Korp-HMI-Wati (KOHATI) merupakan bagian dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang bergerak di bidang Perempuan. Kohati berdiri pada Kongres VIII HMI yang saat itu dilaksanakan di Solo pada tahun 1996.

Maesaroh Hilal dan Siti Zainah merupakan dua orang perempuan yang namanya masuk ke dalam pendiri HMI. Dan dua orang inilah yang meprakarsai berdirinya KOHATI, dibantu dengan beberapa perempuan lain seperti Siti Baroroh, Tujimah, Tedjaningsih, Ida Ismail Nasution, dan Anniswati Rochlan.

Sebelum dibentuknya KOHATI, di dalam struktural pengurus HMI ada departemen keputrian yang dikhususkan untuk menampung aspirasi dalam hal keperempuanan. Namun, wadah tersebut mempersempit ruang perempuan untuk lebih berkreativitas. Apalagi saat masa peralihan dari Orde Baru menuju Orde Lama, di mana ada peningkatan kesadaran kaum perempuan untuk turut aktif dalam segala aspek kehidupan yang lebih besar.

Sehingga pada tanggal 17 September 1966 dilaksanakan musyawarah nasional pertama KOHATI. Terpilihlah Annisa Rochlan sebagai ketua umum pengurus besar KOHATI yang pertama. Beriringan dengan pembentukan KOHATI pada tubuh HMI, di angkatan bersenjata juga didirikan korp-korp di angkatan bersenjata. Misalnya Korp Angkatan Laut (KOWAL), Korp Angkatan Darat (KOWAD), Korp Angkatan Udara (KOWAU) dan Polisi Wanita (POLWAN).

Selain untuk memilih ketua umum, musyawarah nasional pertama juga menghasilkan peraturan dasar KOHATI, program kerja dan susunan pengurus. Berpedoman dengan hasil musyawarah tersebut, kegiatan awal yang dilakukan adalah konsolidasi dengan seluruh cabang agar membentuk kepengurusan KOHATI di tingkat cabang.

Perjuangan awal KOHATI dalam memperkuat peranannya dalam ruang perempuan tidak lepas dari hambatan-hambatan. Terutama dari dalam tubuh HMI, timbul penilaian negatif terhadap KOHATI di mana HMI menganggap KOHATI ingin melepaskan diri dari HMI. Sebaliknya, KOHATI merasa seolah-olah dilepaskan dari HMI. Namun persoalan ini bisa diatasi dengan menghadirkan peningkatan kualitas KOHATI. Sehingga bisa menjalankan KOHATI sesuai tujuan besar di HMI.

Seluruh perempuan yang tergabung di dalam HMI merupakan anggota KOHATI. Seperti yang tertera dalam pedoman dasar KOHATI bab V pasal 8 yang berbunyi ‘Anggota KOHATI adalah mahasiswi yang telah lulus latihan kader 1’. Sehingga setelah selesai pelatihan tersebut, perempuan sudah menjadi kader HMI sekaligus KOHATI.

Sebagai anggota KOHATI, tidak hanya mengerti dengan konstitusi HMI, nilai dasar perjuangan dan tujuan HMI. Namun, diberikan juga pemahaman tentang diri perempuan yang memang hanya bisa dipahami oleh perempuan itu sendiri.

Seperti dalam skema analisis tujuan KOHATI, di mana untuk meningkatkan kualitas diri sebagai kader, KOHATI harus mengerti tentang agama Islam. Tidak hanya KOHATI, namun juga kader HMI keseluruhan harus mengerti tentang ini. Karena agama adalah salah satu pegangan muslim agar tak mudah putus asa dan yakin akan ketentuan-ketentuan yang telah di tetapkan-Nya.

Yang tidak kalah penting yaitu tentang perempuan dalam arti khusus. Inilah yang menjadi salah satu tujuan terpenting dibentuknya KOHATI. Sehingga anggota KOHATI sadar akan peran yang akan dijalaninya sebagai seorang perempuan. Peran yang pertama adalah sebagai seorang putri.

Peran sebagai putri dari kedua orangtua di antaranya belajar agar tidak mudah membantah apa yang menjadi nasihat dari keduanya. Menjadi seorang putri dalam keluarga adalah awal tempat belajar untuk mengenal ruang domestik. 

Sehingga saat status perempuan berubah menjadi seorang istri, tugas di dalam rumah tangga tidak dipandang sebelah mata. Dan juga tidak meremehkan satu di antara kedua tugas tersebut yaitu sebagai istri dan ibu untuk suami dan anak dalam ranah domestik dan sebagai seorang pekerja dalam ruang publik.

Selanjutnya, akan menjadi seorang ibu. Ibu merupakan adrasah pertama untuk anak-anaknya. Untuk itu, perempuan diharuskan mampu memberikan pelajaran terbaik kepada anak-anaknya dimulai saat anak masih dalam kandungan hingga anak-anak beranjak dewasa dan mengerti tugasnya sebagai seorang anak dan sebagai warga negara bangsanya.

Selain segala urusan tersebut, sebagai perempuan tak lupa juga dengan kewajiban sebagai masyarakat sosial yang memerlukan keterampilan dari dalam diri agar tak mudah menyinggung orang lain dari sikap kita dan sebaliknya, tersinggung atas apa yang orang lain lakukan.

Pembangunan keluarga berencana, kesehatan dan pendidikan merupakan hal yang harus dimiliki KOHATI sebagai pendukung untuk menjadikan rumah tangga sakinnah mawaddah wa rrahmah baik sebelum memiliki keluarga sendiri (masih sebagai anak) maupun saat kita memiliki keluarga sendiri (sebagai seorang istri atau ibu).

Tujuan adanya KOHATI tersebut merupakan langkah untuk mewujudkan mision HMI yaitu: “terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”.

Dan pada 17 September 2018 tahun ini adalah peringatan Milad KOHATI yang ke-52. Sesuai dengan surat intruksi dari KOHATI PB, 192 cabang yang tersebar diharapkan mengadakan bedah buku serentak pada tanggal 24 September 2018. Kegiatan ini mendorong penguatan literasi di Indonesia.

Selamat milad kohatiku, tetap Jaya dan tetaplah berjuang pada arus yang sebenarnya tanpa harus mengikuti arus yang tak berujung. Jayalah KOHATI, Bahagia HMI.