Aku menghentaknya menjauh. “Je... kamu ngapain?”

Ia mengerutkan kening seakan sikap dan pertanyaanku adalah sesuatu yang sangat aneh. Ia baru saja mengecup bibirku lembut. Hal yang sebenarnya cukup lumrah ia—kami—lakukan. Apalagi ketika sudah berhari-hari tak bertemu atas satu dan lain alasan.

Selepas rindu luruh dalam kecup, kami akan menuntaskannya dengan peluk, di atas kasur. Aku akan bercerita tentang kesibukan menjadi penulis skenario film, bagaimana aku harus ikut dalam proses pengambilan gambar, dan sesekali harus menginap di kantor demi menghemat tenaga, waktu, dan pastinya ongkos.

Kemudian ia akan bercerita tentang mahasiswa-mahasiswanya yang kian rajin mengajaknya berbincang di taman kampus, dari siapa Tan Malaka, hingga mengapa nasi bebek di seberang kampus mereka begitu laku padahal masih banyak makanan yang lebih enak rasanya.

Lalu kami akan mengingat film terakhir yang kami tonton sendiri-sendiri. Ketika aku mengatakan bahwa aku lagi-lagi menonton Cheaper by The Dozen—dan menangis lagi—ia akan mencemoohku. Begitupun aku akan mencemoohnya saat ia tak lelah menonton The Martian, yang ia bangga-banggakan, film yang mengandung aturan-aturan fisika paling mendekati dengan teori sesungguhnya itu.

Gelak itu menggema lagi di dalam kepalaku.

“Koreksi aku kalau salah, Mar, tapi apa yang kita lakukan barusan sudah kita lakukan sejak tiga tahun lalu,” jawabnya dengan suara agak meninggi dan berjarak.

Aku menggigit bibir bagian bawahku. Merasa bersalah, namun ragu. “Maaf, Je....”

Ia duduk di ujung sofa, menunduk, kemudian menggelengkan kepala.

“Kala proposed me, Jerome...” suaraku bergetar.

“Excuse me, Maryam?”

“Kala... melam...”

“Enggak... aku tahu terjemahan Bahasa Indonesia-nya, Mar. Tapi maksudnya gimana? Itu serius?” tanyanya lagi. Wajahnya tak ramah.

Aku hanya mampu mengangguk kecil. Ia kembali menggelengkan kepalanya sembari menunduk. Sebegitu tidak percayanya ia pada lamaran Kala. Padahal aku sudah lama dekat dengan Kala. Ia bahkan sempat beberapa kali menanyakan mengapa aku dan Kala tidak berpacaran. Kupikir itu klise. Kami bukan lagi anak muda yang gemar bersenang-senang dalam ikatan pacaran.

Meski pembicaraan mengenai pernikahan memang sudah sering kami angkat, tetapi hal ini tak pernah sampai pada telinga Jerome. Aku dan Jerome hanya dua sejoli yang paling tahu satu sama lain. Dua yang memahami bahwa seberantakan apa pun keadaan kami selepas pertengkaran, kami akan saling menemukan kembali.

Jerome paham betul aku tak suka makan sayur pare, aku pun paham betul betapa bencinya ia dengan wangi durian. Hanya Jerome yang hafal betul tanggal-tanggal sensitifku, pun hanya aku yang hafal gelagat feromonnya yang terkadang merepotkan itu.

Salah satu film kesukaan kami adalah Friends with Kids. Film itu mengisahkan tentang dua sahabat yang memutuskan untuk memiliki anak tanpa menikah, meski mereka ‘hanya’ sahabat. Mereka memiliki visi dan misi yang sama dalam membesarkan anak.

Tak bisa dimungkiri, pembahasan tentang merawat dan membesarkan anak kelak adalah bahasan yang paling kami sukai. Bagi kami, menikah bukanlah penyebutan sumpah atau akad demi menghalalkan perzinaan. Pun, memiliki anak bukanlah konsekuensi akan akibat dari pembuahan saja.

Bagi kami, menikah dan memilik anak lebih dari sekadar itu.

“Kalau nanti anakmu datang dan bilang dia habis pukul temannya sampai nangis, gimana, Mar?” tanya Jerome saat kami sedang beristirahat selepas olahraga, di taman kota.

Aku tertawa. “Aku akan tertawa dulu. Lalu aku tanya, kenapa. Dan aku akan tunggu dipanggil guru BK pastinya.”

“Kalau aku, akan aku ajak tos. Kalau yang dia pukul itu laki-laki, aku akan bilang dia akan jadi musuh bebuyutan sampai SMA. Kalau perempuan, mereka bakalan nikah.”

Kami pun tergelak. Tapi, kami tahu kami tak mungkin memiliki anak bersama. Meski begitu, kami saling menautkan janji untuk saling menjaga keturunan kami kelak.

“Indro Warkop pernah bilang gini, “Kalau anak-anak saya makan, anak-anak Dono dan Kasino juga makan,” nah kita harus gitu, ya, Je?”

Ia hanya tersenyum dan mengangguk saat itu.

“Bagaimana bisa, Mar?” pertanyaan Jerome menarikku kembali ke ruang santai apartemenku.

“Dia punya rencana. Dia meyakinkanku, Je...”

“Apa, Mar? Apa rencananya? Apa selama ini aku kurang meyakinkan bagimu, Mar?”

Aku tahu... aku tahu Jerome akan berpikir demikian...

Sejak kecil, aku selalu tinggal bertiga dengan ibu dan kakakku. Mengingat kakakku laki-laki dan telah menikah, maka aku menjadikan diriku adalah benteng terakhir untuk menjaga ibu kami. Selain itu, aku selalu tidur dengannya. Selalu. Dan aku tak bisa membayangkan menghabiskan sisa hidupku tidak tanpanya.

Bukan soal takut, tetapi ibuku pernah mengalami sesak napas saat tidur. Tak hanya sekali atau dua kali, melainkan sering. Tak mungkin aku tak tidur dengannya. Tak perlu trauma untuk membuatku menetap tidur di sisinya.

Jerome paham dan hafal betul mengenai isu ini. Ia bahkan sering memberikan solusi-solusi terkait ketakutanku. Dari yang ngawur hingga yang serius. Ia benar-benar memikirkannya.

“Tidur bertiga, Mar. Kalau kamu dan suamimu lagi mau bersetubuh, ya di ruang tamu. Lebih terasa sensasinya.”

“Kampret!”

“Bikin pintu sambungan dari kamarmu ke kamar Ibuk, Mar.”

“Ya... kalau aku nanti mendesah pas lagi berhubungan seksual dengan suamiku, gimana?”

“Pasang perekam di kamar ibumu, Mar. Bisa ditaruh di bawah tempat tidur, atau ditaruh di samping tempat tidur. Kalau bisa ya ibumu jangan tahu. Seperti yang kita pahamilah, beliau kan paling enggak suka merepotkan apalagi kalau kita meninggalkan kesan menjaganya. Beliau pasti menangkapnya kita posesif.”

Dan begitulah. Solusi yang Kala berikan. Dan begitulah. Aku menerimanya menjadi suamiku. Dan begitulah. Aku meremukkan hatiku sendiri.

Meski tak pernah terucap, tapi aku tahu. Aku tahu ia mencintaiku sebagaimana aku mencintainya. Kecupan dan pelukan hangat bukan sekadar pemuas napsu belaka. Cerita-cerita yang sering kami bagi bukanlah pengisi kekosong pada jeda saja. Kesulitan yang kami lalui bersama bukan hanya simbol persahabatan.

Aku jatuh cinta dengan kelekatan kami. Dengan bagaimana ia selalu menganggap aku lebih penting dari perempuan-perempuan yang pernah hadir dalam hidupnya. Dengan bagaimana ia ketakutan setengah mati akan kehilanganku. Dengan bagaimana ia menunjukkan rasa cintanya tanpa mengatakannya.

Dan begitulah. Hari ini kami akan berpisah dengan kegaduhan hati kami masing-masing. Menyimpannya sendiri. Entah sampai kapan. Entah bagaimana.

Dan begitulah. Kami dua cinta yang dipisahkan oleh lengangnya Istiqlal dan Katedral. Kami dua cinta yang saling mengenali dalam perbedaan paling mendasar. Kami dua yang berbeda dan tak butuh persamaan demi saling mencintai.

Dentang jam memisahkan kami. Aku berwudhu, dan ia bersimpuh.