Kosmologi merupakan ilmu pengetahuan tentang alam ataupun dunia. Istilah ‘dunia’ di sini sebenarnya ialah beraneka ragam, baik dalam hidup sehari-hari maupun dalam ilmu pengetahuan. 

Secara etimologi istilah Yunani dari kosmologi berasal dari kata kosmos dan logos. Kosmos berarti susunan atau ketersusunan yang baik dan logos berarti sesuatu yang diutarakan atau ilmu. 

Kosmos pertama kali digunakan oleh Phytagoras (580-500 SM) dan diperkenalkan kembali oleh Plato (427-347 SM). Istilah kosmologi pertama kali diperkenalkan pada tahun 1731 oleh Christian Wolff (1679-1754). 

Lawan kata dari chaos ialah keadaan kacau balau. Kata kosmos ini digunakan untuk menyebut segala kejadian di alam semesta atau jagad raya yang penuh dengan keteraturan dan keharmonisan.

Dalam pengertian luas disebut macrocosmos yang berarti suatu susunan keseluruhan atau kompleks yang dipandang dalam totalitasnya atau sebagai suatu keseluruhan yang aktif serta terstruktur.

Arti lain dari makrokosmos adalah alam semesta sebagai sebuah keseluruhan atau sistem yang terpadu dan tunggal. Lawan dari makrokosmos adalah microcosmos yaitu bagian kecil dari satu keseluruhan.

Kosmologi mengenai alam semesta juga dikaji pula dalam filsafat hidup masyarakat Jawa. 

Tentu pandangan sebagai suatu bentuk pemikiran dan pemahaman dengan latar belakang yang beragam, orang-orang Jawa memiliki pandangan tersendiri mengenai realitas alam semesta yang harmonis.

Pandangan tersebutlah yang akan penulis kaji dan perdalam dalam makalah ini yakni perihal kosmologi menurut pandangan orang Jawa dalam sebuah tradisi. 

Tradisi tersebut sering dilakukan oleh masyarakat Jawa yakni tradisi sedekah atau tradisi ‘memberi’. Tradisi sedekah yang ingin dikaji oleh penulis lebih mengacu pada tradisi sedekah laut.

Tradisi sedekah laut sangat menekankan hubungan antara Tuhan sebagai Sang Pencipta dan Pemberi segala yang ada di dunia, kemudian manusia, serta alam sekitar sebagai tempat yang memberikan wadah dan kehidupan bagi manusia.

Tak hanya itu, sedekah laut juga sangatlah dekat dengan kehidupan penulis sendiri mengingat latar belakang penulis yang juga bertempat tinggal di dekat pesisir pantai Utara dengan tradisi dan adat istiadat Jawa yang begitu kental.

Mengingat hal tersebut, bagaimanakah relevansi kosmologi Jawa dalam tradisi sedekah laut?

Kosmologi Jawa

Menurut pandangan kosmologi Jawa, alam semesta merupakan ciptaan Tuhan. Alam semesta diciptakan terkait dengan hidup manusia, terutama dengan unsur-unsur kehidupan. Supaya hidup manusia selamat ia harus bisa memahami alam semesta sebagai simbol kekuatan dan pemberian dari Tuhan. 

Upacara adat istiadat dan tradisi Jawa selalu berhubungan erat dengan tiga hal penting yang saling terkait, yakni kehidupan manusia, alam, dan Tuhan dalam bentuk agama atau kepercayaan. 

Berdasarkan ketiga hal tersebut dapat dikatakan bahwasanya masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi keharmonisan dan hubungan dinamis antara manusia, alam, dan Tuhan.       

Masyarakat, alam semesta, dan alam adi kodrati atau sering disebut sebagai alam roh/makhluk halus, merupakan ruang kesatuan yang menjadi kerangka acuan pandangan spontan manusia Jawa.           

Hubungan ideal antara mikrokosmis (jagad alit) dengan makrokosmis (jagad ageng) selalu mengarah pada sebuah kesempurnaan dalam hidup. 

Mikrokosmis (jagad alit) merupakan sumber pengetahuan atas alam semesta yang terdapat dalam masing-masing batin manusia, sedangkan makrokosmos (jagad gedhe) merupakan keseluruhan alam semesta itu sendiri.

Pernyataan tersebut setali tiga uang dengan prinsip sufistik dari Prabu Yudistira yakni mencapai kesempurnaan hidup (Kasampurnaning Dumadi).

Untuk dapat mencapai kesempurnaan hidup (kasampurnaning dumadi) manusia perlu untuk melaksanakan catur lampah (empat jalan) yakni meliputi, hamemayu hayuning pribadhi (menjaga kesehatan jiwa dan raga pribadi), hamemayu hayuning kaluwarga (menjaga keharmonisan di dalam keluarga), hamemayu hayuning sasama (menjalin keharmonisan dan kedamaian tanpa memandang ras, suku, agama, dan golongan dalam persaudaraan antar manusia), dan hamemayu hayuning bawana (menjaga perdamaian dunia).

Salah satu yang paling penting dari kewajiban masyarakat Jawa ialah menjaga keharmonisan dan perdamaian alam semesta dan dunia (hamemayu hayuning bawana).

Sebab dengan kewajiban tersebutlah, masyarakat Jawa akan dapat menjaga hubungan terbaiknya dengan alam yang telah memberikan sumber kehidupan bagi manusia, sebab alam merupakan bentuk ciptaan Tuhan.

Melalui dasar kewajiban tersebut, manusia Jawa mengadakan pelbagai adat istiadat serta tradisi sebagai tanda ucapan syukur dan terima kasih kepada Tuhan dan alam semesta atas karunia yang telah diberikan bagi manusia.

Oleh sebab itulah, segala ucapan syukur kepada Tuhan dilakukan oleh masyarakat Jawa selalu berhubungan langsung dengan alam sekitarnya.

Relevansi Kosmologi Jawa dalam Tradisi Sedekah Laut

Unsur kosmologi Jawa pada dasarnya ialah keselarasan dan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan. Unsur ini nampak dalam tujuan dari diadakannya tradisi sedekah laut yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa yang tinggal di pesisir pantai Utara.

Sedekah laut berasal dari kata sedekah yang berarti memberikan sesuatu yang dilakukan di daerah pesisir laut. Ada banyak sebutan untuk tradisi ini di setiap daerah, mulai dari Jolen di daerah Cilacap, Hajat Dalem Labuhan di daerah Yogyakarta, dan sedekah laut itu sendiri yang tersebar di seluruh pesisir pulau Jawa. 

Dalam tradisi sedekah laut sangatlah nampak sekali unsur-unsur kosmologi dalam pandangan masyarakat Jawa. Tradisi ini seringkali diadakan setiap tahun sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada Tuhan atas keselamatan para nelayan saat bekerja sepanjang tahun. 

Tradisi sedekah laut memiliki tujuan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan dan alam semesta secara khusus ialah laut yang dilakukan oleh masyarakat Jawa yang tinggal di pesisir pantai.

Ungkapan syukur ini dilakukan karena Tuhan telah memberikan hasil tangkapan berupa ikan dan hewan-hewan laut sebagai hasil tangkapan dan sumber makanan masyarakat Jawa yang tinggal di pesisir pantai.

Dalam kosmologi Jawa juga mengakui adanya hubungan relasi harmonis tak sekadar antara manusia, alam semesta, dan Tuhan, melainkan pula dengan makhluk-makhluk halus atau mereka yang tinggal di alam adi kodrati.

Hal ini juga terdapat dalam tradisi sedekah laut. Sebab menurut pandangan masyarakat Jawa yang tinggal di pesisir pantai, laut merupakan sebuah rumah yang besar yang dihuni oleh penjaga laut dan juga rumah para arwah sebab banyak abu kremasi mayat yang dibuang di laut.

Manusia Jawa juga memiliki sebuah pandangan mengenai kosmologi yakni adanya mikrokosmos (jagad alit) dan makrokosmos (jagad gedhe). Kedua hubungan ini mengarah pada sebuah kesempurnaan hidup. 

Mikrokosmos (jagad alit) pada dasarnya merupakan kehidupan religius dan batin manusia itu sendiri.

Hal ini tercermin dalam tradisi sedekah laut yakni bahwa masyarakat Jawa mempunyai sebuah keyakinan akan relasi antara dirinya sebagai manusia dengan Tuhan.

Keyakinan dan kepercayaan ini menjadi bentuk adanya religiusitas dan spiritualitas yang muncul dan mengakar dalam masing-masing pribadi masyarakat Jawa.

Ungkapan atas kepercayaan ini membentuk sebuah relasi bukan hanya dalam mikrokosmos (jagad alit) yakni dirinya sendiri, namun relasi dengan makrokosmos (jagad gedhe) sebagai naungan tempat mereka hidup dan yang memberikan kehidupan bagi mereka. 

Masyarakat Jawa juga memiliki pandangan hidup dari prinsip sufistik Prabu Yudistira yakni hidup harus mencapai kesempurnaan (kasampurnaning dumadi). 

Untuk dapat mencapai kesempurnaan hidup manusia Jawa perlu untuk melakukan empat jalan hidup orang Jawa (catur lampah) yang menghubungkan relasi antara manusia, sesamanya, alam, dan Tuhan.

Kesimpulan

Kosmologi merupakan ilmu yang mempelajari alam dan dunia serta segala isinya. Dalam pandangan masyarakat Jawa kosmologi merupakan sebuah konsep mengenai kehidupan di dunia yang saling terjalin antara manusia Jawa dan kepercayaan akan kekuatan supranatural dari alam semesta dan Tuhan.

Alam semesta menurut kosmologi Jawa merupakan tempat kehidupan bagi manusia yang diciptakan oleh Tuhan. Maka dari itu, untuk menjaga keselamatan diri dan keharmonisan bersama di dunia, manusia memiliki kewajiban untuk menjaga perdamaian antara dirinya sendiri sebagai manusia dengan alam dan Tuhan.

Cara yang dilakukan oleh masyarakat Jawa untuk dapat menjalin relasi harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan ialah dengan mengadakan upacara adat dan tradisi sebagai ungkapan syukur dan terima kasih kepada alam semesta sebagai sumber kehidupan dan Tuhan sebagai pemberi kehidupan.

Usaha tersebut telah tercermin dalam pelbagai adat dan tradisi yang beragam dalam kehidupan masyarakat Jawa dan salah satunya ialah dalam tradisi sedekah laut.

Menurut pandangan penulis, menjaga keharmonisan relasi antara manusia, alam semesta, dan Tuhan merupakan bentuk yang baik yang telah tertanam dalam pandangan hidup manusia Jawa.