“Ada kepahitan dalam secangkir cinta terbaik," tutur Friedrich Nietzsche dalam bukunya Zarathustra. Namun pahit yang perlu terjemahan lebih lanjut ini mengantarkan pada sebuah jenjang keingintahuan yang tidak kunjung didapatkan. Alhasil, akun twitter terpaksa dibuka.

Stalking boleh dibilang kebiasaan paling moderat yang dilakukan remaja kekinian di era globalisasi ini. Mungkin catatan seorang demonstran Soe Hok Gie tentang “ada dua tipikal mahasiswa, mengikuti arus atau acuh tak acuh. Dan aku (Soe Hok Gie) memilih merdeka” segera teramini.

Namun, sebelum menelan mentah-mentah catatannya, bukannya tanpa dasar untuk memodifikasi catatan tersebut dengan kalimat sederhana ini: “ada dua tipikal mahasiswa, menjadi pengikut atau diikuti. Dan aku memilih menjadi stalker.

Akun twitter dengan cepat menyuguhkan banyak berita dalam genggaman gadget. Banyak terbaca mention-mention kawan sejawat yang membahas tentang percintaan, diberi harapan palsu dosen, putus cinta, putus makan? Sayangnya tidak. Semua pembahasan yang kurang menarik bagi kaum independen seperti ini. Tapi semua mention tadi serasa mendapat tamparan keras akan sebuah acuh.

Beberapa media massa menyuguhkan berbagai dimensi sudut pandang. Terutama memang lagi heboh kala itu dalam publik masa itu perihal “Aksi Damai” di Jakarta. Mulai dari aksi damai 4 November 2016 atau akrab dalam akal aksi damai 411 maupun aksi damai yang kedua 2 Desember 2016 atau biasa disebut aksi damai 212, (semoga saja sudah mendapat izin dari Kang Wiro Sableng).

Namun yang menjadi titik berat pembahasan di sini bukan jalannya aksi damainya, lebih condong kepada proses peliputan satu media massa dengan media massa yang lain yang boleh dibilang adanya kontradiktif. Salah satu media massa memberikan ulasan A, sedangkan media massa yang lain menyuguhkan ulasan B. Bukan hanya itu saja, saling sindir antarmedia massa sampai saling hakim-menghakimi pun tak terelakkan lagi.

Baru disadari, dari penyuguhan berita tersebut, bahwasanya semasa SMA, bukan hanya air ternyata yang memiliki indeks bias, media massa pun ternyata juga memiliki indeks bias. Kurikulum fisika (mungkin) harus direvisi. 

Lantas, bagaimana publik dapat mendapat informasi yang tepat kalau media massa menyuguhkan berita saling berlainan satu sama lain? Padahal publik juga menginginkan berita dari sang jurnalis. Haruskah publik turun tangan langsung melihat dengan nyata seluruh berita-berita yang beredar? (saya kira itu tak perlu).

Keraguan akhirnya publik dapatkan. Namun yang lebih parahnya lagi, keraguan menyebabkan publik impotensi, dan gangguan kehamilan (bercanda, supaya tak terlalu tegang), publik dengan sengaja maupun tak disengaja, tahu betul apa tidak memberikan ulasan dengan status, komentar, dan lain sebagainya dalam media sosial pribadinya. Serta kesimpulannya, media massa menjadi amburadul tidak karuan dalam beranda.

Salah seorang dengan nama akun Rocky Gerung yang (saya) ikuti dalam media twitter seakan memberikan titik cerah keamburadulan pikiran ini. Tuturnya dalam sebuah mention pribadi persuasi, “Lindungi jurnalis yang melakukan tugas publik, serta lindungi publik dari jurnalis yang sedang melakukan tugas partai.”

Akankah masing-masing media massa zaman sekarang telah ditumpangi partai (politik)? Kalau memang iya, sungguh sangat menggelitik, membuat publik dilema panik, yang paham akhirnya memutuskan untuk piknik.

Kalau demikian jadinya, di mana letak kredibilitas sang jurnalis sekarang? Mungkin telah tepat waktunya, untuk sekarang, para calon jurnalis muda melek berita sehingga tak terkontaminasi berita-berita bodor dalam media massa. Agar tak memperpanjang barisan perbudakan media yang ada.

Semoga para calon jurnalis-jurnalis masa kini dan di masa depan dapat menarik benang merah sejarah peliputan berita di media massa sekarang. Serta harapan di masa kini, para jurnalis yang terwadahi oleh media massa dapat memberikan kebutuhan informasi kepada publik dengan baik, mendidik, serta tak lupa pula menarik.