Take a look at the plants. They come together and thrive peacefully in the garden or park. (Kemi Sogunle – American Author)

Ada beberapa kota di dunia pada awalnya cuma tempat persinggahan (port of call) kemudian berkembang menjadi metropolitan. Sebutlah Dubai, Bangkok, Atlanta stopover cities yang berkembang pesat. Dalam hal tertentu miriplah dengan kota ini.

Di sini, kami juga singgah. Saat seorang teman mengundang mampir mencicipi bubur racikan mamanya. Si tante menyebutnya bubor paddas. 

Sesuai nama, awalnya saya duga kuliner ini menyengat. Tapi begitulah bubur pedas. Dahulu bubur ini menu petinggi istana. Ternyata pedas bukan mengacu pada rasa, melainkan campuran sayuran sebagai bahan utama.

Kali pertama melihatnya, saya malah berpikir bubur ini simbol akulturasi, saking banyak campuran di satu porsi. Ada toge, jagung, daun kunyit, hingga kangkung. Tak luput ubi, kacang tanah, ikan teri, sampai jeruk limau. Malah nasi halus yang jadi pokoknya penyap.

Uniknya bubur dibuat dari beras yang disangrai hingga kecoklatan. Tapi di atas segalanya, daun kesum-lah yang membuat beda. Daun ini merupakan bahan wajib penghasil wangi sekaligus yang membuat rasa pedasnya lain dari biasa. Ternyata, daun kesum bukan sembarang daun. Ia punya nafas, bisa berbicara. Begini ceritanya...

Pada zaman dahulu, di sebuah kerajaan. Sang Raja terkulai lemah di pembaringan mewah. Semua pengawal istana sangat mengkhawatirkannya. Karena sakitnya Sang Raja enggan menyantap apa pun juga. Nafsu makannya hilang, hingga makin payahlah dia.

Lakukanlah sesuatu, hai pembantu! Titah penggawa kala itu pada bawahannya yang diteruskan dengan memerintah juru masak istana membuat hidangan terbaiknya. Berharap sang raja berkenan menyantapnya. Juru masak ragu. Sudah berkali-bali menu andalan dicobanya. Tapi apalah daya.

Penuh was-was juru masak meracik apa yang ada. Beras disangrainya, rempah-rempah dan sayuran sekitar taman diraciknya dalam satu wadah. Entah bagaimana rasanya. Sungguh ia gemetar saat menyodorkan masakan hasil buatannya. Tak hanya kariernya terancam, lehernya pun jadi taruhan. Cemasnya kian menjadi mengetahui Sang Raja terlelap sesaat setelah menghabiskannya. Tewaskah?

Hanya lelah. Ini tingginya belum seberapa, hanya 400m dari permukaan laut. Siang itu kami tiba di bukit Taman Wisata Rindu Alam. Perjalanan dari kota hanya setengah jam. Kami duduk di gazebo menikmati hamparan Laut Natuna. Lihat itu Pulau Simping. 

Teman menunjuk gundukan batu yang ditumbuhi pohon di bawah sana. Pundaku ditariknya. PBB menobatkan pasir setengah hektare itu sebagai pulau terkecil di dunia. Wangi parfum woody merangsek hidung.

Hari mulai sore. Jika masih banyak waktu, aku bisa mengajakmu ke Gunung Besar dan Gunung Lapis, atau Pantai Panjang. Aku mengangguk tanda tak menolak. Bukannya setelah menaklukan satu bukit, kita pasti akan menemukan banyak bukit lagi untuk didaki. Hidup begitu, benar?

Benar saja. Hari itu juga pengawal menggiring juru masak masuk ke istana. Ada apa gerangan baginda raja memanggil hamba? Tanya juru masak terbata. Kepalanya menunduk dalam. 

Raja menanyakan hidangan yang dirasanya tidak biasa. Daun apa yang kautambahkan di bubur itu? Hamba menemukannya di halaman istana. Tapi, ampun hamba tak tahu daun apa namanya. Raja diam.

Kok, diam. Kotamu jadi model toleransi umat beragama. Temanku membulatkan mata sipitnya. Ia memarkir mobil tak jauh dari Pasar Hong Kong. Kami berjalan ke Vihara Tri Dharma Bumi Raya yang menjadi ikon kota. 

Persis di belakang vihara berdiri Masjid Raya. Eksistensi keduanya tanda kehidupan beragama di kota ini sarat tenggang rasa. Dengan latar dua tempat ibadah, kami foto bersama. Sunda dan Tionghoa.

Kamu? Siapa namamu? Tanya raja pada juru masak yang jelas mukanya sangat pucat. Nama hamba Kesum. Suara juru masak bergetar. Mendengarnya senyum Sang Raja terurai. Kalau begitu, kuberi nama daun yang kautambahkan pada bubur itu daun kesum.

Daun kesum cuma ada di sini, tante? Mungkin. Yang jelas berbeda dengan di Jawa atau Sumatra, kuliner Kalimantan tak banyak dipengaruhi budaya luar. Bubor paddas ini ciri khasnya Sambas. 

Dulu jadi hidangan para sultan. Sekarang bisa dijumpai di Bengkayang, Mempawah, Pontianak, bahkan di Malaysia. Wah, bisa-bisa bubur sedap ini diklaim mereka.

Wanita paruh baya itu menyeringai. Pak Kesum akan menjaganya. Biar tak diaku Malaysia. Kami tersenyum. Sedap pun karena kalian capek dan lapar juga. Ingat, dulu para leluhur kita, terbiasa menyedapkan makanan mereka dengan rasa lapar dan kerja keras. Itulah sumber kelezatan sesungguhnya berasal.

Tak ada suara. Di malam pekat dengan rasa mengganjal kami tinggalkan kota. Kota yang pada zamannya hanya kampung persinggahan. Para penambang Tiongkoklah yang singgah sebelum tiba di ladang emas Monterado, Bengkayang. 

Seiring waktu, beberapa dari mereka memutuskan menetap. Hingga hidup damai dengan warga setempat. Sekarang kota dikenal sebagai paling toleran di Indonesia. Singkawang.