Kata jomblo mungkin telah akrab di kalangan muda-mudi era millenial seperti dewasa sekarang. Kata serapan yang diambil dari bahasa Sunda jomlo (read ; wanita tua) yang secara implisit juga mengandung arti seorang yang belum memiliki pasangan sampai usia tua, kini telah menjerembab ke seluruh lapisan, bukan hanya wanita, pria pun demikian. Tak kenal usia, tua-muda, tapi jangan sampai masuk usia balita.

Jomblo seolah hampir mendapat tempat yang asusila perspektif sosialisme. Adanya stigma ketidakpercayaan diri pihak jomblo saat malam minggu kian menguatkan adanya gejala ketimpangan sosial yang marak terjadi.

Melansir cuitan @Greschinov Founder Fakta Bahasa dalam akun Tweeter miliknya, “Indonesia begitu darurat pelukan, sampai-sampai ada dalam pikiranku, jika ada orang yang begitu berat perasaan dan jiwanya karena beban yang menimpa, bahkan bagi orang tak kenal dekat sekalipun, ia boleh memeluk dan menangis kepadaku. Mana yang butuh pelukan? Sini peluk,” cuitnya.

Banyak kejadian patah hati terhebat kalangan muda-mudi sebelum menemukan cinta sejatinya. Dalam media sosial pun marak beredar video-video durasi pendek tentang nir geliat dan semangat hidup pasca di tinggal menikah mantan kekasihnya. 

Terbukti dengan adanya perobohan beberapa terop/tenda di tempat pernikahan yang dilakukan seseorang yang ditinggal kekasihnya menikah. Ini salah satu bukti, harus adanya sikap dewasa untuk merevitalisasi semangat dan geliat hidup pasca patah hati atau ditinggal nikah.

Harus adanya seseorang yang berani mengabdikan diri untuk masyarakat tuna asmara dan tuna belaian seperti ini. Posisinya yang sedemikian strategis dalam meruwat stabilitas politik dan sosial negara menambah keuntungan akan hal demikian. Menempatkan dirinya sebagai seorang tenaga penyuluh guna mengembalikan geliatnya dalam mengembangkan potensi diri dan juga prestasi masyarakat jomblo.

Cinta dan malam Minggu seolah menjadi barang komersial setiap minggunya. Pihak yang berpasangan di antara tetangganya yang tuna asmara, saling sindir dengan banyaknya jumlah story bersama kekasihnya. Sedang masyarakat jomblo sibuk bertafakkur dan berdoa agar hujan turun tepat di malam Minggu. Ini tentu dirasa tampak kurang elegan.

Terdapat suatu kata pernyataan kala itu: “Menikah dini banyak problema, tingkatkan prestasi, tunda nikah dini.” Penulis bukan tidak mendukung adanya nikah dini sebagai solusi maraknya kemaksiatan muda-mudi. Tapi alangkah lebih tepatnya jika menunda sekuat mungkin jalinan percintaan (pacaran) dengan suatu tindakan peningkatan potensi yang ada dalam diri guna menunjang aktualisasi antar pribadi.

Sangat disayangkan sebenarnya saat ditemukan meme dua muda-mudi yang duduk di bangku Sekolah Dasar saling beradu argumentasi dikarenakan terdapat perselisihan dengan berjalannya balutan kasih mereka. “Kamu bisa nggak lebih dewasa dikit?” Sedang jawabannya, “Kamu masih saja tetap kekanak-kanakan.” Maha benar Tuhan dengan segala firman-Nya.

Kemirisan makin meruak tatkala seseorang yang semula saling mencintai, tiba-tiba harus berpisah dengan alasan tertentu kemudian tak saling menyapa. Padahal sebelumnya mereka saling beradu rasa, saling berpagut rasa. Saat berpisah sekarang? Seolah tak saling kenal. Sudah sepatutnya mereka bertanya, siapa yang paling tak berperasaan di antara mereka? Kamu atau dia?

Terpaan seperti ini banyak terjadi memang. Sudah saatnya dua kubu masyarakat jomblo dan masyarakat yang sedang menjalin tali percintaan saling mendukung di antara mereka. Sehingga kubu tuna asmara dengan waktu yang tepat, bukan cepat, mampu menemukan pasangan hidupnya. Sedang masyarakat yang sedang menjalin percintaan, tak menyindir masyarakat tuna belain dengan eksotisme model berpacaran. Biarlah itu terbungkus privat hubunganmu.

Tak ayal, semakin tidak terkontrolnya muda-mudi tuna asmara melakukan tindakan amoral. Itu atas dasar pengalaman patah hati terhebatnya. Kalau demikian, siapa yang bertanggung jawab akan penderitaan seperti ini? Letak kegiatan yang sehat bukannya didasari psikologi yang sehat pula?

Diskusi panel harus segera diadakan guna mengungkap posisi jomblo dalam perspektif sosialisme. Itu semua guna menjamin stabilitas negara. Akan miris lagi jika sosial media didominasi kalangan muda-mudi yang mencurahkan isi hati (putus cinta, sindir-sindiran dengan mantan) dalam sosial media, yang notebenenya itu bukan wilayah private, tapi publik. Boleh? Tentu, tapi lebih jika yang dicuitkan ialah hal-hal positif.

Dengan dominasi kaum muda dalam kancah politik dan bernegara yang getol merealisasikan tindakan positif ditambahkan hal-hal positif menggandrungi dan merasuk dalam setiap sendi kehidupan nyata dan maya. Kita yakin, negara ini akan semakin literate, cepat ataupun lambat.

Negara telah mewariskan budaya gotong royong antarmasyarakat. Apabila masyarakat tuna asmara dan tuna belaian tidak didampingi dengan penyuluhan-penyuluhan akan revitalisasi semangat hidup mereka, bagaimana kita merealisasikan warisan nenek moyang yang ada?

Ke-jomblo-an biarlah menjadi ke-jomblo-an milikmu sendiri (partikelir) tanpa ada tumpangan pihak lain yang dapat menggoncahkan alam pemikiran. Mungkin saja, dengan menjomblo, semangat menggali potensi dan prestasi akan lebih optimal. Setelah itu, sumbangkan sedikit waktu untuk mengabdikan diri bagi masyarakat tuna asmara dan tuna belaian yang mulai merosot semangat dan geliatnya dalam mengaktualisasikan dirinya.

Setuju ataupun tak? Bilang! Jangan hilang!