Di tengah banyaknya negara-negara Arab yang melakukan normalisasi dengan Israel, salah satu negara Arab di kawasan Teluk Arab yang masih belum menentukan sikap final, yakni Arab Saudi.

Arab Saudi masih berpikir dua kali jika ia harus menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel. Meski, AS membujuk Arab Saudi untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Tidak hanya itu, kepentingan politik AS menjelang pemilu November ini juga menjadi isu yang tengah dibangun.

Posisi Arab Saudi yang serba kebingungan tersebut tidak dapat disimpulkan atas persoalan Palestina semata. Tetapi, juga karena Arab Saudi ingin menjadi negara di kawasan Teluk yang berkuasa. Meski, Qatar menjadi rival yang membuat Arab Saudi khawatir kekuatannya di kawasan terganggu.

Arab Saudi diantara Dilema dan Janji

Arab Saudi mengalami dilema dalam persoalan normalisasi dengan Israel. Pasalnya, Arab Saudi ingin menjadi "pembela" garda depan Palestina. Tetapi, Arab Saudi juga sebenarnya telah melakukan kerjasama dengan Israel di beberapa sektor penting, terkait peningkatan ekonomi kedua negara.

Ditengah situasi tersebut, Arab Saudi juga dihadapkan pada janji atas Prakarsa Damai 2002 yang memperjuangkan Palestina dan bakal melakukan kesepakatan damai dengan Israel, jika Israel mau menghentikan aneksasi atas Tepi Barat dan menaati kesepakatan sesuai keputusan sebelum perang enam hari tahun 1967.

Diantara dua pilihan yang sulit tersebut, maka Arab Saudi harus menyiasati dengan sangat baik. Jika tidak, Arab Saudi akan disoroti oleh masyarakat dunia yang bakal menjadi bumerang bagi negara tersebut.

Tidak hanya itu, Arab Saudi dianggap sebagai salah satu negara yang mumpuni menjadi pemimpin di Dunia Arab. Oleh karena itu, sekali Arab Saudi salah melangkah, maka akan berdampak besar bagi kawasan Timur Tengah maupun Teluk.

Ditengah proses reformasi birokrasi Arab Saudi, pilihan dan keputusan ini membuat negara tersebut harus hati-hati dalam memutuskan kebijakan. Permasalahan dalam negeri Arab Saudi yang dihadapkan pada berbagai situasi sulit. Memang, cukup membuat Arab Saudi kelimpungan menghadapinya.

Kebijakan Pelonggaran Pembatasan Penerbangan 

Pemerintah Arab Saudi melonggarkan sebagian aturan pembatasan penerbangan internasional mulai 15 September 2020. Keputusan terbaru itu menyebutkan hanya warga negara dan penduduk Arab Saudi yang masuk dalam ”kategori khusus” saja diperbolehkan melakukan bepergian.

Arab Saudi juga tengah memusyawarahkan terkait dibukanya ibadah umrah, dengan memperhatikan dan mempertimbangkan kondisi kasus covid-19 di negara tersebut.

Rencana seluruh aturan pembatasan perjalanan transportasi udara, laut, dan darat bagi warga Arab Saudi juga akan dicabut pada 1 Januari 2021. Pemerintah kerajaan mulai menghentikan penerbangan internasionalnya, Maret karena melihat angka pertambahan kasus covid-19 semakin meningkat.

Didalam peraturan terbaru, bagi warga non-Arab Saudi yang memiliki surat izin tinggal di Arab Saudi atau visa kunjungan diperbolehkan masuk Arab Saudi mulai 15 September. Namun, mereka tetap harus menyertakan bukti yang menunjukkan hasil tes covid-19 yang negatif.

Memang, Arab Saudi sebelumnya menerapkan kebijakan jam malam di hampir semua kota di Arab Saudi. Jumlah jamaah ibadah haji juga dikurangi dengan hanya sekitar 10.000 orang saja pada akhir Juli lalu. Padahal, tahun lalu jumlah jamaah mencapai 2,5 juta jiwa.

Sedangkan, jumlah kasus covid-19 kini telah mencapai sekitar 325.651 kasus dan 4.268 orang diantaranya tewas. Untuk memulihkan kondisi perekonomian, Arab Saudi pun mulai mencabut aturan jam malam dan pembatasan berbagai jenis usaha, termasuk bioskop dan tempat hiburan lainnya.

Implikasi dari kebijakan Arab Saudi atas pembukaan penerbangan, meski hanya terbatas dan khusus. Tetapi, kondisi ini juga memungkinkan arus ekonomi tetap berjalan. Pembukaan bioskop dan tempat-tempat hiburan juga diharapkan mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat Arab Saudi.

Pandemi covid-19 memberikan dampak besar di berbagai sektor penting, diantaranya ekonomi. Sebelumnya, Arab Saudi bisa membuka negaranya dari kunjungan dan jutaan orang masuk ke negaranya, baik untuk menjalankan ibadah haji dan umrah.

Kondisi saat ini pun berbeda. Banyak jamaah haji dan umrah harus menunda perjalanannya karena kebijakan Arab Saudi ditengah pandemi covid-19 yang semakin bertambah kasusnya.

Kita tengah menunggu bagaimana kebijakan pemerintah Arab Saudi selanjutnya. Apakah akan membuka penerbangan internasional secara massif atau hanya terbatas? Melihat kondisi pertambahan kasus covid-19 juga belum stabil dan tidak bisa diprediksi.