Dinamika ekonomi di Asia semakin meningkat yang menimbulkan beberapa konsekuensi, yang salah satunya adalah semakin intensnya lalu lintas uang, barang, dan orang di Asia, sehingga mulai memperuncing perbedaan akan kepentingan di masing-masing negara yang tidak jarang berujung pada ketegangan dan konflik politik. 

Beberapa hotspot konflik politik di Asia seperti di Laut China Selatan, krisis kemanusiaan di Rohingya, Semenanjung Korea, di Filipina Selatan, dan sebagainya. (Pengamat politik internasional, Anis Matta, 1/4/2018) dilansir dari tribunnews.com.

Demikian pula masyakat Indonesia yang sangat plural dan rentan dengan perpecahan dan konflik. Beberapa waktu lalu, konflik amoral yang melibatkan supporter bola yang terjadi antara supporter Persib dan Persija di GBLA hingga menimbulkan korban jiwa. Namun, permasalahan tersebut bukan semata terjadi di Bandung-Jakarta. Itu adalah masalah laten yang terjadi di banyak kota (MataNajwa). 

Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi guncangan masalah lain dari bencana alam yang beberapa waktu lalu terjadi di Lombok kemudian di susul Palu-Donggala dalam selang waktu 4 bulan.

Permasalahan di Indonesia semakin kompleks. Bantuan terus turun dari mana-mana untuk membantu korban bencana. Akan tetapi, problematika kembali terjadi terkait dengan hilangnya pikiran rasional dari para korban bencana, khususnya di Palu. 

Perbuatan menjarah minimarket, menjarah bantuan yang baru saja tiba tanpa memikirkan bagaimana keadaan korban bencana lain yang sama menderitanya akan trauma setelah bencana. Memang pemerintah mengizinkan hal tersebut. Namun, bukan seperti itu caranya. Meskipun dalam kondisi terbatas, seharusnya tetap memikirkan bagaimana dengan yang lain tidak kebagian bantuan. 

Kita adalah sama, rakyat Indonesia. Tidak menyalahkan orangnya sebagai subyek yang melakukan tindakan penjarahan karena keterbatasan akibat bencana, namun perbuatan itulah yang salah. Sebab, tanpa melakukan penjarahan sekalipun, pemerintah akan tetap memberikan bantuan. Apalagi perkara tersebut adalah masalah kemanusiaan yang tergolong besar di Indonesia saat ini.

 Konflik Kemanusiaan dalam Jangka Panjang

Secara global, konflik kemanusiaan semakin kompleks. sebab adanya dinamika politik global yang mana pusat ekonomi dunia saat ini telah beralih ke Asia yang tidak menutup kemungkinan menyebabkan hilangnya keharmonisan di Kawasan Asia. Seperti di Timur tengah yang telah melahirkan kesengsaraan berkepanjangan bagi rakyatnya. Bahkan adanya kelaparan di benua Afrika telah mendistorsi kelayakan kehidupan rakyat Afrika. Konflik Rohingya yang melahirkan krisis kemanusiaan.

Beberapa kelompok yang umum menjadi korban penyelewengan hak-hak kemanusiaan adalah mereka yang menjadi minoritas dalam kaum mayoritas. Namun, hal tersebut tidak terlalu berdampak menjadi krisis kemanusiaan karena pada dasarnya yang menjadi pertimbangan adalah kesadaran serta keterbukaan pemikiran yang dimiliki oleh masing-masing individu. 

Dalam hal ini, yang sangat berperan adalah latar Pendidikan atau edukasi. Apabila dikalkulasikan, sebagian besar korban kasus krisis kemanusian adalah mereka yang memiliki kualitas Pendidikan tidak layak atau kurang memadai seperti masyarakat Rohingya, Myanmar.

Permasalahan memilukan saat ini juga terjadi di Indonesia yakni beberapa waktu terjadi kericuhan hingga menimbulkan korban jiwa di GBLA akibat dikeroyok massal. Hal ini jelas sudah bertentangan dengan norma dan tergolongan tindakan amoral. 

Fanatisme yang berlebihan inilah yang menjadi pemicu terjadinya peristiwa tersebut. Serta adanya berbagai bencana alam di Indonesia beberapa waktu lalu membuat rakyat mengungsi sehingga tidak mendapat kehidupan yang normal.

Oleh karena itu, tujuan penulisan karya tulis ini adalah untuk mengemukakan mengenai nilai organisasi, instansi, dan atau lembaga kemanusiaan berdedikasi prinsip education morality yang dirangkum dalam Konsep Knowledge-Based Society sebagai tindak lanjut penyelesaian dari perkara yang ada. Bukan hanya dari tujuan jangka pendek, tetapi juga diharapkan mampu memberikan solusi jangka panjang untuk problematika yang muncul di masa mendatang.

Tinjauan Pustaka

Menurut (Bollfrass & Shaver, 2013) konflik merupakan fenomena global dan hubungannya dapat menjadi kompleks. Konflik kemanusiaan berarti percekcokan, pertentangan, perselisihan yang melibatkan sosial atau humanity. Konflik berkepanjangan yang terjadi bertransformasi menjadi krisis kemanusiaan hanya bisa diselesaikan dengan Pendidikan. Namun, langkah ini butuh proses panjang dan fondasi yang kuat.

Gagasan yang Diangkat

Menyelesaikan konflik dengan pendidikan selalu dimulai dari penilaian masalah (problem assessment). Sehingga masalah yang dihadapi dalam masyarakat teridentifikasi untuk memahami pendekatan pendidikannya. Proses assessment tersebut terdiri dari mengukur, menilai, hingga mencari sumber konfliknya. (Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Ahmad Baedowi)

Untuk dapat menerapkan edukasi tersebut, maka diperlukan kerjasama dari antar Lembaga di Indonesia khususnya yang paling berpengaruh signifikan yakni Ormas-Ormas yang ada dalam kehidupan masyarakat itu sendiri. Nilai sebuah organisasi tersebut sangat bergantung pada kualitas input dan proses organisasi, maka strategi peningkatan kontribusi secara teknis dapat dibenahi. 

Kuncinya adalah budaya untuk membangun apa yang ada dalam jaman post-modern sekarang ini yang disebut sebagai knowledge-based society, yaitu sebuah masyarakat yang mampu mengelola dan menggunakan ilmu pengetahuan untuk membangun kesejahteraan, kemajuan, dan kemakmuran masyarakatnya yang merupakan silent power. 

Jadi, terjadi proses pencerahan atau enlightenment bukan hanya dari aspek ukhrowi, tetapi juga pencerahan dari aspek duniawi dalam rangka membangun manusia yang religious.

Prosedur yang ditempuh atau diterapkan oleh suatu organisasi dalam menghasilkan output harus dalam proses yang baik. Harus ada pembagian tugas yang jelas dalam menghasilkan suatu karya, serta melaksanakan komunikasi dan kontribusi. 

Untuk mencapai kualitas professional tersebut, maka pengembangan sumberdaya manusia harus diarahkan pada pembentukan sosok profesional-religius. SDM professional-religius inilah yang kemudian mengkomunikasikan dan mengkontribusikan karya tersebut kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

Dalam prosesnya, harus menyesuaikan dengan manajemen organisasi. Penempatan yang sesuai dengan bidang kemampuan masing-masing individu, kemudian jika telah dianggap mampu, maka patut diuji dengan memberikan sebuah kontribusi nyata dalam masyarakat berupa pembaharuan mindset masyarakatnya melalui sebuah edukasi yang telah diterapkan dalam masing-masing bidang dalam komunitas atau lembaga yang bersangkutan. 

Bahkan bila memungkinkan, sebaiknya dalam pendidikan usia dini, minimal SD sudah diberikan sebuah doktrin mengenai kemampuan ‘melek pengetahuan berdedikasi moral’ apalagi sebagai pertimbangan anak-anak kecil saat ini sebagian besar telah menggunakan alat-alat eletronik. Mengingat sekolah dasar adalah pondasi awal bagi sekolah jenjang di atasnya dan sangat potensial dalam menanamkan suatu nilai pembelajaran. 

Dengan pembekalan yang didapat sejak sekolah dasar, maka ketika beranjak dewasa memiliki bekal matang menghadapi berbagai konflik yang ada dan dapat berpikir secara rasional dan realistis.

Konsep dan pokok pikiran yang harus ada dalam prinsip edukasi ini adalah :

  • Setiap umat beragama harus menghilangkan sikap fanatisme buta terhadap problematika duniawi yang sepele dan harus menguatamakan Ketuhanan YME.
  • Menghilangkan sikap tidak peduli atas hak dan perasaan orang lain
  • Membentuk sikap lapang dada, keterbukaan, dan toleransi tanpa harus menjadi sinkretetis yang dibuat-buat sehingga merusak nilai agama itu sendiri.

Strategi ini ditempuh dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan usia dan kejiwaan peserta didik. Apabila masih anak-anak, maka harus dibuat semenarik mungkin. Bisa juga dibuat seperti halnya edukasi berbasis permainan negeri dongeng. Semua hal yang inovatif diperbolehkan asalkan tetap mengusung pokok dari konsep yang ditetapkan. Demikian pula dengan pembelajar dewasa maupun remaja. Yang terpenting adalah kesesuaian dengan si pembelajar serta materi yang diberikan harus relevan dengan yang telah menjadi mapping pembelajaran tersebut.

Proses pembelajaran ini dapat dianalogikan sebagai berikut :

Sumber : Dokumen Penulis

Jika kita mampu melihat esensi pendidikan sesungguhnya, maka apakah hal tersebut sudah menjadi “pengetahuan” bagi seseorang, yang tentunya membawa perubahan sikap, atau hanya berhenti sebagai “informasi” saja ?

Jika perombakan edukasi ini yang menitikberatkan pada keterampilan berpikir setiap individu di berbagai instansi lembaga, komunitas, dan organisasi, maka memungkinkan untuk membuat hubungan atau mengintegrasikan setiap pengalaman ke dalam sebuah proses untuk melakukan hal-hal seperti: memecahkan masalah, membuat keputusan, mengajukan pertanyaan, membangun rencana, mengevaluasi ide-ide, mengatur informasi atau menciptakan obyek.

Penjabarannya adalah sebagai berikut :

No

Perwujudan dalam Edukasi

1
Mencari data dan informasi
2
Mencari alternative
3
Memecahkan masalah
4
Membuat keputusan
5
Mengajukan pertanyaan
6
Membangun rencana
7
Mendalami dan mengevaluasi ide
8
Mengatur informasi
9
Menciptakan obyek
10
Mengambil kesimpulan
11
Mengambil pelajaran atau hikmah


Apabila konsep tersebut sukses diaplikasikan sebagai edukasi dini, maka tanpa harus dikomando, calon-calon Youth Indonesia sebagai penerus bangsa akan mampu menjadi individu yang secara mandiri dapat berkontribusi nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Bekal yang dapat diaplikasikan ketika terjadi konflik dan penerapan sikap yang seharusnya dilakukan ketika konflik itu terjadi tanpa harus khawatir mereka menjadi individu pasif. Mereka yang telah terbuka akan menyadari pentingnya menjaga output atau hasil-hasil yang telah didapatkannya dalam organisasi, komunitas, atau di lembaga instansi formal lain yang berkaitan. Maka, konflik dan krisis kemanusiaan dapat diminimalisir sebab subyek pelaksana itu sendiri tidak melakukan atau telah memiliki kesadaran bahwa hal tersebut bukanlah hal yang patut dilakukan.

Kesimpulan

Pilihan kelangsungan dalam sebuah organisasi, intstansi, atau Ormas secara berkesinambungan dalam menghadapi sebuah konflik berkepanjangan adalah dengan terus memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Terus berupaya, komunikasi, dan kontribusi agar yang dihasilkan dapat menunjang kebutuhan masyarakat. 

Dan untuk itu semua, dibutuhkan manusia yang memiliki profesionalisme tinggi, SDM professional-religius yang berkarakter dan berdedikasi moral kemanusiaan dan berjiwa keluhuran. Segenap potensi manusia yang ada dalam individu masing-masing dapat digunakan untuk menujudkan salah satu sikap dasar kemanusiaan. Berpikir sistematis dan menggunakannya secara tepat, dapat meningkatkan kapasitas penyelesaian masalah. 

Kemampuan berpikir tersebut dapat ditingkatkan sesuai penggunaannya, baik untuk mencari alternatif penyelesaian masalah ataupun saat merumuskan masalah. Apabila merumuskan masalah bisa benar, kemudian alternatif penyelesaiannya benar, maka bisa lebih efisien di berbagai keadaan. 

Bila terjadi peningkatan kapasitas penyelesaian masalah atau persoalan, berarti memperbanyak peluang untuk beramal baik bagi kepentingan orang banyak. Berbagai upaya membantu penyelesaian persoalan yang sedang dihadapi yang kiranya memerlukan bantuan, sebagai salah satu manifestasi akhlak luhur sekaligus dakwah dari pokok konsep edukasi yang telah dijabarkan. 

Kita adalah manusia pembelajar sepanjang hayat yang mudah menemukan hikmah dalam setiap langkah kehidupan. Dan semua itu berakar dari dasar pondasi sebagai instansi vital, yakni sekolah dasar. Penerapan edukasi Knowledge-Based Society diharapkan mampu menunjang kapasitas berpikir serta menguatkan rasa kemanusiaan setiap individu yang diterapkan sejak awal pendidikan sebagai bekal pendidikan di masa mendatang.