Suatu malam rembulan terbentuk sangat sempurna, cahayanya menembus teralis besi hingga seorang tahanan penista agama dapat tidur pulas dan bermimpi indah.

"Selamat malam warga langit, berjumpa kembali bersama saya, dalam acara Kokoh Show!"

Koh bermimpi sedang menjadi MC acara talk show yang memang menjadi impiannya setelah bebas nanti.

"Tamu kita malam ini, adalah 2 orang Guru Bangsa kita. Mari kita sambut dengan meriah, Bung dan Gus!" Semua penonton bangkit berdiri dan memberi tepuk tangan pada kedua bintang tamu dengan stelan jas serta menggunakan peci hitam, berjalan memasuki panggung.

"Wah..ganteng-ganteng nih Bung dan Gus."Puji Koh," tapi Gus tumben pake jas, biasanya pake kolor dan kaos oblong Gus" Canda Koh yang diikuti tawa semua penonton, Bung dan Gus.

"Itu dulu Koh, maknanya supaya lawan saya nganggap saya bukan seperti presiden, jadi mereka bisa tenang gak perlu kuatir" Jelas Gus.

"Tapi banyak yang bilang itu penghinaan Gus?"

"Itulah politikus kita Koh, sibuk melihat bentuk atau simbol bukan fungsi atau makna dibaliknya Koh" Jawab Gus menjelaskan sekali lagi.

"Iya juga sih Gus, tuh Mas Presiden selalu digituin. Banyak yang ngejek si Mas kerna pakai jaket tapi peta Indonesia terbelah, naik motor chopper dibilang penjahat. Serba salah"

"Kok bingung Koh, itu tugas mereka menjelekkan lawan. Gitu aja kok repot!" Sanggah Gus sambil tertawa.

"Melihat secara bentuk itu penting, tapi jauh lebih penting memaknainya." Bung menambahkan, sambil mebuka peci-nya.

Bung menjelaskan kalau peci yang digunakannya bermakna sebagai perlawanan rakyat Indonesia terhadap kolonialisme. Peci ini melambangkan semangat seluruh rakyat Indonesia. Kemudia Bung memakaikannya ke kepala Koh.

"Tapi saya bukan muslim Bung" Kata Koh saat menerima Peci dari Bung.

"Itu, kamu hanya melihat bentuk. Peci memang sering dipakai oleh kaum Muslim, tetapi saat masa perjuangan ini melambangkan keribadian Indonesia dari sabang sampai merauke."

Koh hanya mengangguk, dan Gus pun tersenyum.

"Jadi seharusnya mereka gak perlu menjual citra calonnya dengan berbadan bagus, ganteng, modis, dan lainnya ya Bung?" tanya Koh

"Zaman now zaman edan. Dulu kami berteriak, berdiskusi, menulis di koran atau membuat buku yang berisi gagasan kemerdekaan Indonesia. Kami dikenal dengan pemikiran kami bukan bentuk fisik kami."

"Tinggimu berapa Koh?" Tanya Gus

"180 cm Gus"

"Pak Habibi dan Amin Rais gak setinggi kamu tapi profesor." Kata Gus sambil disambut tawa para penonton.

"Jadi Gus mau bilang jangan lihat tinggi badannya tapi lihat otaknya? Koh minta penjelasan lebih.

"Yaa bisa jadi begitu" Jawab Gus sambil bercanda," tapi kamu tau beda kedua profesor itu?"

Koh menggeleng, semua penonton pun ikut terdiam.

"Yang satu bisa jadi presiden yang satu gak akan jadi presiden" Canda Gus sambil tertawa dan semua pun ikut tertawa.

"Lalu bagaimana pendapat Bung dan Gus tentang kata si profesor kalo ada partai Allah dan partai setan?" Tanya Koh.

"Saya belum tahu betul tentang Allah, tapi saya merasa pasti bahwa Allah yang profesor itu katakan tidak cocok dengan pendapat saya" Ujar Bung. "Dulu logika saya pernah berpikir bagaimana menjadi Allah, sementara saat ini banyak orang yang logikanya menciptakan Allah sesuai keinginannya. Syukurlah Allah itu maha pengampun"

Bung melanjutkan, jika seseorang berani mengklaim dia bagian dari partai Allah, maka dia harus berani membuktikan bahwa partainya memang cerminan dari kesucian Allah, namun kenyataannya berbeda, semua partai telah "mengirimkan" kadernya untuk menjadi "model" rompi oranye KPK. Bahkan partai yang mengaku berbasis agama pun tak lepas dari jeratan korupsi.

"Lagian, gak pernah saya lihat deklarasi pembentukan partai yang tanda tangan Allah" Gus kembali bercanda

"dan jika ada, masa selama ini gak pernah partai Allah menang pemilu, kalah mulu dari partai setan?" Sambung Bung

"Itu karena allah Maha pengasih dan suka mengalah Bung" Jawab Koh.

"Inilah lucunya Indonesia, rumah Allah dibongkar,rumah Allah sulit dibangun,orang diusir jika mau datang ke rumah Allah. Kenapa? kerna allah gak di rumahnya, tapi sibuk diajak bikin partai politik" Ujar Gus bercanda.