Sejumlah pandangan filsafat teknologi dari Gabriel Marcell, Martin Heidegger, Don Ihde, atau di Indonesia kita mengenal nama, Francis Lim memang tak dapat dipungkiri. Hampir semua dari nama-nama tersebut berpendapat bahwa teknologi telah mereduksi nilai-nilai ideal dalam diri manusia. Teknologi telah mendistorsi eksistensi kesadaran manusia.

Perkembangan teknologi yang kian canggih memang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan kita sehari-hari. Hampir segala bidang seperti kedokteran, pekerjaan, waktu senggang, dan politik kita sedang melihat komputer, telekomunikasi dan miniaturisasi yang semakin lama kian melampaui batas.

Agaknya kita melihat kompleksitas teknologi itu meledak sejak tahun 1980-an. Hal ini terjadi setelah pertengahan tahun 1950 hingga 1970 perkembangan teknologi kita masih sangat terbatas.

Televisi misalnya, yang berjalan agak pelan pada rentang tahun 1950-an sampai dengan tahun 1980-an, telah meledak kompleksitasnya dalam beberapa tahun terakhir sehingga kita sekarang dapat mengakses ratusan layanan dengan suara stereo, interaktivitas, dan fitur-fitur kontemporer.

Sistem telekomunikasi kita juga relatif statis selama kurang lebih 60 tahun, sekarang diartikan dengan biasanya kita mengirim dan menerima kata, film dan suara secara internasional.

Di tahun 1970-an, tidak banyak orang yang berpikir bahwa mereka akan memiliki komputer pribadi ketika komputer adalah kotak raksasa yang menghabiskan ruang dan harus dioperasikan oleh para ahli dalam bidang matematik. Kini komputer menjadi barang yang hampir ada di setiap rumah.

Ketika komputer datang dengan pengolah kata ataupun spreedshet yang dapat membantu manusia dalam menyelesaikan pekerjaan, orang mulai menganggap bahwa teknologi membawa pada keselamatan (technology as salvation).

Dan sejak hadirnya gim komputer, persepsi orang yang menganggap komputer hanya untuk kerja serius telah berubah. Orang mulai melihat komputer sebagai sumber kesenangan, alat kesenangan hidup. Konon, game komputer yang pertama kali muncul adalah Spacewar. Game tersebut dibuat untuk PDP-1 komputer mini oleh Digital Equipment dengan bantuan developer seperti Martin Graetz, Pete Simson dan Dan Edwards.

Pengalaman saya ketika masih sebagai pelajar SMP yang baru mengenal komputer sekitar tahun 2007 silam, gim komputer seperti 3D Pinball, Chips Challenge, dan Minesweeper telah menjadi kesengangan yang luar biasa saat bermain.

Dibandingkan dengan saat ini, game-game tersebut ternyata masih sangat sederhana. Apalagi sejak kemunculan jaringan internet, para developer seolah mendapat angin segar untuk mengembangkan game dengan koneksi internet yang kemudian disebut game online.

Mengenai gim online, kemunculan Pokemon Go belakangan ini sempat menjadi perbincangan hangat yang merebak di kalangan kementerian maupun penikmat kopi pinggir jalan. Berbasis augmented reality serta menggunakan dukungan Global Position System (GPS), Pokemon Go berhasil menghebohkan para pecinta game di dunia, termasuk Indonesia.

Namun baru-baru ini, media komunikasi saya seperti Whatsapp, BB Messenger, dan Line dipenuhi dengan kiriman sebuah tulisan Dekan Fakultas Psikologi UGM, Prof. Dr. Tina Afiatin, M.Psi, yang berjudul Ancaman Serius dari Game Pokemon Go. Tulisan itu menyatakan bahwa game Pokemon Go sengaja diciptakan oleh para kaum Bilderberg guna membangun perangkat inetelijen dalam bentuk game yang terbalut teknologi interconnecting geospasial.

Ketika Google Earth dan Google Maps tak mampu menjangkau gambaran sempurna 3D dalam sebuah wilayah, maka kaum Bilderberg menggagas ide baru untuk membuat game yang dapat memetakan setiap sudut wilayah negara-negara dimana para user mengaktifkan fitur kamera, maps, dan data selular. Dari penjelasan Prof. Tina diatas, sekonyong-konyong isu pemblokiran Pokemon Go pun menjadi topik utama perbincangan publik.

Serupa dengan Prof. Tina, Izuddinsyah Siregar dalam artikelnya, Pokemon Go dan Keamanan Nasional, juga menuliskan pandangannya berdasarkan sejumlah teoritis tentang keamanan negara serta sumber ancaman negara. Pada titik ini, keduanya -baik Prof. Tina maupun Izuddinsyah- tampaknya mengalami kekhawatiran yang sama terkait kemunculan Pokemon Go.

Namun permasalahan menjadi jelas ketika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI menegaskan tidak akan memblokir gim tersebut. Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Kemenkominfo, Ismail Cawidu mengatakan, “Dalam game itu tidak ada hal yang melanggar undang-undang dan aturan kita.”

Pendapat Prof. Tina, Izuddinsyah, atau siapa pun yang memiliki kekhawatiran serupa agaknya terlalu berlebihan. Pakar keamanan siber, Pratama Pershada, mengatakan bahwa data-data game yang dihasilkan dari titik lokasi strategis sebagai Pokestop dan Gym dikirimkan ke server pengembangnya, bukan pihak-pihak yang mencurigakan.

Berdasarkan pengecekan yang dilakukan tim Communication and Information System Security Research Center (CISSReC), ketika gim Pokemon Go dimainkan, aplikasi akan diarahkan ke beberapa situs yang merupakan server gim yang berada di California.

Mengenai data foto lokasi ketika user menangkap Pokemon, besaran data yang dikirimkan ke server Niantic tidak lebih dari 50 kilobytes. File data sebesar itu jelas-jelas tidak cukup untuk berkas foto dengan kualitas bagus.

Pada akhirnya, segala sesuatu, tak terkecuali teknologi yang ditransfer ke kondisi sosial-budaya yang baru memang tidak bisa dilihat sebagai netral tanpa mempertimbangkan nilai sosial-budaya dan dampaknya. Pokemon Go dalam hal ini hanyalah sebuah permainan. Dan setiap permainan disediakan oleh zaman. Dulu kita bermain pistol dari pelepah pisang, sekarang pakai teknologi.

Kalaupun kita memang harus menghadapi teknologi dengan pandangan non-netralitas, tentu ada hal yang lebih penting dari sekadar kekhawatiran yang kenakan-kanakan, yaitu membuat kerangka filosofis yang memuat nilai-nilai etis, terlebih Pancasilais, dalam teknologi. Hal itu perlu, karena sekali lagi: Teknologi bukanlah sesuatu yang netral.