Sedemikian peliknya jika kita menggunakan istilah manusia dalam lika liku realitas dunia. Ada semacam kontradiksi yang begitu konkret antara titik mula peradaban manusia dan pembentukannya yang hakiki sebagai manusia yang “sungguh”.

Manusia yang “sungguh” itu, dalam pemikiran Ibnu Arabi bisa dikategorikan sebagai Manusia sempurna atau Insan Kamil. Ibnu arabi adalah filsuf yang banyak menaruh perhatian pada akar penciptaan manusia yang dikaitkan dengan ilahi.

Dalam kamusnya Ibnu Arabi, manusia itu sebagai perantara pengenalan Tuhan melalui penamaan Wujud sebagai realita. Wujud itu adalah nama lain dari Al Haqq jika melihat sudut pandang Islam.

Tuhan dengan penamaannya sebagai Wujud ingin sangat dikenali oleh ciptaan-Nya. Yang benar-benar perlu diberikan nutrisi pemahaman lebih lanjut dari pengenalan diri-Nya yaitu manusia itu sendiri. Sebab, orientasi Wujud mengadakan manusia untuk menjadi manusia sempurna sebagai ciptaan-Nya.

Dalam realitas ilahi yang unik, manusia sempurna berada di tengah-tengah, yaitu antara sifat binatang atau malaikat. Dengan kata lain, manusia berada di antara dunia yang penuh dengan kefanaan dan kekekalan.

Ibnu arabi menuangkan gagasan pemikirannya mengenai hakikat manusia melalui karya-karyanya, terutama al-Futuhat al- Makkiyah dan Fusus al- Hikam.

Pemikirannya tentang manusia sebagai mikrokosmos tidak terlepas dari konteks alam semesta sebagai kosmos dan Tuhan sebagai sang Khaliq. Realitas alam dan manusia merupakan tajali ilahi dan sekaligus cerminan untuk melihat kesempurnaan Tuhan.

Tuhan secara totalitas menaruh Wujud itu sendiri kepada manusia. Sebab manusia itu satu-satunya makhluk di dunia yang dapat memanifestasikan Tuhan dalam format ucap, sikap dan perilakunya.

Kesempurnaan manusia itu bukan berarti setara dengan derajat ketuhanan, melainkan manusia sebagai mikrokosmos yang hidup digaris kosmos adalah seluruhnya terdapat sifat-sifat dan sekaligus efek nama-nama Tuhan.

Mereka dapat menyempurnakan ciptaan-Nya karena terdapat sifat-sifat Tuhan yang menyingkap di dalam dirinya yang menimbulkan peradaban kosmos dan mikrokosmos berjalan hingga titik kulminasi hari akhir.

Dengan begitu, manusia yang “sungguh” atau menurut Ibnu arabi manusia sempurna “Insan Kamil” adalah tujuan Tuhan untuk mewakili diri-Nya.

Berbeda dengan Friedrich Wilhelm Nietzche, seorang filsuf barat abad 19 yang kontroversial dikalangan pakar teolog da filsuf lainnya dengan kalimatnya mengenai “Tuhan telah mati” atau Nietzche yang lebih dikenal dengan sebutan “Sang Pembunuh Tuhan”.

Manusia yang “sungguh” itu menurut corak pemikirannya Nietzche adalah manusia super (superman) sebagai Ubermensch atau sering juga dibahasakan manusia unggul.

Ubermensch disini memiliki kehendak untuk berkuasa (Will to power). Nietzche memandang manusia unggul itu manusia yang tidak terjajah oleh hal yang di luar dirinya.

Manusia unggul memiliki kekuasaan atas diri sendiri, melalui cara ia berpikir dan berkehendak, sebab di luar manusia tidak ada yang dapat memikirkan tentang dirinya sendiri.

Memberikan perhatian kepada nilai yang dilakukannya sendiri, tanpa berpaling dari dunia dan menengok ke seberang dunia adalah ciri dari Ubermensch dalam format cara hidupnya.

Manusia yang telah mencapai tingkatan Ubermensch ini adalah manusia yang tidak merasakan kekhawatiran, kegelisahan ataupun semacamnya, justru selalu mengatakan “ya” pada segala hal dan siap menghadapi tantangan.

Dapat ditafsirkan sebagai manusia yang memiliki keberanian tinggi, dan juga selalu mengafirmasikan hidupnya dalam situasi dan kondisi yang terjadi. Sebab, tanpa hal tersebut manusia unggul (Ubermensch) tidak akan mungkin tercipta.

Nietzsche pun percaya bahwa manusia ketika berhadapan dengan peliknya masalah, konflik yang selalu hadir di dalam hidupnya maka ia akan tertantang dengan sendirinya sehingga membuat potensi yang ada di dalam otoritas tubuhnya dan otomatis akan keluar dengan sendirinya secara maksimal.

Dari hal ini, refleksi dari manusia akan memiliki gairah untuk Will to power atau keinginan untuk berkuasa. Nietzsche menginginkan manusia itu untuk dapat bertumbuh, menjangkau keluar, menarik diri keluar, menuju keatas bukan keluar dari moralitas atau amoralitas.

Manusia haruslah bersikap jujur terhadap dirinya, dan selalu bersikap inovatif (Nietzsche, 1998:201-2).

Tujuan utama dari Ubermensch adalah menjelmakan manusia yang lebih kokoh, lebih cerdas dan berani. Yang terpenting adalah bagaimana mengangkat dirinya dalam kehanyutan massa.

Maksud dari kehanyutan massa di sini, bahwa manusia tidak mereplika apa-apa yang dilakukan orang lain, melainkan lebih kompetitif, inovatif, kreatif sehingga menimbulkan hal yang impresif.

Bagaimana caranya kehendak untuk berkuasa itu adalah murni atas potensi yang dimiliki manusia itu sendiri. Bukan menjadi seorang peniru yang handal, mengikuti arus kanan dan kiri, dan itu bukan ciri dari Ubermensch.

Sepanjang menjelajahi alam pikiran dari Nietzsche, terbukti bahwa ia berkeinginan mencapai tingkat tinggi dan lebih tingi lagi. Disini, manusia bukan menjadi tujuan untuk hidupnya.

Manusia sebagai manusia tidaklah sempurna, akan tetapi ia dapat dan harus menjadi sempurna. Jika manusia tidak mampu menyempurnakan dirinya sendiri, ia tidak aka nada gunannya.

Manusia itu hanya sebagai “buhul tali” atau jembatan yang menghubungkan antara binatang dan manusia unggul. (Budiwarto, 1983:28)

Memang Nietzsche adlaah seoarng filsuf yang mengeskplor dengan dahsyat mengenai diskursus diskursus materi eksistensialisme (kebebasan, kematian, rasa takut-khawatir, penderitaan, mimpi mimpi dan ruang sejarah).

Distingsi pemikiran Ibnu rabai dan Nietzsche tentang manusia “sungguh” itu memiliki penetrasi tentang kehakikian manusia sebagai manusia yang sebenarnya manusia.

Sehingga pemikirannya dapat membentur realitas keduniaan yang fana. Tentang manusia sebagai mikrokosmis merupakan wujud ilahi dari pertikaian konflik kosmos.

Manusia menjadi manusia yang unggul ketika manusia terlepas dari belenggu belenggu ketakutan, kegelisahan dan lain sebagainya.

Maka manusia itu adalah relaitas peradaban yang dapat membentuk konfigurasi yang indah jika manusia itu sudah mencapai tingkat kesempurnaan manusia dari akar tujuan diciptakannya.