Menurut The United Development Programme (UNDP), dimensi pembangunan manusia itu terdiri dari dua aspek. Pertama, peningkatan kemampuan manusia yang terdiri dari peningkatan waktu hidup yang lebih lama dan sehat, peningkatan standar kehidupan yang layak. Kedua, penciptaan kondisi yang memungkinkan terjadinya pembangunan manusia.

Dari kedua aspek yang sudah dipaparkan, jika ditinjau secara sederhana, maka aspek pertama yang ditekankan pada dimensi pembangunan manusia adalah aspek kesehatan. Karena dengan kesehatan, jangka waktu seseorang dalam memanfaatkan kehidupan akan lebih banyak. Dengan demikian, masyarakat yang sehat akan lebih produktif dibandingkan dengan masyarakat yang sakit. Maka akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi sebuah tempat.

Di Indonesia sendiri, isu mengenai kesehatan sering kali digunakan dalam visi, misi, dan program kerja yang dijanjikan oleh para calon legislatif maupun eksekutif. Namun pada tahap pelaksanaan, masih ada saja kendala atau permasalahan yang berkaitan dengan kesehatan. Salah satunya yang terjadi di daerah kepulauan Kabupaten Seram Bagian Timur (Kab. SBT), Maluku. 

Di sana, masih banyak warga yang sakit namun tak mendapat pelayanan kesehatan dan distribusi tenaga kesehatan yang terbatas lantaran semua bergantung pada jatah pegawai kontrak atau CPNS dari pemerintah. Mayoritas kampung di sana tidak memiliki tenaga kesehatan, sarana dan prasarana kesehatan yang jauh dari kata layak, serta banyak tragedi kematian yang terjadi karena lambannya penanganan kesehatan.

Puncaknya pada tahun 2014, sebuah kisah getir terjadi, tepatnya di Desa Suru, ada seorang bapak paruh baya meninggal akibat hepatitis yang dideritanya. Penyakit si bapak tak mampu dideteksi dini disebabkan tak ada satupun dokter di sana, meskipun ada sarana kesehatan namun jauh dari kata layak. 

Ada sebuah Pustu (Puskesmas Pembantu) yang dibangun pemerintah daerah namun tidak ada peralatan apa pun di sana, apalagi tenaga kesehatan. Alhasil, warga hanya mengandalkan dukun (tabib kampung) untuk konsultasi dan berobat.

Singkatnya, seluruh keluarga pasrah dengan keadaan si bapak sampai akhirnya meninggal dunia setelah terbaring sakit di rumah selama dua minggu. Lebih nahas lagi, jasad almarhum terpaksa dikafani dengan 3 lembar kain kafan pinjaman dari tetangga. Bukan lantaran keluarga tak mampu membeli, tapi kondisi kepulauan yang seluruh bahan baku rumah tangga dan keperluan semacam ini kerap kali hanya tersedia di pulau lain dan saat itu musim ombak angin timur tengah berkecamuk.

Kegetiran dan kepiluan semacam ini dituturkan Shulhan Rumaru, salah seorang putra daerah Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, yang sudah tiga tahun belakangan konsisten mengentaskan permasalahan tersebut dengan menginisiasi terbentuknya sebuah komunitas kesehatan yang bergerak secara sukarela dari desa ke desa antarpulau di sana. 

Dengan mengajak adiknya yang bernama Inggrit Safitri juga tetangganya yang sudah berprofesi sebagai dokter yaitu dr. Yulianti S. Arey, mereka bertiga bersepakat untuk membentuk komunitas dengan nama Komunitas Klinik Apung (KKA). Dari sinilah kisah inspiratif Shulhan Rumaru dan puluhan relawan KKA dalam pelayanan kesehatan di masyarakat pun dimulai.

Mengenal Komunitas Klinik Apung (KKA)

Komunitas Klinik Apung (selanjutnya akan menggunakan singkatan KKA) merupakan komunitas yang bergerak di bidang kesehatan dengan format gerakan sosial (social movement) yang berfungsi melakukan penyuluhan dan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat di Kabupaten Seram Bagian Timur (Kab. SBT), Maluku. KKA dalam melaksanakan program melibatkan masyarakat secara luas, terutama kelompok-kelompok terdidik di sana, seperti siswa dan mahasiswa.

KKA sendiri didirikan pada tanggal 23 Februari 2016 dengan inisiator Shulhan Rumaru. Dalam obrolan singkat kami, Shulhan yang justru seorang sarjana ilmu komunikasi politik punya itikad kuat mengentaskan persoalan kesehatan yang kerap kali menjadi momok menakutkan di kampung halamannya. 

Bahkan, menurut Shulhan, dulu jika ada orang yang sakit di kampungnya, itu berarti gerbang maut sudah teramat dekat dengan mereka lantaran tidak ada cara lain untuk berobat kecuali berdoa sebanyak-banyaknya demi kesembuhan. Dari sanalah ia mengumpulkan beberapa sarjana kesehatan, mulai dari dokter, bidan, suster, dan apoteker untuk sama-sama turun tangan menyelesaikan masalah tersebut.

Bermodal semangat luar biasa dan visi “Mewujudkan masyarakat Seram Bagian Timur yang berwawasan hidup sehat dan cinta lingkungan, berbasis gerakan sosial di bidang penyuluhan dan pelayanan kesehatan,” Komunitas Klinik Apung yang didirikannya mulai melakukan pengobatan dan penyuluhan kesehatan gratis dari kampung ke kampung, dari sekolah ke sekolah, juga dari komunitas ke komunitas. 

Dengan slogan “Peduli, Sehat, Bahagia”, para penggerak komunitas ini terus menerjang kondisi-kondisi yang awalnya menjadi permasalahan berat, seperti daerah kepulauan, ombak timur, jarak antardesa yang jauh, terbatasnya tenaga medis, tidak adanya sinyal komunikasi selular, dan minimnya pendanaan.

Mengenai program yang telah dilakukan di antaranya penyuluhan kesehatan di desa-desa, konsultasi kesehatan, dan pengobatan gratis di dua kecamatan desa pesisir, yaitu Kecamatan Siritaun Wida Timur dan Kecamatan Seram Timur. 

Selain itu, ada sosialisasi daur ulang sampah dan produksi kreatif, sunatan massal gratis, bekerja sama dengan sekolah untuk membuat Unit Kesehatan Sekolah (UKS), sosialisasi hidup sehat melalui media sosial, serta pendampingan ibu hamil. Seluruh program tersebut tetap dijalankan meskipun diakui oleh Shulhan masih banyak kendala teknis di lapangan juga kurangnya pasokan obat-obatan.

Suka Duka Mereka

Pada awal pendirian KKA, Shulhan mengaku sedikit ragu akan eksistensi dan konsistensi komunitasnya karena besarnya tantangan di lapangan dan biaya operasional. Namun berkat dukungan positif dari warga di sana, Shulhan dkk mampu melewati fase-fase sulit tersebut. 

Tantangan terberat yang para penggerak KKA adalah keterbatasan peralatan medis dasar seperti tabung portable, nasa canul, ambu bag, P3K kit bag, tensimeter, dan beberapa peralatan medis lainnya, karena memang belum memiliki donatur tetap, sehingga setiap anggota KKA mesti iuran untuk membeli alat maupun obat-obatan, bahkan beberapa alat medis yang digunakan di komunitas adalah milik para voluntir.

Selain itu, ada juga bantuan dari warga sekitar seperti speedboat dari Kepala Desa Suru dan satu boat tradisional beserta mesin dari sanak keluarga anggota KKA. Kedua alat transportasi itulah yang digunakan oleh KKA untuk program unggulan mereka, yaitu Ambulance Apung guna mengantar-jemput para pasien maupun jenazah.

Dampak di Masyarakat 

Dampak dari hadirnya KKA di Kabupaten Seram Bagian Timur (Kab. SBT) ini mulai terasa oleh masyarakat yang notabene hidup di kampung pesisir pantai mulai melek pola hidup sehat. Kerap kali mereka mendatangi komunitas untuk meminta didiagnosa kesehatan atau sekadar konsultasi. Sebagian mereka malah rela membeli obat sendiri di apotek yang jauh dari kampung jikalau KKA tengah kehabisan obat. Kemudian sadar akan pentingnya kesehatan bagi warga guna menunjang keberlangsungan hidup mereka. 

Selain itu, dampak lainnya, saat melakukan sunatan massal dari hasil kolaborasi dengan komunitas lain, banyak masyarakat antusias dan mempercayakan anak-anak mereka untuk disunat dalam acara tersebut. Tentu saja Komunitas Klinik Apung dilibatkan untuk membantu para dokter dan tenaga medis dari rumah sakit kabupaten yang didatangkan dalam kegiatan tersebut.

Dari program lain pun, seperti daur ulang sampah, membawa berkah tersendiri bagi warga maupun sekolah-sekolah yang ada di sana. Masyarakat maupun para siswa lebih menyadari pentingnya pemanfaatan sampah daur ulang. Peserta yang mengikuti kegiatan ini merasa antusias sebab selama ini mereka tak menyadari bahwa sampah pun dapat didaur ulang dan dimanfaatkan untuk menjadi jenis kreasi lainnya.

Kemudian saat melakukan pendampingan ibu hamil (bumil), KKA melakukan edukasi seputar kehamilan dan konsultasi gratis. Program ini disambut antusias oleh para bumil, terutama ibu hamil yang baru mengalami kehamilan pertama.

Puncak dari perjungan para anggota maupun voluntir dari KKA ialah masuknya komunitas ini pada program SATU Indonesia Awards 2018. Sulhan Rumaru, selaku penggagas, pendiri, juga ketua dari Komunitas Klinik Apung memaparkan perjalanan komunitas ini di depan dewan juri. 

Dewan juri dari program Satu Indonesia Award ini bukanlah orang biasa. Juri pada kegiatan ini di antaranya Prof. Emil Salim (Dosen Ilmu Lingkungan Pasca Sarjana Universitas Indonesia), Prof. Nila Moeloek (Menteri Kesehatan Republik Indonesia), Prof. Fasli Jalal (Guru Besar Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta), Ir. Tri Mumpuni (Pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan), Onno W. Purbo Ph.D. (Pakar Teknologi Informasi), serta dari PT Astra International Tbk dan Tempo Media Group.

Setelah melewati beberapa seleksi penjurian yang begitu ketat, akhirnya Komunitas Klinik Apung dinyatakan lolos sampai tahap final pada program SATU Indonesia Awards 2018. Mengenai pengumumannya, akan dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober 2018. Semoga Komunitas Klinik Apung bisa memenangkannya.

Semoga dengan hadirnya organisasi seperti ini membuka perspektif kita. Bahwa sebernarnya perkembangan kemajuan sebuah bangsa bukan hanya bergantung pada sebuah negara, namun dibutuhkan gerakan yang harmonis dari warga serta negara.