Akhirnya, teka-teki mendebarkan selama beberapa bulan terakhir terpecahkan. Pada konferensi pers (28/3) jam 4 sore waktu Manchester, kontrak permanen bagi Ole Gunnar Solskjaer resmi diumumkan. Manajer sementara asal Norwegia tersebut sudah resmi berganti status menjadi manajer tetap Manchester United. Kontrak tersebut berdurasi tiga tahun ke depan.

Dalam 19 pertandingan, Solskjaer sudah membawa MU menang 14 kali. Termasuk di antaranya, kemenangan dramatis atas Paris Saint Germain dalam pertandingan home and away di Liga Champions. Namun, tepatkah kontrak permanen diberikan pada Solskjaer saat ini?

Apresiasi Alan Myers

Kolumnis Sky Sports Alan Myers mengapresiasi kontrak permanen Solskjaer. Myers menyatakan perasaan gembira dan bahagia jelas terlihat di sekeliling Manchester saat kabar kontrak tersebut tersiarkan. Bahkan di antara pasangan fans Manchester City.

Solskjaer, tidak terbantahkan lagi, adalah figur populer di kota Manchester. Masa jabatannya sebagai manajer sementara, cukup sukses. Sepanjang hari setelah pengumuman kontrak tersebut, Myers mendengar deklarasi, “Manchester United telah kembali!”

Perasaan nostalgia bertebaran di mana-mana. Nostalgia akan era MU di bawah Alex Ferguson. Saat di mana kebersamaan dan persatuan mendasari perasaan percaya diri para pengambil keputusan di klub. Keputusan yang seringkali sangat beresiko.

Solskjaer sudah bekerja keras sejak diangkat sebagai manajer sementara pertengahan Desember 2018 lalu. Ia sangat memperhatikan rincian urusan seperti memastikan pemain memakai jas ketika dalam perjalanan ke stadion. Solskjaer juga menyetujui program bagi suporter untuk mendukung tim.

Kepribadian Solskjaer menarik bagi seluruh personel klub. Ia tipe manajer yang berterus terang dan mampu menanamkan disipilin pada pemain. Solskjaer juga berani mengambil resiko.  Hasilnya, Manchester United di bawah Soskjaer berada di puncak klasemen Liga Inggris bila dihitung dalam 13 pertandingan terakhir. MU hanya sekali kalah dan dua kali seri.

Kombinasi kepribadian dan hasil memuaskan itulah yang membuat MU yakin mengontraknya. Wajar saja bila Alan Myers merasakan euphoria “Manchester United telah kembali!” di sepanjang tempat parkir, toko-toko dan koridor Old Trafford, stadion MU.  

Belum Membuktikan Mental Juara 

Memang terbukti, Solskjer sudah mengembalikan semangat dan kegembiraan pemain-pemain Manchester United di lapangan. Keahlian pendekatan personalnya juga mampu menyatukan seluruh elemen klub.

Namun, Manchester United tidak cukup didefinisikan hanya dengan semangat dan kegembiaraan. Setan Merah adalah klub ambisius. MU selama puluhan tahun dikenal sebgai klub juara yang penuh semangat dan kolektivitas.

Sejauh ini, kemampuan Solskjaer menanamkan mental juara belum terbukti sepenuhnya. Anak asuhan pria asal Norwegia tersebut belum meraih gelar apapun. Kemenangan atas PSG di Liga Champions hanya sebatas indikasi awal. Di babak perempat final sudah menunggu FC Barcelona.

Manchester United pada zaman Alex Ferguson adalah klub yang menguasai kompetisi di Inggris dan memenangkan gelar di Eropa. Menjadi juara liga Inggris mejadi rutinitas mereka, bukan dianggap suatu prestasi lagi. Menggondol Piala FA dan Piala Liga hanyalah gelar pelengkap bagi MU di zaman Alex Ferguson.

Solskjaer belum menjejaki level Ferguson setapak pun. Bahkan, bila dibanding Zidane dan Di Matteo, Solskjaer belum selevel dengan mereka sejauh ini. Zinedine Zidane, pada musim 2015/2016, memenangkan Liga Champions saat diangkat menjadi pelatih sementara Madrid di pertengahan musim.

Roberto Di Matteo lebih hebat lagi. Manajer asal Italia itu berhasil meraih Piala FA dan Liga Champions sekaligus. Dua gelar itu dipersembahkan untuk Chelsea setelah menjadi manajer pengganti Andre Villas Boas di pertengahan musim 2011/2012.

Walaupun pada musim 2012/2013, Di Matteo dipercat di pertengahan musim. Performa buruk Chelsea membuatnya digantikan Rafael Benitez. Melihat performa MU sejauh ini, Solskjaer lebih mendekati nasib Di Matteo dalam versi nirgelar dibanding Zidane.     

Permainan Yang Belum Istimewa 

Jelang menghadapi Crystal Palace (27/2/19), hanya 10 pemain tim utama yang bugar. Solskjaer menghadapi krisis cedera pemain terbesar saat itu.  Lari pendek 108,6 km/laga dalam 10 pertandingan. Sedangkan di bawah Mourinho, United hanya mencatat lari pendek 98 km/laga.

Permainan menyerang menekan lawan yang diterapkan memang atraktif. Gaya bermain seperti itu juga yang menaikkan libido dan adrenalin pemain-pemain seperti Pogba, Rushford, Martial. Rumornya, mayoritas pemain MU keberatan dengan taktik defensif Mourinho. Khususnya, mereka yang bermain di lini serang.

Permainan negatif itu pula yang menyebabkan para pemain MU tidak semangat. Jatuhnya moral pemain berujung pada pemecatan Mourinho. Sebagai mantan penyerang andal, Solskjaer memahami kondisi psikologis tersebut. Para pemain MU kini didorongnya untuk menyerang menekan lawan.

Namun akibatnya, badai cedera mengintai skuad Manchester United. Menu latihan fisik dan mitigasi cedera oleh tim kesehatan, tampaknya, menjadi isu yang harus dievaluasi Solskjaer. Bila hal itu tidak diantisipasi, permainan menekan dan menyerang lawan, hanya akan jadi bencana.

Dua kekalahan melawan Wolverhampton Wonderers dan Arsenal mengindikasikan MU belum menjadi tim yang dominan dari segi taktik. Solskjaer memang cukup berhasil meledakkan bakat pemain MU dengan permainan menyerang. 

Namun ia masih harus mengevaluasi kekalahan MU atas tim papan tengah dan papan atas Liga Inggris. Melawan Barcelona di Liga Champions mampu menjadi ajang pembuktian kecerdikan taktis Solskjaer.

Pertahanan MU pun buruk. Para pemain bertahan MU rapuh menahan serangan dari sayap. Kemampuan mereka menghentikan lawan menciptakan peluang mencetak gol sangat buruk. Akibatnya, Setan Merah sudah kebobolan 43 kali dalam 32 pertandingan.

Prestasi Yang Meragukan  

Setelah dikalahkan Wolverhampton Wanderers 2-1 (02/4), MU (61) tertinggal dua poin dari Arsenal (63).  MU kini berada di luar zona Liga Champions (peringkat 6) Liga Utama Inggris. Untung saja Everton berhasil mengalahkan Arsenal 1-0 (07/4).

Di Liga Champions, MU masih harus melawan Barcelona (11 dan 17 April). Barcelona kini memimpin sebelas poin atas Atletico Madrid di La Liga sampai pekan ke-31. Dari aspek ketangguhan permainan dan kebugaran fisik, tampaknya MU memerlukan usaha luar biasa untuk bisa menyingkirkan Barcelona.

Dengan posisi berada di luar zona Liga Champions, sudah tersingkir di Piala FA dan belum pasti menjuarai Liga Champions, MU di bawah Solskjaer baru memenangkan beberapa pertempuran. Namun mereka belum memenangkan perang.

Catatan 12 pertandingan tak terkalahkan di Liga Inggris sejak akhir Desember 2018 hingga awal Maret 2019, belum menghasilkan satupun gelar bagi MU. Perasaan gembira berlebihan yang sedang dialami pendukung MU tampaknya harus dikoreksi.

Waktu Yang Tepat

Jika di akhir musim nanti MU berhasil menembus zona Liga Champions di empat besar Liga Inggris dan atau memenangkan gelar Liga Champions, langkah direksi MU mempermanenkan Solskjaer terbukti tepat.

Namun bila pada akhir musim nanti MU gagal menembus empat besar dan atau gagal memenangkan Liga Champions, maka eksodus pemain besar akan terjadi. Pemain bintang baru pun akan lebih sulit didatangkan.

Beberapa pemain MU seperti Pogba, De Gea dan Herrera, Mata dan Lukaku sudah diincar Real Madrid, PSG, Barcelona, Juventus dan Inter Milan. Mereka sangat mungkin pergi bila MU tak bermain di Liga Champions musim depan.

Pemain-pemain tersebut sudah terbiasa bermain di kompetisi kasta tertinggi Eropa. Mereka tentu akan enggan bermain di “Liga Malam Jumat” julukan satir Europa League. Paul Pogba, pada musim 2015/2016, bersedia pindah ke MU dan bermain di Liga Europa karena ada nama besar Mourinho. Namun kini, reputasi Solskjaer belum meyakinkan sebagaimana Mourinho beberapa musim lalu.

Bintang-bintang baru seperti Jodan Sancho, Phillipe Coutinho, Kalidou Koulibally, Samuel Umtiti, Gareth Bale dan Paulo Dybala akan sulit didatangkan bila MU berada di luar empat besar. Mungkin hanya bintang klub papan bawah dan tengah saja yang mau pindah ke MU untuk memperbaiki nasib. Seperti Harry Maguire dan Aaron Wan Bisaka.

Hasil akhir musim yang dapat mempengaruhi konsolidasi tim musim depan belum kelihatan. MU akan meneruskan nasib sebagai tim papan tengah bila gagal berkompetisi di Liga Champions dan tidak bisa mendatangkan bintang-bintang baru musim depan.

Oleh karena itu, terlalu cepat MU mempermanenkan kontrak Solskjaer. Lebih rasional bila Setan Merah memutuskan untuk mempermanenkan kontrak Solskjaer atau mencari manajer lain yang lebih meyakinkan setelah evaluasi prestasi akhir musim nanti.   

Sumber:

https://www.independent.co.uk/sport/football

https://www.skysports.com/

https://www.whoscored.com/