Baru-baru ini santer berita koruptor tertangkap tangan oleh KPK menerima uang haram hasil suap. Bukan main-main, mereka yang tertangkap adalah bupati, walikota, atau wakil rakyat.

Berita termutakhir, Bupati Cianjur dan kroni-kroninya ditangkap oleh komisi antirasuah karena kedapatan menerima uang haram. Yang menjadi perhatian lebih bukan lagi pada bupati sebagai tersangka, melainkan tempat "bertransaksi". Penerimaan fulus tersebut dilakukan di halaman depan Masjid Agung Cianjur. Iya, di halaman rumah ibadah.

Sebenarnya bukan berita baru lagi mengenai korupsi yang dibungkus dengan jubah-jubah agama. Pelaku mungkin merasa terlindungi dengan bersembunyi di balik simbol-simbol sakral. Tinggal berteriak "dizalimi" dan ditambah mengucapkan kata-kata berlafal religius ketika tertangkap, pelaku merasa terlindungi. 

"Masa sih orang alim itu maling? Jangan menzalimi ulama." Begitu pikir sebagian orang. Padahal mereka hanya bermodal cangkem yang fasih mengucap kalimat-kalimat tertentu. Orang-orang itu tertipu.

Saya tidak tahu bagaimana cikal bakal korupsi berlabel agama itu bisa terjadi. Agama dan simbol-simbolnya yang begitu sakral, dipermainkan oleh orang-orang yang justru menyerukan ajaran agama ditegakkan; di luar nalar dan akal sehat. Ada benarnya apa kata pakar bahwa biaya kampanye yang mahal menjadikan pejabat terpilih untuk mengembalikan modal melalui proyek-proyek atau menyunat anggaran-anggaran tertentu.

Ada satu kejadian. Saya mengenal seseorang dari suatu daerah yang sedang bersiap dan berancang-ancang untuk maju menjadi caleg. Beliau berseloroh bahwa dirinya dipaksa maju dan diusung oleh salah satu partai yang berasaskan agama.

Lama tak pernah bersua, ada yang bilang beliau gagal menjadi caleg karena tidak lolos pada tahap tes kesehatan, mengingat usia beliau yang sudah termasuk sepuh. Tetapi belakangan betapa terkejutnya ketika saya melihat wajah beliau terpampang jelas dan nama beliau tercetak tegas dengan embel-embel titel terhormat ada pada baliho besar yang tersebar di berbagai sudut kota dan desa.

Bukan apa, saya mengenalnya. Orang jahat? Bukan. Beliau orang baik dan ramah. Rajin salat berjamaah di masjid. Berpenampilan kalem dan religius. Pun begitu juga dengan istri beliau yang concern pada perjuangan dan penegakan panji agama. 

Duh! Saya pernah ngobrol dengan beliau di suatu sore yang syahdu. Beliau berbicara panjang lebar tentang perjuangan yang suaminya dan bapak saya lakukan ketika masih satu kampung dulu. "Berjuang itu harus istiqomah dan ikhlas," katanya. Saya hanya manggut-manggut tak berdaya. 

Suatu hari di lain waktu, ibu bercerita pada saya bahwa caleg tersebut mendatangi bapak di rumah. Sowan katanya. Saya tak tahu apa yang dibicarakan caleg tersebut dengan bapak. Saya tanyakan pada ibu, "Apa dia minta dukungan bapak?" Sambil mengangguk kecil ibu mengiyakan.

Heran. Pertama, kenapa meminta dukungan kepada bapak saya yang bukan siapa-siapa? Tidak banyak pengaruh dan bukan pula pejabat. Mungkin satu-satunya yang berkaitan hanya hubungan pertemanan antara bapak dan caleg tersebut.

Kedua, caleg dan istrinya berkunjung ke rumah dengan membawa 2 kg (killogram) gula pasir. Bukannya mau minta lebih, masa suara dukungan bapak (jika benar meminta dukungan) hanya dihargai 2 kg gula pasir? Itu penghinaan. Bapak mempunyai riwayat diabet. Jadi bapak sedang mengurangi konsumsi gula pasir. Cobak bawa Tropikanaslim. Solusi hidup sehat.

Gemas. Bukannya tak suka, namanya silaturahmi harus tetap dijaga walaupun musiman. Menjaga tali silaturahmi akan memanjangkan usia kita. Begitu kata Pak Yai di kampungku. Bagus itu. Begitulah risiko bersilaturahmi di tahun-tahun politik. Semua kegiatan caleg dicurigai bermuatan politik.

Duh, seandainya saya ada di sebelah bapak waktu itu, ingin rasanya saya bilang ke beliau: "Pak, sebelum nyaleg, mbok ya dikembalikan dulu uang dari anggota-anggota (perkumpulan suatu jenis profesi kerja) yang njenengan kemplang. Situ kan ketuanya."

Ternyata pakaian dan perilaku religius tidak menjamin seseorang bisa terbebas dari tindakan tercela. Lalu bagaimana dengan hamba yang terkutuk ini? Rasanya tetap berpikir waras saja sudah lebih dari cukup.

Pertanyaan saya kepada ibu berlanjut, "Apakah bapak akan memberikan suara untuk beliau atau tidak?" Ibu belum sempat bertanya kepada bapak karena ibu sedang sibuk menyimpan gula pasir di tempat yang aman agar tak tertukar dengan gula jagung.