Enam belas tahun menjadi orang tua tunggal itu pengalamannya sama tebalnya dengan pasangan keluarga yang utuh, ada ayah dan ibu, kalau dibukukan. Tapi hanya satu hal yang membuat saya merasa ngunuuuuu sekali sebagai orang tua tunggal, tanpa partner berumah tangga, adalah korset. Iya, korset.

Sabtu lalu, saya sudah janjian untuk masak-masakkan dengan teman-teman dari komunitas Kebaya Kopi dan Buku (KKB), lembaga nirlaba yang ingin menghidupkan kebaya untuk dipakai dalam berbagai kesempatan dalam keseharian kita.

Keren, kan, kalau masak-masakan dengan kebaya sebagai dresscode-nya? Meski puluhan tahun lalu nenek kita sehari-hari pun memakai kebaya sebagai baju hariannya. 

Kami janjian untuk masak yang bahan bakunya dari pekarangan rumah. Ada kembang telang yang biru warnanya. Bisa untuk mewarnai nasi, atau dibuat infus minuman. Dicampur jeruk, warna biru berubah menjadi ungu. Menarik dan menyegarkan minuman dengan warna seperti ini. Ada juga daun jinten dan daun kari. Enaklah masakannya.

Karena telang menjadi primadona hari itu, beberapa teman akan memakai kebaya warna ungu. “Kebayaku khusus aku dedikasikan untuk kembang telang hari ini,” ujar seorang kawan. 

Saya yang hanya penyuka warna hitam, tak punya banyak pilihan. Untung saja ada sarung longyi dari Myanmar yang warna dasarnya lebih banyak ungu. Masih masuklah, pikir saya. Dipadu kebaya brokat warna putih, tentu cantik.

Dan kebaya putih ini makin indah bila dipadu dengan korset warna senada. Iya, korset. Penahan dada. Dibuat memanjang hingga perut. Dijamin, dengan memakai korset, badan akan langsing dan singset tiba-tiba. Lemak yang mengganggu estetika, lenyap seketika. Saya penganut paham berpakaianlah seserasi mungkin, dijamin suasana hati akan baik sepanjang hari nanti.

Usai mandi, sarung sudah melilit rapi di badan. Nah, tinggal memasang korset dipadu kebaya cantik, bisa segera berangkat. 

Senyum mengembang di wajah saat melilitkan sarung. Begitu pun saat mencoba korset. Perhasil satu kancing paling bawah. Lalu lepas lagi. Saya ulangi belasan kali dan tak berhasil mengaitkan kancing korset dengan sempurna. Senyum sudah hilang di wajah saya. Berganti dengan keringat sebesar jagung berjatuhan di wajah. 

“Mosok sih ndak bisa? Bukankah harusnya mudah. Masang korset gini saja mosok tidak berhasil,” aku dan “aku” ngobrol sendiri di kepala.

Tapi memang nyaris 30 menit, ungkak-ungkek dengan korset ini tidak menghasilkan perkembangan yang berarti. “Nang, tolongin Bunda pasangin korset dong. Caranya, kaitkan dulu pengait paling bawah,” ujar saya memberikan instruksi pada abg di rumah. 

“Kenapa sih harus pakai kain. Repot, kan, jadinya?” gerutu anak lanang saya. 

“Sudah, coba bantu Bunda saja,” kata saya. 

Berkali-kali dia mencoba, tak tak berhasil. “Kekecilan ini korsetnya. Tidak bisa dikancing!” suaranya mulai meninggi karena jengkel. 

“Bisa!” ujar saya. “Ini ukuran Bunda,” tambah saya tak mau kalah.

Dan pertolongan ini tidak seperti yang saya inginkan ending-nya. Gagal. Anak lanang sudah tidak mau bantu, karena memasang korset ini lebih menjengkelkan daripada memasang tali sepatu menurutnya.  

Keringat makin banyak mengalir. Bahkan sampai ke punggung saya. Sementara waktu merambat cepat, dan Yayasan Kebun Raya Indonesia (YKRI) di Ciganjur, tempat yang akan kami tuju itu lumayan jauh dari tempat kami tinggal. Saya nyaris melempar korset dan mengganti dengan kebaya lain yang tidak perlu korset sebagai padanannya.

Yaoloh........, mungkin ini yang paling rumit selama saya hidup tanpa pasangan ya Tuhan. Tanpa partner, ternyata tantangan sebagai orang tua tunggal begitu luar biasa ketika berhadapan dengan korset. 

Saya nyerah ya Tuhan. Biarlah bunga telang tidak berjodoh dengan longyi ungu saya ini ya Tuhan. Saya akan kembali memakai kebaya hitam dan jarik dengan warna gelap saja, seperti biasa yang saya pakai.  

Gerutuan panjang lebar berloncatan di kepala. Saya tidak kuasa menghadapi tantangan korset. Nyerah. Kata yang tidak ada di kamus hidup saya. Tetapi kali ini saya takluk dengan korset putih yang baru pertama kalinya akan saya gunakan ini. 

Saya tahu, menyerah hanya menjadi contoh buruk untuk anak saya. Tetapi saya tak malu mengakui, kalah dengan korset yang melawan ketika saya coba di badan.

Memakai korset lain dengan memakai bh. Kalau memakai bh, kaitnya bisa dikancingkan di depan dada dulu baru diputar ke punggung. Tetapi korset tidak demikian. Ia hanya bisa dipasang dengan cup menyangga buah dada dan pengait di punggung. Titik. Tidak ada cara lain.

Mendekati injury time, saya telepon tetangga. Pada saat seperti  inilah kita perlu pertolongan mereka. 

Mbak Evi datang. Menyelesaikan masalah korset saya hanya dalam hitungan detik. “Yah....tante, kenapa tidak panggil Evi dari tadi untuk bantuin,” ujarnya.

Uhhhhhhhhfffffffffff...... Antiklimaks. Korset putih saya basah oleh keringat. Untunglah tak kelihatan. Dan bener seperti duga saya, pas dipadu dengan brokat putih, akhirnya saya bisa mendedikasikan dandanan untuk bunga telang yang jadi primadona kami hari itu.

Dan saya baru menyadari, persoalan korset ini merupakan masalah terbesar yang saya hadapi ketika tanpa partner berumah tangga. Percayalah. Saya baru saja mengalaminya. Anda jangan coba-coba.