Tika (Raline Shah) berlari naik bis sambil membawa maket. Sialnya, maket tersebut sempat penyok terhimpit penumpang. Mahasiswi arsitektur miskin itu pun diejek oleh mahasiswi kaya saat memperbaiki maket. Narasi Tika mengantar adegan pembuka untuk menggambarkan keluarganya dalam Orang Kaya Baru (OKB).

Ayah (Lukman Sardi) mendidik keluarga untuk hidup sederhana. Ibu (Cut Mini) membantu ekonomi keluarga semampunya. Tika sintas dalam kehidupan sosial di kampus dengan kecerdasannya. Meskipun ia menyimpan hasrat menjadi orang kaya.

Duta (Derby Romero), kakak Tika, berusaha keras membiayai pertunjukkan teater. Sutradara muda tersebut berjuan mempertahankan idealismenya. Sementara Dodi (Fatin Unru), si adik bungsu, selalu dirisak akibat kemiskinan oleh teman-temannya di sekolah mewah.

Walaupun hidup miskin yang berkelindan dengan hasrat menjadi orang kaya, Tika, Duta, Dodi dan Ibu hidup bahagia. Bapak selalu menekankan pentingnya kebersamaan. Harmoni keluarga lebih mahal dari sekedar kekayaan.

Namun, kematian mendadak bapak, tiba-tiba mengaburkan kehidupan Ibu dan anak-anak. Masa depan mereka seketika gelap. Di saat itu, datanglah pengacara (Verdi Solaeman) yang membawa wasiat bapak. Bapak ternyata mewariskan harta dalam jumlah yang tak terbayangkan sebelumnya.

Ibu, Tika, Duta dan Dodi kini hidup bergelimang harta. Warisan bapak menjadikan mereka Orang Kaya Baru. Ironisnya, masalah datang justru di saat mereka bisa memenuhi hasrat hedonisme. Lalu, bagaimana dengan nilai-nilai yang selalu ditanamkan oleh bapak?

Kekagetan keluarga Tika menggunakan warisan kekayaan almarhum bapak cukup memancing tawa. Sikap berlebihan akibat rasa takjub memiliki harta benar-benar sukses dieksplorasi sutradara Ody C. Harahap.

Perubahan gaya hidup yang ditampilkan cukup unik. Film ini tidak menggambarkan prasangka subyektif kuno bahwa orang kaya baru akan cenderung memainkan kuasanya pada orang yang lebih miskin OKB pun tidak menampilkan lelucon kasar orang miskin yang mendadak menjadi kaya.

Fokus utama film ini menampilkan cara mereka mengelola dan memaknai uang. Bukan menertawakan tingkah laku kaget mereka ketika berubah menjadi kaya. Hampir tidak ada adegan yang menertawakan table manner mereka, misalnya.

Sindiran post-colonial dalam film ini cukup menarik. Satir tentang silaunya oknum sesama bangsa kita ketika memandang orang Barat digambarkan cukup segar. Sindiran tersebut diakhiri pelintiran memikat. Pelintiran yang menyindir stereotip kita tentang kaitan rupa fisik dengan asal bangsa tertentu.

Nilai-nilai kerja keras dan kebersamaan disampaikan secara halus dan segar. OKB tidak menggurui penonton tentang nilai-nilai apa yang harus diutamakan dalam hidup mereka. Film ini mengemas kebijaksanaan dalam humor dengan cukup baik.  

Akting para aktris dan aktor, umumnya, cukup mengesankan. Lukman Sardi, sangat meyakinkan berperan sebagai ayah lucu, santai sekaligus bijak. Bintang utama film ini adalah Cut Mini. Saat masih miskin, Lukman Sardi masih mendominasi peran Cut Mini.

Namun ketika berubah menjadi kaya, Cut Mini benar-benar menjadi magnet. Ia menjadi pusat gelak tawa. Cara noraknya menghabiskan uang untuk kegiatan altruistik berhasil mengundang tawa sambil menepis label OKB yang cenderung sombong pada orang miskin.  

Raline Shah meyakinkan sekali menjadi sudut pandang utama film ini. Dialah narator utama OKB. Raline sangat mulus menampilkan rentang emosi lucu, sedih dan jatuh cinta. Hanya Fatih Unru yang berhasil mengimbangi peran Raline Shah dalam ukuran jangkauan emosi yang mirip.

Fatih Unru berhasil menyajikan emosi lucu, kesepian dan sedih. Aktingnya dalam OKB memenuhi standar penghargaan Pemain Anak Pilihan Tempo yang diterimanya tahun. 2018.  Derby Romero dan Reval Hardy berperan cukup aman. Tidak buruk tapi juga tidak istimewa.   

Hanya, emosi dalam film ini terasa kurang greget. Film ini lemah menghadirkan klimaks-klimaks yang menempatkan penonton di antara dua kemungkinan kontras. Satir dan sarkas pada hedonisme pun sebenarnya bisa disajikan lebih menggigit.

Cara film ini menutup cerita pun tidak mengesankan. Tampaknya Joko Anwar, penulis skenario, memang tidak bermaksud mengakhiri film dengan kesimpulan. Namun adegan akhirnya tidak cukup kuat mengundang rasa penasaran.

Orang Kaya Baru menampilkan komedi yang cukup segar. Drama ringan penuh kelucuan, sindiran dalam OKB jauh lebih cerdas menghibur dibandingkan Warkop Reborn: Jangkrik Boss Part 2. Film terakhir adalah film Indonesia terburuk yang bergenre komedi. Meskipun meraih enam juta penonton lebih.

Bila Anda ingin melihat satir perilaku kaget orang miskin yang berubah menjadi kaya dengan tiba-tiba, OKB akan membayar lunas tiket bioskop Anda. Uniknya, OKB tidak akan membuat Anda menjadi merasa lebih berkelas dibanding OKB setelah keluar bioskop. 

Film ini relatif tidak mengobjektivikasi OKB. Film ini menertawakan cara mereka mengelola dan memaknai uang dengan cerdas.

Cuplikan Resmi Orang Kaya Baru:

https://www.youtube.com/watch?v=ZY4clGa250c