(1)

Dini pagi, aku terjaga, seperti biasa, kuseduh kopi agak manis pada sebuah gelas kaca, kuhirup aromanya dan kali ini beraroma rindu, kuseruput beberapa seruputan, dan rasanya, rasa cinta.

Kupejamkan mata berlama-lama, seraut wajah tergambar dalam benakku, menelisik masuk melalui saluran aliran darahku, merembas ke dalam tulang, dan bermuara dalam palung hatiku terdalam.

(2)

Pagi berikutnya, aku melakukan hal yang serupa seperti pagi-pagi sebelumnya, dan aroma kebap kopi yang kuhirup semakin kental aroma rindunya, dan rasa kopi yang kuseruput itu rasa cintanya semakin kuat mengikat.

Kupejamkan mata berlama-lama, seraut wajah itu kembali datang bertandang, kubuka mata setelah kudengar hand phone yang tergeletak di sampingku berdecit penanda sebuah pesan singkat masuk. Setelah kubuka, sebuah nama tertara, yakni nama pemilik seraut wajah yang datang bertandang dalam benakku tadi itu. Ah, tiada terkira bahagianya aku, pesan singkatku dibalasnya.

(3)

Semenjak perjumpaanku dengannya, pagi-pagiku semakin nyata kebahagiaannya, sebab kepul kopi yang kuhirup selalu beraroma rindu, tak ayal, aku tak mau bila suatu hari nanti kebap rindu ini hilang dariku, dan betapa sengsaranya aku bila pagi-pagiku tak lagi menemui kopi beraroma rindu.

(4)

Perempuan berkerudung hitam itu, binar mata jernihnya yang terlindung dari kacamatanya terpusat pada sebuah novel yang dipegangnya. Namun, ia sontak mengakhiri membacanya, manakala seorang pelanggan datang bertandang.

“Mbak, adakah yang kosong?” kata seorang pelanggan warnet itu.

“Nomor 9 Mas,” jawab perempuan berkerudung hitam sambil mengisyaratkan senyum penuh pelayanan.

Setelah itu, gadis berkerudung kembali mempusatkan pandangannya pada novel yang dipegangnya. Namun, ia kembali mengakhiri membacanya, sebab seorang pelanggan mengakhiri ngenetnya.

“Berapa?” tanya pelanggan.

“3.000 rupiah, Mbak,” jawabnya sambil tersungging ramah.

Tanpa sepengetahuan, perempuan berkerudung hitam, ternyata dirinya ada yang memandangi secara diam-diam, dan yang memandangi tersebut yakni seorang lelaki yang selalu mengenakan topi baret, yang tak lain merupakan salah-satu dari sekian banyak pelanggan warnet itu.

Malam itu, gerimis datang bertandang, hawa dingin menyelinap masuk menembus kulit, hingga menembus tulang, mengigilkan tubuh, menggeletukan gigi. Tampak lelaki yang mengenakan topi baret masuk ke ruang dalam warnet, menghampiri perempuan berkerudung hitam yang sadang mesra dengan novel di tangan.

“Mas mau main? Nomor 9 kosong!” kata perempuan berkerudung hitam dan mengakhiri membacanya.

Namun, lelaki bertopi baret terdiam, dengan raut wajah menampak sedih, membuat heran permempuan berkerudung hitam.

“Aku, butuh seseorang yang mau membaca tulisan-tulisanku,” kata lelaki berbaret pada akhirnya.

“Maukah kamu membacanya?” sambungnya sambil menatap penuh harap.

Tampak, raut wajah perempuan berkerudung hitam sekilas meragu, namun jiwa lembutnya mengharuskan dia tuk menerima permintaan lelaki berbaret tersebut, perlahan ia manggut, mengisyaratkan senyum ketulusan, membuat lega hati lelaki berbaret.

Tanpa kata-kata lagi, lelaki itu membuka resting tas rangkod yang disandangnya, dan memberikan sebundel print out bersampul merah muda, yang berisi kisah tentang dirinya sendiri. Sampul merah muda itu diberikan pada perempuan berkerudung, setelahnya—pria berbaret berlalu begitu saja, bagai angin yang datang dan pergi, tanpa pamit, tanpa permisi.

(5)

Selekas membaca print out merah jambu tersebut, perempuan berkerundung hitam, wajahnya dirum-rum kesedihan. Sebab, ia merasa kisah itu sama dengan kisah dirinya, yakni sebuah kisah—tentang cinta berlumur duka.

Pada suatu malam, lelaki bertopi baret, kembali datang menemui perempuan berkerudung, dan karena malam telah larut maka pengunjung warnet pun kian lengang, selengang jiwa mereka. Mereka pun saling diam untuk sejenak, barangkali di antara mereka saling menerka-nerka perasaan yang dirasakan masing-masing.

“Kenapa engkau memintaku untuk membaca kisahmu?” tanya perempuan berkerudung hitam pada akhirnya.

“Aku hanya ingin, engkau mengenalku dari kisah-kisahku,” jawab lelaki bertopi baret.

Perempuan berkerudung menghela napas, seakan hendak membuang suatu beban yang diderita dalam dadanya.

“Wahai kau, kisahmu menyerupai kisahku!”

“Maksudmu?”

“Jujur, aku pernah menyia-nyiakan cinta seorang lelaki,” kenang perempuan itu. “Lelaki itu amat mencintaiku, ia rela menyerahkan seluruh hidupnya padaku, bahkan nyawanya pun bila kupinta, pasti diberikannya,” kenangnya, dan matanya menatap kosong ke depan, “namun aku dengan segala keegoanku menampik cintanya yang sebegitu tulusnya.

Hal yang selalu kuingat, disaat dirinya mengungkapkan tulus cintanya, dia berkata padaku; bahwa dirinya bisa gila, bila hidup tanpa diriku. Namun, hatiku tiada tersentuh dengan kata-katanya itu, aku tetap tak menggubris tulus cintanya. Hingga pada akhirnya, kutemukan dirinya telah menjadi seoarang gila, ia kabur dari rumahnya, dan entahlah, sekarang aku tak tahu dimana rimbanya.”

Sejenak hening, hanya gemericik gerimis yang samar-samar terdengar, mewarnai bisunya malam.

“Alangkah malang melintangnya nasib cinta lelaki itu,” tukas lelaki bertopi baret pada akhirnya. Kemudian ia menyambung kata-katanya; “nasib lelaki yang kau sia-siakan cintanya, seburuk yang kuderita. Betapa cintaku telah disia-siakan oleh perempuan yang kupuja, bagiku dia adalah matahari hidupku sebab hidup tanpa dirinya kegelapan bagiku.

Bagiku dia adalah ruhku sebab hidup tanpa dirinya kematian bagiku. Namun, malangnya nasibku, ia menyia-nyiakan diriku, ia memilih pria selain diriku—yang lebih kaya, yang lebih keren. Dan itu, membuatku kehilangan akal warasku. Dan itu, membuatku menjadi gila.”

“Cukup!!” pinta perempuan berkerudung hitam.

“Kisahmu, menyudutkanku,” sambungnya.

“Aih, apa hubungannya kisahku dengan kisahmu?”

Suasana kembali hening, hanya gemericik hujan yang semakin membesar di luaran sana.

“Maafkan aku!” kata lelaki itu memecah kebisuan.

“Maksudmu?”

“Aku mencintaimu. Dan kau jangan sia-siakan cintaku, sebab bila kau sia-siakan cintaku, maka aku akan kehilangan otak warasaku tuk yang kedua kalinya.”

“Hei, kau telah membuat aku sinting.”

“Tapi, jangan kau buat aku jadi sinting tuk kedua kalinya!”

“Siapakah kau yang sesungguhnya?”

“Aku lelaki yang kau sia-siakan cintanya.”

“Kau benar-benar sinting!”

“Aku memang sinting. Sinting karenamu.”

Lelaki bertopi baret itu tiba-tiba mengembun, menyublim, menjadi dingin, berubah menjadi es krim kesukaan perempuan berkerudung hitam, setelah itu suasana kian lengang. Namun, orang-orang selalu datang dan pergi ke warnet tersebut, dan perempuan berkerudung hitam penunggu warnet, tak pernah mengakhirinya membacanya, tentang kisah yang diceritakan dalam print out bersampul merah jambu tersebut, dengan mata berlinang, dengan raut wajah bersedih.

***

(6)

Dini pagi ini, aku kembali menghirup kopi beraroma rindu, sambil berbalas pesan singkat dengan perempuan berkerudung hitam, ah, aku nanti malam akan kembali menemuinya, namun aku tak akan mengenakan topi baret ini—agar dia tak lagi mengenalku.