati akan optimisme dan kepercayaan. Harus di akui, kita sedang dihampiri oleh mental “gila” kejujuran seperti sampah sebaliknya kebohongan menjadi retorika meyakinkan, buntut dari semua ini adalah Post-truth society (Masyarakat pasca-kebenaran) yaitu sebuah kondisi di mana fakta dan kredibilitas dari suatu realitas tidak lagi berarti.

Akibatnya, nilai universalitas yang telah tertanam kuat dalam benak masyarakat berangsur mulai terkikis, semangat gotong royong dan solidaritas  menjelma menjadi perseteruan dan kebencian-berseteru karena beda pilihan, beda suporter dan beda pandangan. Mental gila itu ujungnya adalah persaingan licik dan penuh intrik, amoral segala cara pun diterjang untuk memenuhi kepentingan pribadi.

Mental gila itu telah mengikis pandangan masa depan akan bangunan bangsa yang ideal. Carut-marut kondisi bangsa yang kian akut hanya mampu dijawab dengan ungkapan sederhana “bangsa ini bangsa yang besar, wajar ketimpangan itu terjadi”. Makna semiotis yang mencerminkan nihilisme yaitu pembiaran akan kondisi keterpurukan dan kejahatan.

Sepantasnya, setiap pribadi mulai berbenah, menata diri dan membangun paradigma berfikir kritis, idealis dan positivistik. Bahwa, bangsa yang besar dan dikaruniai selangit anugrah harus dibarengi dengan mental dan jiwa patriotisme tinggi, menanggalkan atribut pribadi, bahkan rela berkorban untuk bangsa yang berkemajuan. Nasib bangsa harus di atas segala-galanya, tidak boleh direcoki atau diraacuni oleh kepentingan pribadi dan satu golongan.

Mental kritis mencerminkan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang cerdas dan mandiri. Mental idealis mencerminkan pondasi keyakinan kokoh tertanam dalam jiwanya semangat patriotisme dan nasionalisme bangsa. Sementara mental positivistik yakni mental optimisme kemajuan bangsa yang ditata dan dikelola untuk kemandirian dan kemajuan bangsa.

Integritas 

Pelbagai persoalan dan ketimpangan merupakan bentuk dari disintegrasi bangsa. maraknya kasus korupsi yang menjerat para pejabat negara  tidak lain karena goyahnya makna normatif-mengikat yang menumbuhkan kesadaran dalam berfikir dan bertindak. Para perampok (koruptor) dari kalangan elit adalah mereka dari kalangan intelektual, namun kecerdasan hanya mengendap dalam pikiran tanpa dibarengi tindakan yang didasari pada makna-normatif yang dipupuk sejak lahir.

Modal utama dalam kehidupan berbangsa nampaknya hilang atau ditutupi noda hitam yang menodai simbol kesucian-kepercayaan dan tanggung jawab. Sehingga, hilangnya integritas menandai hilangnya kepercayaan kolektif. Sayangnya nilai integritas ini dimanfaatkan secara politis, mengaku bertanggung jawab padahal mengebiri kepercayaan, jelas hal seperti ini yang kita tidak harapkan.

Integritas akan menuntun kita pada tanggung jawab personal. Jika hari ini kita masih kesulitan untuk menutupi lubuang tikus, maka solusinya adalah bagaimana membentuk pribadi yang memiliki integritas diri agar tidak mudah terjerumus dalam jurang ketimpangan.

Menurut saya, selain mental dan integritas berbangsa yang memudar, persoalan lain yang kita hadapi bersama adalah terkait moralitas yaitu bagaimana berperilaku sesuai dengan kaidah dan aturan sosial. Moralitas merupakan patron yang melahirkan tanggungjawab dan kejujuran pribadi baik dalam tingkat mikro hingga makro, dari moral pribadi hingga moral berbangsa. Bila aspek moral ini tergerus, maka akan tergerus pula norma dan etika sosial dan berbangsa kita.

Jika kita sudah memahami bahwa kondisi yang kita hadapi saat ini adalah degradasi moral, maka langkah paling tepat adalah dengan membangun karakter bangsa melalui pendidikan. Karena, pendidikan adalah satu-satunya jalan mengembalikan marwah bangsa, karena ia menjadi kompas yang menentukan arah sejauhmana bahtera peradaban kita akan berlayar.