Jelang Pilkada DKI, publik selalu disajikan banyak hal yang menurut hemat saya "useless" dan cenderung "kotor". Orang-orang yang berseberangan akan kepentingan politiknya seenaknya melancarkan serangan-serangan demi menjatuhkan lawan politiknya. Bahkan tak sedikit diantara mereka menggunakan agama sebagai senjata untuk menjatuhkan lawan politik dengan berbagai propaganda.

Baru-baru ini heboh dengan berita yang menuduh Ahok telah melakukan penistaan agama karena kalimat yang ambiguitas.

Diluar itu semua, saya melihat bahwa kepemimpinan Ahok yang sudah teruji ini akan menarik kembali simpati rakyat DKI. Akan tetapi kami warga luar DKI terkhusus warga Sumut merasa membutuhkan Ahok dengan program-program serta komitmennya tersebut.

Saat ini Kota Medan dipenuhi banyak masalah, mulai pembegalan,perampoan,narkotika,banjir hingga kemacetan.

Saya tak bisa mengerti mengapa pejabat-pejabat di Sumut ini terkesan lambat dalam bekerja.

akar masalah di Medan sebenarnya tidak se kompleks masalah di Daerah Khusus Ibukota Jakarta tetapi penanganan yang tidak berjalan dengan baik membuat banyaknya timbul masalah itu.

Kami sudah tidak yakin lagi dengan pemimpin terutama gubernur Sumut.

Bisa kita bayangkan jika kita melihat tahanan KPK yang berasal dari Sumatera Utara bisa membentuk pemerintahan di tahanan KPK.

Mengapa demikian? Bayangkan mulai dari pengacara,anggota Dewan hingga gubernur ada disana. Tak hanya itu mungkin untuk menghindari dualisme kepemimpinan pemerintahan SUMUT di KPK perlu adanya pemilukada karena gubernur kami yang terhormat sudah dua yang masuk kesana.

Miris memang, tapi itulah kenyataan.

SUMUT yang terkenal dengan Semua Urusan Mesti Uang Tunai akan berubah menjadi Semua Urusan Mudah dan Transparan jika Ahok yang memimpin kami.

Saya berharap Pak Ahok kalah dalam Pilkada DKI dan berharap jadi Gubernur di SUMUT supaya kami bisa merasakan bagaimana kepemimpinan yang transparan dan nyata pembangunannya.