Alkisah sepasang kekasih menjalin hubungan asmara yang sangat manis di awalnya. Namun di tengah perjalanan, semuanya berbalik menjadi neraka yang nyata. Si perempuan menangis terisak, melukai diri sendiri dan menggila berlarut-larut. Setelah ditelusuri, psikiater mengungkap daddy issues yang dideritanya.

Apa Itu Daddy Issues?

Anastasia Venny Yustiana, dokter spesialis kedokteran jiwa atau psikiater di RS Brayat Minulya Surakarta dan RS Onkologi Solo, mengatakan bahwa daddy issues tidak memiliki definisi atau pengertian baku. Tapi intinya adalah gangguan pola asuh, di mana si anak gagal mendapatkan rasa aman dan nyaman dari figur seorang ayah. 

“Ini yang kemudian mengarah ke gagguan mental atau jiwa. Pola asuh benar-benar mempengaruhi,” kata dokter Venny yang juga tergabung sebagai anggota IDI (ikatan dokter Indonesia) dan PDSKJI (Perhimpunan dokter spesialis kedokteran jiwa Indonesia) ini.

Mengacu pada tahap perkembangan psikososial menurut Erik Erikson, ada fase-fase usia tertentu di mana pola asuh sangat berdampak bagi anak. “Jika anak menyaksikan ayah memukul ibu, berselingkuh, sibuk dengan karir, atau meninggal dunia, akan memunculkan rasa tidak percaya diri bagi anak. Anak ibarat lembaran kertas tulis, kita yang nulis,” lanjutnya.

Perilaku kasar secara fisik atau verbal dari orang tua akan terekam di alam bawah sadar anak. Dalam pertumbuhannya, anak bisa menjadi pelaku yang meniru perilaku itu atau menjadi pembenci sosok yang berperilaku seperti tersebut.

Fase
Uisia
Krisis
Orang yang berperan
Tugas pada fase ini
Respon terhadap penyakit
Infancy
0-18 bln
Trust vs Mistrust
Ibu atau org lain yg berperan sbg ibu
Ketergantungan pada ibu, mengekspresikan rasa frustasi
Takut pada lingkungan sekitar
Toddler
18 blm- 3 thn
Autonomy vs Shame and doubt
Orangtua
Bicara, berjalan, harapan yang menonjol, mulai menunda kesenangan
Stres berpisah dengan sosok ibu
Early childhood
3-5 thn
Initiative vs Guilt
Seluruh anggota keluarga
Suku kata tambah, mulai interaksi dgn kelompok
Merasa bersalah dan merasa diri buruk
Middle childhood
5-13 thn
Industry vs Inferiority
Sekolah dan tetangga
Aktif secara fisik, lebih kompetitif
Marah jika ada pembatasan
Adolescense
13-21 thn
Identity vs Role confusion
Kelompok, model kepemimpinan
Mencari identitas, pengaruh kelompok lebih besar, seksual aktif
Marah jika tergantung pada org lain
Young Adulhood
21- 40  thn
Intimacy vs Isolation
Pasangan lawan jenis
Memilih kerja, pasangan, dan mencapai tujuan hidup
Takut jika bercerai/ putus, takut rencana tak berjalan
Midle year
40-60 thn
Generativity vs Stagnation
Keluarga besar, institusi pekerjaan
Ide dan rencana untuk generasi selanjutnya, mencapai tujuan hidup
Depresi pada interupsi kerja atau perpisahan keluarga
Later year
> 60 thn
Integrity vs Despair
Orang yg membuatnya berguna
Membagi pengalaman dgn org lain
Perasaan tak berguna lahi

Krisis Kepercayaan terhadap Lelaki

Jelas hubungan dengan lawan jenis akan terganggu, dalam kasus sepasang kekasih di atas, di mana pihak perempuan menderita daddy issues, akan memunculkan krisis kepercayaan terhadp lelaki.

Ciri-ciri daddy issues, yakni:

  • Selalu berpikiran negatif bahwa hubungan akan gagal
  • Butuh diyakinkan terus menerus bahwa buhungannya baik-baik saja
  • Tidak percaya diri, tidak mencintai disi sendiri
  • Cemburuan, over protective, dan over thinking
  • Marah atau bereaksi berlebihan jika sedikit dikecewakan
  • Selalu butuh validasi dari pasangan bahwa dia adalah orang yang paling dicintainya dan ini tak akan pernah cukup


Itu semua terjadi karena perempuan tidak mau kejadian di masa lalunya (rumah tangga orangtua) terulang.

Cara Mengatasi Daddy Issues

Konseling premarital: untuk pasangan yang ingin menikah harus diajarkan untuk melepas traumanya. Kedua belah pihak pasangan harus tahu titik masalahnya.

Psikoterapi: psikoterapi memiliki banyak jenis: CBT (terapi perilaku kognitif), konseling, hipnoterapi, dll.

Mengarah ke Gangguan Jiwa

Daddy issues bisa mengarah ke gangguan jiwa namun tidak dapat dipastikan jenis gangguannya apa. “Entah gangguan kepribadian, depresi, cemas, atau skizofren dll,  tapi mengarah ke gangguan jiwa,” jelas dokter Venny. Namun sekali lagi ditegaskan, bahwa daddy issues cenderung ke pola asuh, dan ini bisa berdampak ke anak perempuan atau laki-laki.

Kapan Harus Beobat ke Profesional?

Merasa Ada yang Salah atau Tidak Beres

Ketika Anda merasa sakit yang tidak biasa, baik di fisik atau psikis. Gejala ini biasanya akan mudah diketahui oleh orang-orang di sekitar. Gejala di fisik misalnya insomnia atau gangguan tidur lain yang tidak biasa. Gangguan psikis misalnya jika Anda merasa sedih berlarut-larut atau marah terus menerus. Orang di sekitar biasanya akan sadar dan berkomentar ‘kamu kok aneh, kenapa sih?’

Penurunan Fungsi

Jika Anda biasanya rajin, namun selama 2-3 minggu menjadi pemalas hingga mengganggu aktivitas keseharian atau pekerjaan. Perlu disadari bahwa ‘aku sebenernya ada sesuatu.’

Terus Menerus Terjadi

Gejala depresi misalnya, dapat diidentifikasi jika terterjadi berlarut-larut selama 2 minggu. Atau kurang dari 2 minggu dengan gejala yang berat. Lalu ada kecemasan yang dapat diidentifikasi dalam rantang waktu satu bulan. “Sedih karena patah hati kan wajar, tai jika terjadi berlarut-larut hingga berbulan-bulan dan tidak pulih kan menjadi aneh. Karena harusnya mood akan kembali ke setingan normal,” kata dokter Venny.

Amankah Obat Psikotropika dari Psikiater?

Sebelumnya perlu diketahui perbedaan psikolog yang menangani ODMK (orang dengan masalah kejiwaan) yang cenderung ke pemberian konseling saja dan psikiater yang menangani ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) yang berhak memberi obat dan selanjutnya ke tahap psikoterapi.

Memang, sebagian besar psikiater meresepkan obat-obatan untuk pasien. Obat tersebut termasuk golongan psikotoprika dan bertujuan untuk menenangkan pasien. Pemberian obat pun tidak sembarangan, namun disesuaikan dengan keperluan pasien. Oleh karena itu perlu ada sesi tanya jawab di awal dan evaluasi berkelanjutan yang jujur dan terbuka.

Pasien tidak akan bisa menjalani psikoterapi jika pikirannya belum tenang. Artinya saat dokter bilang ini-itu atau memeberi tugas sebagai terapi, pasti akan ada perlawanan atau penyangkalan terus menerus dari pasien yang kepalanya dipenuhi pikiran negatif.

Gejala gangguan jiwa pasti dipengaruhi zat di otak yang tidak seimbang. Semisal saat zat dopamin berproduksi berlebihan, maka seseorang akan bersikap impulsif dan susah mengendalikan diri hingga melakukan hal-hal gegabah yang kadang membehayakan diri sendiri. Di situlah pemberian obat menjadi penting.

Jangan takut efek samping atau pikiran ketergantungan pada obat-obatan tersebut, karena seiring perkembangan kemajuan pengobatan, dosis dan jenis obat juga akan dikurangi secara berkala hingga lepas obat.

Jangka waktu mengonsumsi obat sebelum menuju ke psikoterapi juga berbeda tiap individunya. Tergantung seberapa parah gangguan yang diderita dan karakter pasien. 

Sementara untuk psikoterapi tidak semua pasien mendapatkannya, jika gangguan jiwanya tidak berat maka pasien tidak membutuhkannya. Psikoterapi sendiri juga ditentukan oleh tingkat pendidikan pasien, agar dokter tahu cara mana yang paling tepat untuk digunakan.