Perseteruan antara Yaman dan Arab Saudi kembali memanas. Pasalnya, pihak Houthi kembali menyerang bandara Abha, Arab Saudi, (9/9). Konflik antarkedua negara tersebut menjadi salah satu persoalan politik yang paling disoroti di kawasan Timur Tengah.

Juru bicara Houthi Yahya Sarea mengumumkan bahwa pihaknya di Yaman memang menargetkan dan menghantam benda-benda militer dan sensitif di bandara internasional Abha, Arab Saudi pada Rabu (9/9) pagi waktu setempat. Houthi menyerang bandara tersebut dengan menggunakan drone. Tetapi, pihak Arab Saudi belum memberikan keterangan terkait peristiwa tersebut.

Sebelum serangan Agustus lalu, pemberontak Houthi telah melakukan serangan mematikan di kamp pelatihan keamanan dekat kota kedua yang dikuasai pemerintah Yaman, Aden. Houthi juga telah meningkatkan serangan rudal dan pesawat tak berawak melintasi perbatasan dalam beberapa pekan terakhir.

Situasi Yaman bertambah parah di tengah konstelasi konflik yang belum mereda. Yaman telah terperosok dalam konflik dan pertikaian sejak koalisi pimpinan Arab Saudi "turun tangan" pada Maret 2015 dalam upaya memulihkan pemerintah Yaman yang digulingkan dari kekuasaan di ibu kota Sanaa oleh pasukan Houthi pada akhir 2014. 

Koalisi Arab Saudi telah melakukan intervensi untuk mendukung pemerintah Yaman pada 2015 ketika Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi melarikan diri ke pengasingan Arab Saudi, ketika pemberontak mendekati wilayah terakhirnya yang tersisa di dalam dan sekitar Aden. Sejak peristiwa itu, konflik telah menewaskan puluhan ribu orang, banyak dari mereka warga sipil.

Proxy War dan Kontestasi Politik

Kekuatan Houthi yang didukung oleh Iran menjadi ancaman bagi Arab Saudi. Kondisi ini juga menjadi pertarungan "proxy war" antarkedua negara, Iran dan Arab Saudi. Pihak Houthi yang disuplai militer dan bantuan dari Iran membuat Arab Saudi kelabakan. Pasalnya, Arab Saudi juga harus memikirkan bantuan dalam biaya yang cukup besar dalam konflik Yaman.

Di tengah wabah covid-19 yang menyerang berbagai negara di dunia, termasuk Arab Saudi juga merasakan dampaknya. Ibadah haji dan umrah pun harus dijalankan dengan protokol kesehatan dan hanya sedikit saja yang bisa menjalankannya. Situasi diperparah dengan harga minyak yang anjlok. 

Terlebih Yaman juga mengalami kondisi parah. Pandemi covid-19 telah membuat Yaman harus menderita. Perseruan antarkubu Houthi dan pasukan pemerintah Yaman menambah penderitaan negara tersebut.

Meski genjatan senjata telah dilakukan antarkubu, tetapi kubu Houthi dan pasukan pemerintah Yaman tetap berseteru. Bahkan, pandemi covid-19 makin merajalela. Kondisi tersebut membuat Yaman harus menanggung dua situasi sulit, yakni perang dan pandemi.

Konflik Yaman-Arab Saudi adalah konflik kepentingan politik. Pertikaian antarkedua negara tersebut telah menjadi perbincangan dunia internasional. PBB juga terlibat dalam memediasi perdamaian konflik Yaman. Tetapi, beberapa negara Barat justru mengirim suplai bantuan militer atas perseteruan Yaman-Arab Saudi.

Perseteruan Tanpa Akhir?

Konflik Yaman akan terus bergejolak dan tensi ketegangannya cenderung fluktuatif. Korban konflik telah banyak berjatuhan dan ujungnya rakyat Yaman menderita. 

Berdasarkan data The Armed Conflict Location & Event Data Project menyatakan bahwa, koalisi pimpinan Arab Saudi yang memerangi pemberontakan Houthi bertanggung jawab atas 8.000 dari sekitar 11.700 kematian akibat penargetan langsung pada warga sipil.

Konflik Yaman-Arab Saudi seolah menjadi perseteruan tanpa akhir. Kepentingan politik antarkubu dan intervensi dari berbagai pihak menjadi faktor mengapa konflik terus memanas. Apalagi kontestasi antara Iran dan Arab Saudi juga menambah pemicu perseteruan abadi tersebut.

Perpecahan internal Yaman sebenarnya telah terjadi selama bertahun-tahun. Yaman Utara dan Selatan bersatu menjadi satu negara pada tahun 1990. Tetapi separatis di selatan mencoba untuk melepaskan diri dari utara pro-pemerintah pada tahun 1994. 

Pasukan mereka pun dipukul mundur. Banyak kekuatan dan sumber daya mengalir ke ibu kota utara Sanaa. Situasi tersebut membuat marah banyak orang selatan.

Mantan Presiden Ali Abdullah Saleh telah memerintah Yaman utara sejak tahun 1978 dan negara tersebut bersatu setelah tahun 1990. Tetapi ia mengasingkan banyak orang Yaman. Kerabatnya mengendalikan bagian inti dari tentara dan ekonomi. Bahkan tindak korupsi merajalela pada masa kepemimpinan Saleh.

Di ujung utara, beberapa sekte Zaydi dari Islam Syiah juga menimbulkan masalah. Zaydi telah memerintah Yaman utara hingga revolusi terjadi tahun 1962. 

Tetapi pusat pemerintahan mereka sekarang dalam kondisi miskin. Pada akhir tahun 1990-an, beberapa orang Zaydi membentuk kelompok Houthi, yang memerangi tentara Yaman dan bersahabat dengan Iran.

Konflik Yaman bakal terus menjadi persoalan krusial di Timur Tengah. Apalagi tensi perseteruan semakin menegang. Pasukan pemerintah Yaman dan Houthi sama-sama ngotot dan gencatan senjata hanya berlaku sementara saja. 

Sementara Arab Saudi juga harus mengkalkulasi cost yang dikeluarkan dan apa saja kemungkinan yang bisa terjadi dalam mendukung pemerintah Yaman.