Mendung masih menutupi langit sore itu. Gerimis sedikit demi sedikit mulai turun dari langit, seperti tangisan sepasang kekasih yang terpisah oleh maut yang tak pernah mereka sadari. Tetesan air hujan yang jatuh mengenai atap rumah berbunyi seperti membangkitkan kembali kenangan yang telah lama di sembunyikan, kini menggenang kembali dalam ingatan. 

Seekor tikus got berlarian mencari tempat berteduh untuk menghindari tetesan hujan yang telah membuat basah kuyup sebagian tubuhnya. Aku duduk di dekat jendela mengamati semua kejadian itu sambil mengenang kisah-kisah lama di bekas kota kecil yang telah di tinggalkan oleh sebagian besar penduduknya ini.

Sebelum di tinggalkan oleh penduduknya, kota ini merupakan kota kecil yang sangat  ramai. Kota yang selalu menjadi tempat tujuan wisata para turis dari dalam maupun luar negeri. Dulu di kota ini banyak berdiri pusat-pusat perbelanjaan, pusat hiburan, perkantoran dan kedai-kedai kopi bertebaran di tengah kota. Setiap sudut kota selalu di penuhi ole lalu lalang orang-orang yang sibuk melakukan aktivitasnya masing-masing. 

Kedai-kedai kopi  dan rumah makan di pinggir jalan selalu ramai oleh pengunjung. Kendaraan pribadi dan angkutan umum selalu memenuhi jalan raya hingga sering terjadi kemacetan. Siang ataupun malam masih saja ada orang berlalu lalang di jalan. Kota ini seperti kota-kota modern di eropa yang tak pernah terlelap tidur.

Setiap akhir pekan orang-orang memadati tempat-tempat hiburan untuk menghilangkan penat setelah beberapa hari beraktivitas demi mencari secuil kebahagiaan, meskipun semu. Para orang tua mengajak anak-anak mereka jalan-jalan mencari hiburan. Menonton pertunjukan musik, menonton di bisokop atau sekedar makan di restoran. Semua itu menjadi semacam standar kebahagiaan bagi mereka yang hidup di kota ini. Kehidupan di kota ini benar-benar begitu mendekati sempurna.

Namun itu dulu. Puluhan tahun yang lalu. Sebelum terjadi kekacauan yang sangat hebat di kota ini. Kekacauan yang di sebabkan oleh isu sara. Masyarakat kota terpecah menjadi dua kelompok, kelompok kiri dan kelompok kanan. 

Awalnya kedua kelompok hanya beradu argumen tentang sikap dan pandangan mereka tentang calon pemimpin pilihan mereka. Namun ada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang menginginkan perpecahan, maka diembuskanlah isu sara yang membuat kedua kelompok kiri dan kelompok kanan saling bertikai. Pertikaian itu menjadi konflik yang besar, dan terjadilah kekacauan itu.

Kekacauan itu berbuntut pengrusakan rumah-rumah ibadah dan penjarahan toko-toko yang ada di kota. Bentrokan antara kedua kelompok pun tak dapat di hindarkan. Korban berjatuhan akibat lemparan batu, tebasan parang, celurit dan pukulan benda tumpul. Setiap hari ada saja bentrokan antara kedua kelompok yang terjadi, pembakaran kendaraan dan rumah-rumah terus terjadi. Setiap hari pula kuburan-kuburan di gali untuk menguburkan mayat-mayat yang menjadi korban dari kerusuhan itu. Pemerintah menurunkan polisi dan tentara untuk mengamankan kota. 

Kepala negara memberikan perintah untuk tembak di tempat jika ada pelaku kerusuhan yang membawa senjata tajam dan melawan petugas. Jika malam tiba, sehabis magrib ataupun tengah malam, sering terdengar suara tembakan di kejauhan yang membuat suasana kota ini seperti di jalur Gaza. Toko-toko, perkantoran tutup sebelum sore tiba, bahkan ada sebagian yang tidak lagi melakukan pelayanan. Rumah-rumah warga terkunci rapat untuk berjaga-jaga jika ada perusuh yang menjarah rumah mereka.

Pada suatu malam sepulangnya dari masjid, ayah berjalan menggandeng tanganku dengan erat sambil berjalan tergesa-gesa. Malam itu merupakan malam yang takan pernah aku lupakan. Waktu itu usiaku baru sembilan tahun. Ketika kami berjalan hendak memasuki gang menuju rumah kami, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara motor meraung-raung mendekat ke arah kami dengan kecepatan tinggi, dan ketika telah mendekati kami, dua orang memakai penutup wajah yang berboncengan menggunakan motor langsung mengayunkan sebilah parang dan mengenai leher ayahku. Ayahku jatuh tersungkur ke tanah dengan darah mengucur dari lehernya. 

Sementara pengendara motor tadi langsung kabur dan pergi menjauh. Aku berteriak minta tolong tapi tak ada satupun orang di sana, suasana begitu sepi malam itu. Aku menangis dan memanggil ayahku yang sekarat terkapar di tanah. Aku koyak-koyak tubuh ayah yang telah bersimbah darah itu. Tubuhnya bergetar hebat di susul dengan pekikan kalimat tahlil dari mulut ayahku. Laa Ila..ha..Illallah.... Seketika tubuh ayahku berhenti bergetar dan tangannya terkulai lemas. Ayahku mengehembuskan nafasnya yang terakhir di gang malam itu. Aku menangis sambil memeluk ayahku yang sudah tak bernyawa lagi.

Beberapa bulan setelah kejadian itu, kerusuhan berangsur mulai mereda. Pemerintah berhasil menenangkan kedua belah pihak yang bertikai. Para provokator dan pelaku kerusuhan pun telah banyak yang di tangkap. Kedua kelompok di pertemukan, dan didapatlah perjanjian damai antara keduanya. Meskipun kedua kelompok telah berdamai dan kondisi kota mulai membaik, namun tetap saja meninggalkan trauma yang hebat di setiap orang. Pembakaran, penjarahan, hingga pembunuhan orang-orang yang mereka cintai masih membekas dalam ingatan setiap orang. Seperti juga diriku yang harus kehilangan ayahku yang sangat aku cintai.

Akibat trauma yang begitu dalam, akhirnya satu persatu penduduk mulai pindah meninggalkan rumah-rumah mereka. Mereka mencari kehidupan yang tenang di kota lain, mereka berharap bisa melupakan kenangan pahit di kota ini. Mereka takut kalau saja kerusuhan itu kembali terjadi lagi. Mereka tinggalkan rumah-rumah mereka beserta kenangannya di sana. Dalam waktu singkat, kota ini berubah menjadi kota mati, terbengkalai dan tak berpenduduk. Hanya beberapa penduduk saja yang masih bertahan tinggal di kota. Mungkin mereka tidak punya tempat tujuan untuk pindah atau harta mereka telah habis di jarah saat kerusuhan terjadi.

Kota yang dulu selalu ramai oleh lalu-lalang kendaraan kini tampak lengang, kotor dan tak terawat. Bau busuk tercium dimana-mana dari got yang tersumbat oleh sampah-sampah yang telah membusuk. Gedung-gedung bekas perkantoran dan toko-toko yang terbakar sedikit-demi sedikit mulai melapuk dimakan usia. Sebagian telah di tumbuhi tanaman liar yang tumbuh menjalar ke atas atap. Tidak ada tanda-tanda kehidupan sedikitpun disana.

Jika kita berjalan ke tengah kota, kita masih mendapati beberapa rumah dan toko yang masih di huni oleh penduduk yang memilih untuk tetap tinggal. Namun toko-toko itu nampak tak terawat dan di biarkan berantakan. Tidak ada pembeli yang datang di sana, hanya pemilik toko yang sekaligus merangakap menjadi kasir duduk memandang kosong ke luar rumah. Jika malam tiba burung-burung gagak dan burung hantu bertengger di atas atap gedung-gedung mencari-cari mangsa. Burung-burung  itu mengeluarkan suara-suara seram yang semakin menambah suram kota ini. Suasana sepi dan gelap, hanya sedikit cahaya redup dari rumah penduduk yang masih tinggal disana.

***

Hari ini tepat dua puluh enam tahun ketika ayah terkena tebasan parang dan meninggal malam itu. Seperti tahun-tahun sebelumnya di malam kematian ayah, saya selalu berjalan menyusuri jalanan di kota yang sudah mati ini. Mengenang segala hal yang pernah terjadi di sini, pahit ataupun manis. Bau anyir darah di tempat kerusuhan itu masih terbayang kuat dalam ingatanku, menyisakan luka yang dalam. Luka itu masih membekas hingga sekarang.

Aku terus berjalan dan berjalan menyusuri jalanan kotor yang penuh dengan sampah dan tikus got ini, hingga akhirnya sampailah aku di gang tempat ketika ayah terkena sabetan parang dua orang tak dikenal dua puluh enam tahun silam. Di sana ada seorang lelaki hampir tua yang tengah duduk di atas beton bekas bangunan yang telah runtuh. 

Aku mendekatinya, Ia tampak kaget ketika menyadari ada orang yang datang. Wajahnya lusuh seperti penuh dengan masalah hidup yang tak kunjung usai. Kemudian aku memberanikan diri berkenalan dengannya. Namanya Kimin. Ketika saya tanya apa yang sedang ia lakukan di sini, dia tak menjawabnya. Dia malah bercerita mengenai keluarganya yang telah pindah ke kota lain meninggalkan dia sendiri.

“Kenapa tidak ikut pindah bersama keluarga yang lain?” tanyaku padanya.

“Saya tidak bisa. Terlalu banyak kenangan di kota ini” jawabnya.

Kami mengobrol agak lama di gang itu. Sampai tak terasa malam sudah larut. Kimin pamit pulang ke rumahnya. Katanya rumahnya tidak jauh dari sana. Tinggallah saya sendiri duduk di atas reruntuhan tembok. Ketika Kimin telah jauh berjalan dan sudah hilang di balik bangunan, tiba-tiba seseorang datang menghampiriku. Dia bertanya padaku apakah aku mengenal pria yang aku ajak mengobrol tadi, pria yang ia maksud adalah Kimin.

“Baru saja saya kenal” jawabku. “Memangnya kenapa?”

“Dia itu orang gila. Menurut cerita orang-orang, dulu ia ikut menjadi pelaku kerusuhan dan banyak membunuh orang. Salah satu korbanya di gang ini. Korbanya seorang bapak yang baru pulang dari masjid bersama seorang anaknya. Setelah kejadian itu ia merasa sangat bersalah, makanya dia sering duduk di sini melamun sendirian menyesali perbuatannya itu”

Mendengar keterangan itu, darahku seakan berhenti mengalir. Pikiranku langsung melayang ke kejadian malam naas dua puluh enam tahun yang lalu. Ketika ayah menggandeng tanganku dan berjalan tergesa-gesa sepulang dari masjid bersamaku dulu.

Konawe, 31 Mei 2018