Islam Liberal di Indonesia, sejak fase awal kemunculannya pada tahun 1970-an, telah memicu kontroversi yang begitu hebat. Ketika itu, Nurcholish Madjid yang akrab disapa Cak Nur membawakan makalah berjudul “Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”. 

Makalah tersebut, walaupun tidak secara literal mencantumkan kata “Islam Liberal”, tidak dapat dimungkiri telah menjadi gerbang utama dan momentum pertama berkembangnya gagasan Islam Liberal yang mewarnai dinamika pemikiran Islam di Indonesia pada periode-periode selanjutnya.

Dalam makalahnya, Cak Nur menganjurkan untuk melakukan sekularisasi. Sekularisasi dalam pengertian Cak Nur memiliki konotasi yang berbeda dengan Sekularisme. 

Sekularisme adalah paham yang bertentangan dengan agama Islam karena sekularisme hendak menyingkirkan Tuhan dari kehidupan manusia di dunia. Sementara sekularisasi menurut Cak Nur bukanlah proses menuju sekularisme, tetapi suatu proses penduniawian hal-hal yang bersifat duniawi dan menghindarkan umat dari kecenderungan untuk meng-ukhrawikannya.

Pendefinisian tersebut, menurut Prof. Rasjidi yang merupakan seorang intelektual muslim lulusan Al-Azhar dan McGill University, adalah pendefinisian yang arbitrair atau semaunya sendiri. Hal tersebut ditegaskannya dalam buku berjudul “Koreksi terhadap Drs. Nurcholish Madjid tentang Sekularisasi”. Prof. Rasjidi mengkritik secara mendasar konsep pemisahan sekularisasi-sekularisme ala Cak Nur. 

Paparannya tentang sekularisasi dimulai dengan sejarah sekularisasi di dunia barat yang mengalami rasa trauma terhadap agama sehingga hendak memisahkan hubungan antara agama dan negara. 

Oleh sebab itu, kata "sekular" sendiri sebagai akar kata dari sekularisasi dan sekularisme sudah tidak netral karena telah mengandung pandangan hidup sekularistik ala peradaban Barat. Dan dengan demikian, sekularisasi dan sekularisme tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Sekularisme juga diterangkan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas dalam bukunya Risalah untuk Kaum Muslimin menerangkan bahwa terdapat tiga pokok sekularisme. 

Pertama, pengosongan alam dari semua makna spiritual (disenchantment of nature). Kedua, politik yang dibersihkan dari unsur-unsur sakral (desacralization of politics). Ketiga, penyingkiran nilai-nilai agama dari kehidupan (deconsecration of values).

Pemahaman mengenai sekularisasi tersebut menjadi salah satu di antara tiga paham utama yang menjadi gagasan kelompok Islam Liberal. Dua paham yang lain adalah liberalisme dan pluralisme agama. 

Liberalisme mencita-citakan masyarakat yang bisa mengatur dirinya sendiri tanpa tuntunan agama. Akibatnya, manusia dianggap bebas (liberal) dan kebebasannya hanya dapat dibatasi oleh kebebasan orang lain. Selama orang lain tidak dirugikan, seseorang sah-sah saja melakukan sesuatu semaunya sendiri.

Liberalisme ini tentulah bertentangan dengan pandangan hidup Islam (Islamic Worldview)

Dalam pandangan hidup Islam, tolok ukur boleh tidaknya seseorang melakukan sesuatu tidak hanya dibatasi oleh kepentingan orang lain, tetapi justru bersandar secara fundamental dalam aturan agama. Oleh sebab itu, walaupun tidak ada pihak yang dirugikan, suatu tindakan dapat dianggap salah ketika menyelisihi aturan agama.

Pluralisme agama yang menjadi kampanye golongan Islam Liberal juga tidak sepi dari pro dan kontra, bahkan mendapat kecaman cukup keras tidak hanya dari komunitas muslim. 

Paham ini menyatakan bahwa semua agama adalah sama atau menuju pada Tuhan yang sama. Penyebutan atau ekspresi sajalah yang mengakibatkan perbedaan antar-agama. 

Sebagai contoh, agama Islam menyebut Tuhannya dengan sebutan “Allah”, agama Yahudi dengan sebutan “Yahweh”, agama Kristen dengan sebutan “Tuhan Bapa”. Menurut pluralisme agama, sebenarnya penyebutan yang berbeda-beda itu mengacu pada zat yang sama.

Dalam pandangan hidup Islam, agama Islam adalah agama wahyu yang penyebutan Tuhan dan nama agamanya secara gamblang disebut langsung dalam kitab sucinya. 

Oleh karena itu, sebagai satu-satunya agama berbasis wahyu (based on revelations), maka agama Islam juga adalah satu-satunya agama yang benar. Dengan demikian, seharusnya ketika seseorang telah bersyahadat, maka telah gugur semua kebenaran agama di luar Islam.

Relevansi Buku "Pertarungan Pemikiran Islam di Indonesia"

Dalam masa-masa perkembangan pemikiran Islam yang masih berlangsung hingga sekarang, buku ini hadir dengan pendekatan sosio-historis yang belum banyak digunakan untuk memetakan perkembangan wacana pemikiran Islam di Indonesia. Terlebih lagi untuk memotret fenomena kemunculan Islam Liberal dan pengkritiknya. 

Selain itu, buku ini juga merupakan disertasi penulisnya di Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia sehingga telah teruji secara ilmiah.

Buku ini layak disebut sebagai buku yang istimewa karena momentum kemunculannya yang berusaha untuk mengisi kekosongan kajian historis yang mutakhir guna memberikan edukasi kepada umat perihal dinamika pemikiran Islam di Indonesia. 

Dr. Tiar Anwar Bachtiar adalah seorang sejarawan dan peneliti INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thoughts and Civilizations) yang secara tekun menelusuri jejak-jejak sejarah pemikiran Islam di Indonesia dalam kurun waktu awal abad ke-20 hingga pasca tahun 2000-an secara komprehensif. Kemudian ia menyajikannya kembali kepada pembaca dengan gaya penyajian populer dengan tetap memberikan catatan kaki yang ketat guna mempermudah pembaca menelusuri lebih lanjut gagasan Islam Liberal di Indonesia maupun gagasan para pengkritiknya.

Kelebihan selanjutnya dari buku ini adalah kajiannya yang fokus terhadap perkembangan pemikiran Islam Liberal yang pada awal kemunculannya menuai respons yang sangat beragam dari kalangan cendekiawan muslim di Indonesia. 

Buku ini menawarkan pendekatan analisis sejarah sehingga sangat membantu pembaca untuk melacak latar belakang sosio-kultural, tokoh-tokoh, serta gagasan-gagasan kelompok Islam Liberal di Indonesia.

Gaya penyajian buku ini, sebagaimana layaknya buku sejarah pada umumnya, disusun secara kronologis. Dimulai dengan momentum pertama kemunculan Islam Liberal di Indonesia, yakni pidato Cak Nur pada tahun 1970, hingga perkembangan mutakhirnya, yakni pasca era reformasi.

Buku ini juga dilengkapi dengan daftar tokoh-tokoh Islam Liberal seperti Drs. Nurcholish Madjid, Prof. Harun Nasution, Munawir Sjadzali, Ulil Abshar Abdalla, dan banyak lainnya semisal para anggota JIL (Jaringan Islam Liberal). Tak ketinggalan, nama-nama cendekiawan muslim yang menentang gagasan Islam Liberal seperti Prof. HM. Rasjidi, Dr. Daud Rasyid, Endang Saifuddin Anshari, dan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, dan para cendekiawan yang tergabung dalam INSISTS.

Pada bagian terakhir buku ini, disajikan pula mengenai pemikiran-pemikiran utama yang menjadi basis dalam usaha untuk mengkritik Islam Liberal seperti gagasan Islamic Worldview, dewesternisasi, dan islamisasi ilmu pengetahuan yang digagas oleh Prof. Ismail Raji Al-Faruqi dan Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas. 

Tak ketinggalan, Dr. Tiar juga menyajikan rangkuman perbedaan pandangan dan adu argumentasi yang kerap terjadi antara Islam Liberal dan pengkritiknya (INSISTS beserta jejaringnya) dalam menyikapi isu-isu seputar pemikiran Islam seperti pembahasan mengenai orientalisme, hermeneutika Al-Quran, kesetaraan gender, dan pluralisme agama. 

Oleh sebab itu, buku ini sangat layak dibaca oleh umat Islam guna memperkaya khazanah perkembangan pemikiran Islam di Indonesia.