Manusia tak pernah memilih terlahir dari keluarga kaya atau miskin, terlahir di lingkungan yang baik atau buruk. Manusia juga tak pernah memutuskan dari siapa ia hendak dilahirkan. 

Menurut Heidegger sang filsuf kelahiran Jerman, manusia itu sebenarnya sebuah “keterlemparan” (Geworfenheit). Manusia terlempar begitu saja ke dunia lalu berjuang dan bertanggungjawab terhadap hidup yang sebenarnya jauh dari angan dan kehendaknya sendiri. Ia harus terampil menenun hidupnya bersama segala sesuatu yang melingkupinya hingga kematiaanya.

Fakta ini juga yang membuat manusia itu sangat elastis. Ia bisa hidup di mana saja, dengan siapa saja dan dalam keadaan apa saja. Dengan lain kata fakta keterlemparannya membuat ia mudah beradaptasi. 

Menurut Imanuel Kant, manusia itu seperti kertas kosong (tabula rasa). Kertas yang dalam kenyataannya tak pernah terisi penuh. Mungkin kertas raksasa. Maka manusia dalam hidupnya seperti menanggung sebuah mega proyek yang nyatanya tak akan pernah rampung. Ia selalu punya ide untuk melakukan ini dan itu. Ia semacam dalam dirinya telah dikaruniai kelebihan tertentu untuk meramuh hidupnya agar bisa bertahan.

Di sisi yang lain, sebagaimana dikatakan oleh Thomas Hobbes, manusia adalah serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Bahkan dalam hidupnya, manusia selalu dalam kancah perang. Ia berperang melawan semua (Bellum omnium contra omnes).

Dalam bahasanya Charles Darwin, perang ini terjadi karena hidup manusia seperti berada di hutan rimba yang kriteria utamanya yang kuat menang dan berkuasa. Dengan lain kata manusia harus kuat jika ingin bertahan apapun bentuk dan situasinya. Sebab persaingan antar manusia lebih kejam dari persaingan antar binatang. 

Bila dua ekor anjing saling menggigit karena memperebutkan tulang tidak sampai pada titik saling membunuh. Biasanya salah satu anjing akan menghentikan aksinya jika melihat lawannya mulai menyerah. Namun hal ini berbeda dengan manusia. Sebab ketika sesamanya semakin lemah justru semakin ditindas, ditendes, ditindih hingga tak berdaya bahkan musnah.

Perang semacam ini paling nyata terjadi di ibu kota. Walaupun kota bukanlah hutan rimba tetapi sebagaimana Desmond Morris katakan “kota bukan hutan beton, kota adalah kebun binatang manusia”[1]. Sebagai kebun binatang maka pluralisme menjadi panorama yang tidak bisa dihindarkan. 

Walaupun demikian, ketertutupan adalah fakta yang tak bisa ditepis. Sebagaimana arti etimologisnya, kota berasal dari bahasa sansakerta “kotta’’ yang dalam ungkapan lain “kita” atau “kuta” yang artinya kubu atau perbentengan[2].

Kota memang kebun binatang manusia tetapi mereka hidup dalam zona masing-masing sebagaimana kebun binatang pada umumnya. Dengan lain kata kota sebagai kebun binatang manusia menunjukkan bahwa ada bersama tetapi tidak selalu bersatu. Warga miskin kota pada umumnya adalah mereka yang tersingkir secara sosial politik, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain sebagainya. 

Sesungguhnya mereka mempunyai kekuatan untuk bersuara tetapi riuhnya kota membuat suara mereka tenggelam. Untuk alasan semacam ini eksistensi mereka tidak pernah dianggap ada. Dari perlakukan seperti ini saja mereka sudah ditempatkan sebagai yang lemah. Maka mereka sangat rentan terhadap segala sesuatu bahkan menjadi miskin saja dianggap sebagai sebuah kesalahan.

Hal yang perlu diingat bahwa kota memang nama yang tidak bisa diragukan lagi dalam urusan kemajuan. Seiring dengan itu harus diingat semakin maju sebuah kota semakin terbelah kota itu. Kota menjadi terbelah karena persaingan. Kota terbelah karena selektifitasnya yang tinggi. Kota terbelah karena hanya menjadi terminal yang mempertemukan beragam manusia dari pelbagai sudut geografis namun tak saling kenal.

Kenyataan kota yang terbelah menyisakan tanya apa sebenarnya manusia itu? Keterbelahan kota paling spesifik tampak dalam hal akses untuk mendapatkan kesempatan kerja, pendidikan dan juga kemampuan ekonomi. Hasilnya ada orang kaya raya disatu sisi juga ada orang miskin di sisi yang lain. Ada bangunan pencakar langit juga bangunan reot nan kumuh yang tepat menempati pinggir-pinggir sungai atau berdiri rapuh di balik tembok-tembok raksasa. 

Mereka inilah yang sangat rentan terhadap pelbagai masalah perkotaan. Mereka akan menjadi kambing hitam untuk persoalan urbanisasi, persoalan masyarakat industri, persoalan transportasi, persoalan pedagang kaki lima, persoalan anak jalanan, persoalan penganguran, kriminalitas, kenakalan remaja, kemiskinan dan lain sebagainya.

Dengan demikian kota dengan pelbagai kemajuannya meninggalkan rasa traumatis yang dalam bagi masyarakat miskin. Pelbagai bangunan megah nan mencakar langit tidak serta merta menjadikan orang-orang di sekitarnya mengalami nasib yang sama. Justru yang miskin semakin miskin dan yang kaya semakin kaya. 

Maka kemegahan adalah sisi lain yang mengiris manusia sebab di sana tampak bagaimana manusia tidak mempedulikan sesamanya. Tidak pernah dilarang untuk orang menjadi kaya tetapi mengabaikan sesama yang miskin dan terlantar di samping kelimpahan dan kemewahan adalah sebuah tanda kematian hati nurani.

Menjadi Miskin Pun Disalahkan

Sesungguhnya menjadi warga negara Indonesia adalah sebuah kehormatan. Menjadi warga DKI Jakarta adalah sebuah kebanggaan. Menjadi warga miskin Indonesia adalah sebuah ironi karena negara ini dianugerahi Tuhan dengan kekayaan alam yang melimpah. 

Menjadi warga miskin di DKI Jakarta adalah sebuah ketidakadilan karena Jakarta adalah kota metropolit, pusat kemajuan, pusat dari catur ekonomi dan barometer kemajuan bangsa. Maka berada di Jakarta sebagai warga miskin adalah sebuah keterlemparan, sebuah kenyataan yang tidak dikehendaki tetapi harus dihidupi dan harus dipertanggungjawabkan.

Di tengah pelbagai keterbelahan ini, warga miskin pun harus berjuang untuk bertahan karena pelbagai ancaman yang sifatnya tidak lagi menyerang perorangan tetapi kelompok. Hal ini tampaknya alamiah tapi sesungguhnya hasil endapan sikap egoisme manusia di kota dan sistem pemerintah yang tidak bela warga. Berikut ini adalah beberapa contoh ancaman yang terus menghantam kehidupan warga miskin di kota Jakarta.

Pertama, Banjir. Kebanyakan warga miskin di kota menempati area di pinggir kali. Mereka tidak bisa akses ke lokasi yang aman. Maka setiap tahun mereka selalu dilanda banjir. Usaha mereka bak menjaring angin. Setiap kali banjir harta benda mereka terbawa banjir bahkan nyawa mereka melayang. Kedua, Penggusuran. Menjadi warga miskin saja dipermasalahkan. Apalagi menempati area di pinggir sungai, kumuh dan lain sebagainya. Mereka dianggap sebagai antithesis bagi kota Jakarta yang metropolit.

 Untuk itu mereka digusur dan sebagian masih dalam ancaman yang tak berkesudahan. Penggusuran dianggap sebagai solusi untuk tata kota. Manusia pun digadai atas nama sebuah kemajuan. Ketiga, pembangunan Rumah susun. Rumah susun tampaknya sebuah solusi namun nyatanya hanyalah sebuah modus untuk mengusir warga miskin dari kota. 

Pasalnya, warga yang dipindahkan ke rumah susun tidak sanggup membayar karena tidak mempunyai uang. Mereka dipindahkan tanpa disediakan lapangan kerja. Dengan lain kata rumah susun adalah sebuah langkah tanpa solusi karena memindahkan satu masalah ke tempat yang baru. Akhirnya mereka diusir lagi dari rumah susun (pengusuran kedua).

Terlepas dari pelbagai ancaman ini, harus juga dianalisa mengapa orang miskin di kota metropolit atau di mana saja tetap miskin. Beberapa analisa di bawah ini bukanlah sebuah titik final untuk mengukur nasib warga miskin. Dengan demikian, analisa yang bertolak dari pengalaman ini bukan dengan maksud supaya orang miskin dipersalahkan tetapi dimaksudkan supaya setiap orang, baik orang miskin maupun pihak-pihak yang peduli entah LSM, organisasi kemanusiaan maupun pemerintah agar mempunyai pandangan baru terhadap masalah kemiskinan dan orang miskin yang menjadi musuh universal kemanusiaan ini.

Pertama, Rasionalitas kaum miskin. Salah satu kriteria seseorang diklasifikasikan sebagai miskin adalah faktor ekonomi. Faktor ekonomi yang dimaksud bukan saja tentang berapa penghasilan yang diperoleh tetapi bagaimana mengelolah keuangan. 

Dalam hal pengelolaan ini warga dinilai gagal. Dengan lain kata warga menjadi miskin karena tidak pandai mengelola keuangan. Sebagai contoh, warga miskin tidak mempunyai kebiasaan untuk memikirkan tentang hari esok. Mereka tidak berpikir tentang bagaimana menabung uang. Ini adalah fakta sebagian besar warga miskin. Untuk alasan semacam ini, maka mereka dianggap sebagai irasional. Namun bila masuk lebih dalam, penghayatan hidup seperti ini sangat rasional bagi warga miskin.

Agak sulit bagi warga miskin untuk memikirkan hari esok selain karena mereka hidup dalam suatu lingkungan yang dengan lapang dada menerima hidup apa adanya juga karena untuk bertahan hidup satu hari saja sangatlah susah. Hidup mereka dideterminasi oleh pekerjaan yang mereka geluti. Dengan sumber daya manusia yang terbatas, mereka pun hanya bisa mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang hanya untuk hidup satu atau dua hari. Lantas, logika mereka sederhana untuk apa hidup untuk hari esok jika untuk bertahan hari ini saja sangat susah.

Dengan demikian, sesungguhnya logika warga pinggiran tidaklah irasional. Mereka sangat rasional karena berkaca pada kenyataan sosial-ekonomi yang mereka hadapi. Sikap pragmatislah yang menjadi tolak ukur sesuatu sebagai rasional. 

Di balik ini hal yang mau ditekankan adalah warga membutuhkan kehadiran pihak luar yang memberdayakan dengan cara membuka jalan pikiran dan menawarkan solusi. Mereka tidak bisa diadili dengan memberi stigma. Hal ini sama sekali tidak membantu kecuali semakin membuat mereka terperosok ke dalam tubir kegelapan dalam mencari jalan keluar.

Kedua, Pekerjaan vs Pendidikan. Bukan rahasia lagi bila menjadikan pendidikan sebagai solusi bagi pelbagai persoalan kemiskinan karena orang mampu diajak berpikir logis, kritis dan sistematis. Namun tampaknya pendidikan bukanlah solusi yang sungguh berada di level pertama dari kebutuhan warga pinggiran. Terbukti bahwa banyak warga miskin yang rendah tingkat pendidikannya. Padahal bila ditelisik lebih ditemukan ada banyak sekolah gratis yang ditawarkan oleh pemerintah dan tidak jauh dari tempat tinggal warga. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Rupanya warga mempunyai cara pandangan tersendiri. Mereka lebih membutuhkan pekerjaan daripada pendidikan. Hal ini bukan berarti mereka tidak mengetahui bahwa pendidikan itu penting. Mereka sangat paham akan hal ini. Namun ketika dihadapkan pada pilihan untuk bekerja dan melanjutkan pendidikan mereka memilih bekerja karena sangat berkaitan dengan keberlangsungan hidup mereka.

Pada umumnya setelah menyelesaikan pendidikan dasar mereka mulai bekerja karena hendak membantu orangtua dan tidak mau menjadi beban bagi keluarga. Dengan lain kata mereka ingin menjadi pribadi mandiri.

Bekerja pada hakekatnya adalah baik. Secara sosial-moral, bekerja tidak hanya untuk mengaktualisasi diri tetapi juga sebuah tanggungjawab moral terhadap orang-orang yang dicintai semisal bekerja untuk menghidupi keluarga. Namun hal ini tidak akan memberikan titik terang bagi fenomena kemiskinan. Sebab, bekerja dengan modal sumber daya manusia yang terbatas hanya akan mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang kecil. Dengan demikian masyarakat miskin tetap terperangkap dalam lingkaran setan kemiskinan.

Ketiga, melemahnya kekerabatan di kota. Warga miskin kota akan tetap terperangkap dalam lingkaran yang sama karena tidak saling kenal atau tidak ada relasi kekerabatan di kota. Kota memang mengumpulkan ribuan bahkan jutaan manusia. Hampir setiap saat jalanan tak pernah sepi oleh mobilitas manusia. Namun lebih banyak tidak saling kenal. Siapa yang mengenal pengamen di pinggir jalan, di Kopaja, di Metromini? 

Siapa yang kenal penjual tissue di lampu merah? Siapa yang mengenal pemulung di pinggir jalan? Tak ada yang kenal. Maka benar pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang. Karena tak saling mengenal atau tepatnya tidak ada hubungan kekerabatan antara orang kaya dan orang miskin maka yang miskin akan tetap tinggal miskin dan yang kaya akan tetap kaya.

Keempat, Korban Kapitalis: Industri rokok. Bertolak dari pengalaman yang saya lihat, warga miskin adalah perokok aktif. Di setiap perkampungan warga selalu saja ditemukan betapa banyaknya puntung rokok yang dibuang. Bahkan tampak betapa rokok menjadi kebutuhan pokok mulai dari laki-laki dan perempuan dari usia remaja hingga orangtua. Bisa dikalkulasi bila setiap orang sehari merokok sebungkus dengan harga Rp. 16.000 selama 30 hari dan seterusnya. Berapa jumlah uang yang dihamburkan sia-sia dengan investasi utamanya adalah penyakit kronis di masa depan.

Dengan demikian pengeluaran warga untuk membeli rokok menempati posisi kedua setelah kebutuhan akan beras. Maka jelas, kebutuhan akan rokok mengeser kebutuhan akan kesehatan dan pendidikan. Bahkan dikatakan, di Indonesia rokok menjadi kebutuhan utama warga miskin selain kebutuhan pokok seperti beras. Rokok memang dekat dengan kaum miskin dan kemiskinan dekat dengan rokok[3]. Dengan demikian, posisi kaum miskin semacam turut didesign oleh kaum kapitalis untuk tetap miskin dan kerdil.

Menawarkan Solusi: Belajar dari LSM Fakta

Adalah LSM Fakta (Forum Warga Kota Jakarta) yang mempunyai panggilan untuk membantu warga miskin kota. LSM yang dibentuk pada 30 Mei tahun 2000 ini memang berkonsentrasi untuk menyuarakan suara warga miskin yang tidak sampai ke telinga pemerintah. Selain menggonggongi pemerintah LSM ini juga memberikan alternatif lain bagi warga sembari tetap mengajak pemerintah untuk bekerjasama dengan aktor utama pembangunan adalah warga sendiri. Berikut adalah kegiatan yang dilakukan oleh LSM Fakta.

Pertama, Membangun kampung warna-warni tanpa asap rokok. Bertolak dari realitas warga pinggiran yang selalu dianggap kumuh, kotor dan merusak keindahan kota, LSM Fakta menawarkan usaha perbaikan kampung. Fakta memberikan sosialisasi kepada warga untung ruginya menata kampung. Konsep penataan kampung adalah kampung warna-warni plus tanpa asap rokok. Dari konsep ini sebenarnya Fakta menjawab dua persoalan warga. 

Pertama, kampung warga menjadi indah, rapih, bersih, nyaman dan tentu meminimalisir ancaman penggusuran. Kedua, dengan konsep tanpa rokok, Fakta mau membantu warga untuk sadar akan bahaya rokok bagi kesehatan dan ekonomi warga. Hasilnya warga sepakat dan mereka menjadi polisi bagi perkembangan kampung mereka sendiri.

Kedua, Mendirikan Credit Union Fakta. Bertolak pada kenyataan warga yang tidak bisa mengelolah keuangannya dengan baik, Fakta menawarkan usaha Credit Union. Usaha ini memang dikhususkan untuk warga miskin. Mereka diminta untuk manabung terlebih dahulu dan setelahnya akan diberi pinjaman sesuai dengan kapasitas tabungannya. 

Setelah itu, ia harus mengembalikan uang pinjaman itu dan akan dihitung dalam saldo tabunganya. Dengan cara ini, warga dibantu untuk mulai menyisihkan sebagian uangnya. Dengan lain kata, Fakta secara perlahan mulai mengajarkan kepada warga bahwa masalah kantong kering hanyalah masalah manejemen keuangan saja. Terbukti sampai sejauh ini, ada warga yang mempunyai saldo belasan juta.

Ketiga, Pengolahan barang bekas. Warga miskin di Jakarta adalah mereka yang tinggal di bantaran kali. Sampah hampir menjadi pemandangan umum yang ada di sana. Sebagai kota metropolitan, Jakarta sesungguhnya sedang dalam krisis sampah. Untuk setiap harinya menurut Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Isnawa Adji mengatakan DKI Jakarta merupakan kota dengan volume sampah terbesar 6.500-7.000 ton per hari. Volume tersebut sangat tinggi jika dibandingkan dengan kota-kota besar di Eropa yang hanya menghasilkan sampah1.500-2.000 ton per hari[4].

Ironisnya yang menjadi korban adalah warga miskin. Pelbagai sampah yang tidak dikelola dengan baik mengapung di pinggir kali dan singgah di huniaan warga. Solusi untuk hal ini adalah mengajarkan warga bagaimana mengolah sampah yang adalah beban menjadi berkah. 

Fakta bersama Tim mengajarkan kepada warga ketrampilan mengolah sampah atau barang bekas menjadi kalung tasbih, kalung Rosario, tas, gantungan kunci dan lain sebagainya. Semua kerajinan warga ini kemudian dipromosikan dan dijual untuk keuntungan warga. Dengan cara ini Fakta mau menunjukan bahwa ada beragam cara dalam menghasilkan uang.

Akhir kata: Sebuah Ajakan

Kemiskinan adalah permasalahan kemanusian yang paling menusuk nurani. Kemiskinan adalah ancaman sosial yang menodai kemanusian. Kemiskinan menyebabkan orang terkapar sampai ke dasar-dasar kehidupan yang acapkali membuat seseorang tidak layak sebagai manusia. Namun, sebenarnya menjadi orang miskin bukanlah takdir. Itu hanyalah sebuah kesalahan teknis semata. Orang miskin hanya tidak tahu jalan keluar karena pelbagai kekurangan yang dimiliki. Maka mereka butuh tangan-tangan baik dari orang-orang yang peduli.

Dengan demikian masalah kemiskinan di dalamnya telah mengandung ancaman baik secara internal maupun eksternal. Dari segi internal, kemiskinan melemahkan manusia untuk akses ke pelbagai fasilitas seperti ilmu pengetahuan maupun teknologi. Lebih dari itu, kemiskinan menyebabkan orang secara pribadi menginternalisasi dalam diri perasaan kalah dalam kancah persaingan.

Dari segi eksternal, kemiskinan menempatkan seseorang di posisi rentan terhadap pelbagai penindasan karena mudah untuk dimonopoli, dipolitisasi dan diekonomisasi oleh kalangan atas baik pengusaha maupun pemerintah. Dengan demikian, kemiskinan seharusnya menjadi sebuah panggilan kemanusian universal bagi semua orang untuk lebih solid berkomunal atau bersosial untuk meminimalirnya sehingga kemanusiaan tidak teriris.

[1] Desmond Morris, The Human Zoo, 1969

[2] Dr. Adon Nasrullah Jamalludin, Sosiologi Perkotaan, CV Pustaka Setia, Jawa Barat, 2015, 37

[3] https://tirto.id/rokok-dan-kemiskinan-bGi9

[4] http://www.beritasatu.com/megapolitan/338886-jakarta-hasilkan-7000-ton-sampah-per-hari.html