Desa Loklahung adalah sebuah desa di Pegunungan Meratus tepatnya di Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Menurut data dari Kantor Kepala Desa Tahun 2016, Desa Loklahung memiliki 5 dusun dengan jumlah penduduk 532 jiwa dengan 134 Kepala Keluarga. Mayoritas penduduk adalah Suku Dayak dengan aliran kepercayaan Kaharingan.

Mata pencaharian penduduk adalah bercocok tanam atau bertani dengan rincian Karet sebanyak 77 rumah tangga, Padi Ladang sebanyak 75 rumah tangga, Lumbuk atau Cabai Rawit sebanyak 51 rumah tangga, Kayu Manis sebanyak 48 rumah tangga, Kacang Tanah sebanyak 40 rumah tangga, dan Kemiri. Pendidikan masyarakat masih tergolong rendah dan di desa tersebut hanya memiliki 1 sekolah yaitu Sekolah Dasar SDN Loklahung.

Di SDN Loklahung inilah saya mengabdi selama satu tahun, berpindah dari Kota Medan ke Kalimantan untuk mengajar anak-anak serta pengembangan masyarakat. SDN Loklahung terletak di kaki gunung dan di tepi sungai, sedangkan saya tinggal di rumah Pembakal (Kepala Desa) di Dusun Manotoi yang berada di atas bukit. Untuk sampai ke sekolah setiap harinya saya harus turun bukit dengan berjalan kaki bersama anak-anak sekitar 1 Km.

Selama setahun saya menjadi wali kelas 3 dan juga aktivitas lainnya seperti melaksanakan KPM (Kelas Pintar Menulis), KPK (Kelas Pintar Komputer), Pramuka, dan juga memperkenalkan Bahasa Inggris. Kehadiran saya di desa ini tidak semata hanya menjadi guru saja, melainkan lebih untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan anak-anak mereka.

Hal utama yang saya lakukan adalah  menumbuhkan semangat anak-anak dan orang tua untuk terus berjuang demi pendidikan anak-anak mereka. Hal itu saya lakukan karena menurut mereka, di daerah ini, anak perempuan banyak yang hanya sampai tamatan SD, sedangkan anak laki-laki sampai SMP.

Hal itu sesuai dengan pernyataan Ibu Tanarti seperti berikut ini, “Kalau di sini bu ai, bibinian[1] paling tamatan SD saja, lalakian[2] yang sampai SMP. Kebanyakan bibinian umur belasan hanya tamat-tamat SD langsung menikah.”

Pendidikan yang rendah berdampak pada angka pernikahan dini yang tinggi di daerah ini, banyak pernikahan muda dikarenakan pola pikir masyarakat “ya kalau sudah tidak sekolah mau ngapain lagi?” sehingga banyak yang lebih memilih menikah padahal usia masih sangat dini. Sedangkan akar pendidikan yang rendah diakibatkan oleh semangat juang untuk sekolah yang masih sangat rendah.

Hal itu terjadi dikarenakan beberapa faktor seperti akses pegunungan yang sulit di tempuh dan jarak sekolah menengah yang cukup jauh, padahal pemerintah sudah memberikan bantuan seperti sekolah gratis serta adanya bantuan kepada keluarga yang tidak mampu melalui Kartu Indonesia Pintar.

Tapi tetap saja usaha itu tidak berhasil sepenuhnya untuk mewujudkan salah satu cita-cita Negara Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan di sekolah karena semangat juang masyarakatnya masih minim untuk sekolah.

Permasalahan-permasalahan tersebut yang membuat saya berpikir pentingnya untuk membuka Klinik Pendidikan di Desa Loklahung. Saya menyebutnya Klinik Pendidikan, karena saya bukan hanya bersedia untuk mengajari anak-anak belajar tetapi juga bersedia untuk menerima konsultasi orang tua tentang pendidikan anak-anak mereka, kedua hal itu saya lakukan secara sukarela ataupun tanpa imbalan apa pun.

Konsultasi mungkin tidak langsung mendapat penyelesaian dari saya tetapi saya berusaha membantu memecahkan masalahnya melalui pemberian saran dan mencarikan informasi di luar seperti dari internet. Contohnya saja beberapa bulan lalu seorang bapak bercerita tentang anaknya yang sudah Kelas 3 SMA, beliau mengatakan ingin sekali agar anaknya bisa kuliah seperti saya tetapi biaya menjadi kendala.

Akhirnya saya menjelaskan bahwa banyak sekali beasiswa yang disediakan baik dari pemerintah maupun swasta. Saya pun menjelaskan bahwa anaknya bisa saja mengajukan permohonan mendapatkan beasiswa Bidik Misi. Saya menyarankan agar anaknya dapat menanyakan kepada pihak sekolah dan saya membantu mencari informasi melalui internet maupun bertanya kepada teman-teman saya yang pernah mendapatkan beasiswa tersebut.

Yang saya lakukan bukanlah tindakan besar, tetapi saya yakin dengan kehadiran orang jauh dari kota terlebih dari pulau yang jauh dari tempat ini yang berniat tulus sepenuh hati membantu anak-anak mereka untuk belajar mampu menumbuhkan pemikiran mereka bahwa “orang lain saja peduli dengan pendidikan anak-anak mereka.”

Jika pemikiran tersebut sudah tumbuh, sangat diharapkan kesadaran mereka sebagai orang tua juga mampu tumbuh untuk terus mendukung anak-anaknya agar mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi lagi, agar mau berjuang menepiskan segala hambatan baik dari segi fisik maupun mental untuk terus menyekolahkan anak-anak mereka.

Klinik Pendidikan ini pula memiliki perbedaan dengan bimbingan belajar yang banyak terdapat di Kota. Perbedaannya seperti tempat belajar yang fleksibel. Biasanya saya mengajar di beberapa tempat yang berbeda, pemilihan tempat yang berganti akan membuat anak-anak tidak bosan. Bahkan tempat yang kami gunakan tidak hanya di dalam ruangan, tetapi juga di alam.

Di dalam ruangan misalnya, kami memakai balai adat yang biasa digunakan jikalau ada aktivitas adat tahunan. Jikalau tidak ada kegiatan adat, balai tersebut kosong sehingga kami dapat memakainya untuk tempat belajar. Terlebih letaknya berada di antara pemukiman warga, sehingga sangat mudah menjangkaunya.

Tidak hanya itu saja, alasan lain penggunaan balai adat karena luas ruangan di balai adat sehingga dapat menampung berapa banyak pun anak-anak yang ingin belajar, bahkan para orang tua tidak jarang ikut hadir melihat anaknya sembari ikut belajar calistung serta bertanya jikalau ada yang ingin ditanyakan seputar pendidikan.

Tidak hanya balai adat, penggunaan tempat in door lain adalah rumah tempat saya tinggal yaitu di rumah Pembakal. Ruangan tamu yang cukup besar kami jadikan ruang belajar anak-anak. Keluarga Pembakal mengizinkan jika rumah mereka digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Jadi setiap malam, anak-anak ramai mendatangi rumah Pembakal untuk belajar bersama saya.

Selain itu, Klinik Pendidikan ini juga dilaksanakan di luar ruangan atau out door. Biasanya pemilihan tempat tergantung pada cuaca, jika cuaca cerah kami dapat belajar di mana saja seperti di Air terjun Riam Barajang atau Riam Hanai, Sungai, Taluk, Lapangan Sekolah, dan lain sebagainya. Saya membuat tempat yang berbeda dan juga di alam bertujuan agar anak-anak tidak bosan dalam belajar.

Selain strategi tempat yang berpindah, strategi metode pembelajan yang saya laksanakan juga berbeda. Saya membuat metode kreatif bertemakan “Smart and Fun”. Metode tersebut dibuat sekreatif mungkin agar anak-anak yang notabenenya masih sangat suka bermain akan merasakan bermain tetapi esensinya adalah belajar.

Misalnya saja melalui games Benar atau Salah yang pelaksanaanya mirip permainan ranking 1, hanya saja benar atau salahnya menggunakan tangan dengan cara berbeda. Atau membuat olahan barang bekas untuk dijadikan bahan belajar yang kreatif seperti “My Bottle” botol Aqua bekas dipotong setengah dan ditempel di kardus yang sudah di potong membentuk persegi.

Di aqua tersebut dihias dengan kertas origami yang sudah ditulis nama tiap-tiap anak dan kertas kardus tersebut di tempel di dinding. Jadilah media pembelajaran menulis. Setiap anak diharuskan menulis surat dan dimasukkan ke botol temannya. Metode ini cukup sederhana tetapi sangat menyenangkan buat anak-anak.

Tidak hanya itu saja, ada pula Kalender Tempel. Kalender ini juga terbuat dari bahan bekas seperti kertas kardus dan kertas karton biasa. Kertas kardus dibuat kotak-kotak seperti kalender yang hanya ditulis nama-nama hari saja, sedangkan untuk tanggal, bulan, dan tahun di tulis di kertas karton yang digunting seukuran kotak-kotak yang dibuat di kardus tadi. Lalu ditempel dengan double tape atau masking tape sesuai kalender yang sebenarnya.

Setiap tanggal dibuat warna karton yang berbeda, angka genap yaitu 2,4,6,8,10 dst… dibuat warna merah, dan angka ganjil yaitu 1,3,5,7,9 dst… dibuat warna biru. Selain mengajarkan tentang nama-nama hari dan bulan, anak-anak juga dapat lebih paham tentang perbedaan bilangan genap dan bilangan ganjil.

Semua hal tersebut dibuat dengan maksud agar anak-anak tidak bosan belajar dan membuat belajar mereka menyenangkan. Bahkan banyak games dan tepukan-tepukan jikalau mereka sudah penat dan bosan dalam kegiatan belajar di Klinik Pendidikan ini.

Melalui Klinik Pendidikan ini besar harapan saya anak-anak mau untuk terus berjuang meraih cita-cita mereka dan para orang tua mau mendukung pendidikan anak-anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

#LombaEsaiKemanusiaan

[1] Bibinian sebutan perempuan dalam Bahasa Dayak

[2] Lalakian sebutan laki-laki dala Bahasa Dayak