Lumut Hati atau biasa aku menyebutnya Marchantia polymorpha, sebelumya aku ingin menyampaikan permohonan maafku yang amat besar sekali. Aku tidak mengetahui kalau dirimu mengirimkan surat kepadaku sebagai balasan tulisan yang pernah aku buat sebelumnya. Sebelum kemarin, salah seorang temanku bernama Ndlahom memberikan surat yang masih terbungkus rapi dalam sebuah amplop yag ditujukan atas nama dan alamat rumah persis dengan apa yang ada di KTPku.

Aku juga merasa sangat bingung, surat yang kamu tulis pada tanggal 13 Juli tersebut baru sampai pada tanggal 25 Juli kemarin. Entah ini merupakan kesalahan dari tukang pos yang mengantarkan surat itu ataukah memang surat itu tiba sesuai jadwal pengiriman. Ah, pikirku itu tidak mungkin. Pasti ada sesuatu hal yang menyebabkan keterlambatan surat itu datang pada diriku.

Ceritanya, bertepatan pada tanggal 25 Juli kemarin, aku pergi ke sebuah toko buku yang ada di kota tempat tinggalku. Sembari mencari sedikit hiburan untuk menghilangkan rasa penat yang ada di kepala. Aku tertarik membaca sebuah cerpen yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma yang berjudul ‘Sepotong Senja untuk Alina’. Di mana aku membaca cerpen tersebut di salah satu laman internet melalui gawaiku. Karena memang, kalau gak salah cerpen tersebut pernah dimuat dalam salah satu harian surat kabar.

Aku semakin penasaran akan cerpen-cerpen yang ditulis oleh beliau. Hingga pada akhirnya aku mencari informasi, dan mendapatkan kabar bahwa beberapa kmpulan cerpen Seno dibuat dalam sebuah buku dengan judul ‘Sepotong Senja untuk Pacarku’. Niat pertama aku pergi ke toko buku tersebut pun, tak lain dan tak bukan adalah ingin membeli buku tersebut.

Ternyata, memang benar pernyataan dari beberapa orang. Bahwa tempat terbaik adalah toko buku yang menyediakan buku-buku berkualitas dan mencerdaskan setiap orang yang berkunjung kesana. Dari banyak judul buku yang tersedia di sana, hampir semuanya aku mellihat entah hanya sekadar dari judul, harga maupun resensi yang ada di bagian sampulnya.

Sebelum pada akhirnya aku menemukan buku yang paling aku cari pada hari itu. Tanpa banyak basa-basi, aku mengambil satu buku karya Seno itu, lalu sesegera mungkin aku menuju tempat pembayaran, karena tanpa terasa sudah tiga jam aku berada di sana. Terlebih juga, beberapa petugas sudah mengingatkan kepada para pengunjung toko buku, bahwa beberapa menit lagi toko buku itu akan segera tutup.

“Mari, Mas. Silhkan!” ucap seorang kasir kepadaku. Seketika itu pun, aku menyerahkan buku yang aku pilih kepada kasir untuk dihitung jumlah uang yang harus aku bayar.

“Total uang yang harus dibayar adalah Rp 75.000,00 Mas” ucap kasir itu sembari mengambil kantong plastik untuk wadah bagi bukuku itu.

Modyar.” Tak sengaja batinku berucap seperti itu. Mungkin sebagai ekspresi kekagetanku atas ucapan yang barusan disampaikan oleh kasir yang melayani aku. Aku kaget. Satu buah buku yang hanya berisi belasan cerpen gitu saja harganya mahal sekali. Apalagi dibandingkan buku-buku yang biasa aku gunakan sebagai referensi kuliah. Itupun gak asli. Banyak dari bukuku yang merupakan hasil dari fotokopian buku yang asli. Meskipun sebenarnya melanggar hukum, namun yang memberikan penguatan adalah dari beberapa dosen yang terkadang memperbolehkannya.

Aku buka dompetku, syukur masih ada uang satu lembar uang seratusan ribu dan dua lembar uang sepuluhan ribu. Tanpa pikir panjang, buku itupun aku bayar. Setelah itu aku menuju ke tempat parkiran untuk mengambil sepeda motor dan bergegas untuk pulang ke rumah.

Sesampainya di tempat parkir, ada seorang yang menepuk pundakku dari belakang. Awalnya aku merasa curiga dan agak asing terhadap orang yang menepuk pundakku itu. Sebelum dia menjelaskan siapa dirinya dan ada kepentingan apa menemuiku pada malam hari itu. Dia adalah Ndlahom, salah seorang temanku semasa sekolah dasar yang sudah aku sebutkan di awal tadi.

Dalam empat hari terakhir dia bilang kepadaku bahwa ingin memberikan surat yang berasal dari dikau, Marchantia polymorpha. Setelah aku menerima surat tersebut, akupun tidak langsung bergegas untuk membuka dan membacanya. Aku hanya mengucapkan banyak terima kasih kepada Ndlahom dan sedikit bertanya akan mengapa surat darimu bisa sampai tangannya.

Dia sedikit memberikan penjelasanku akan ihwal surat darimu yang sampai tangannya. Menurut penjelasan Ndlahom, suatu waktu dia pergi ke pasar mengantarkan istrinya yang baru dinikahi seminggu yang lalu. Mereka belanja untuk mencari barang sebagai persiapan kegiatan tahlilan atas peringatan 40 hari meninggalnya bapak dari Ndlahom.

Di salah satu tempat pembuangan sampah yang ada di pasar itu, Ndlahom menemukan amplop yang ternyata di dalamnya ada isinya. Lantas, dibaca di amplop bagian depan yang berisi dari dan kepada siapa surat itu ditujukan. Melihat nama dan alamat yang tercantumkan sesuai dengan punyaku, maka surat itu pun disimpan dengan baik oleh Ndlahom. Pada kesempatan aku bertemu dengannya, dia baru bias memberikan surat darimu itu kepadaku.

Marchantia polymorpha, aku ingin bercerita padamu. Sesampainya di rumah, setelah surat yang kau beri judul “Surat dari Lumut Hati” tersebut berada di tangan ku aku membaca dengan penuh kosentrasi. Memahami paragraf demi paragraf yang ada di sana. Di sana kamu memberikan beberapa poin penting dari tulisan yang sebelumnya pernah aku buat. Setidaknya, dalam pemahamanku ada total empat poin yang dimana, dari bebrapa poin yang kamu sampaikan adalah supaya aku memberikan klarifikasi dan menuruti beberapa permintaanmu yang ada di sana.

Marchantia polymorpha, dengan waktu yang kurang lebih sudah dua belas hari setelah kamu mengirimiku surat itu pasti dalam hatimu akan segera mendapatkan balasan dariku. Tapi aku mohon kamu mengerti, bahwasannya aku baru menerima setelah dua belas hari. Mohon jangan berprasangka buruk padaku. Barangkali surat ini akan sedikit memberikan kronologi surat darimu yang baru sampai kepadaku.

Marchantia polymorpha, dalam surat yang aku kirimkan ini, aku belum bisa menjawab pertanyaan dan menuruti permintaan yang ada dalam surat itu. Dalam kesibukanku, aku harap kamu memaklumiku. Dalam kesempatan yang mendatang aku akan berusaha menyuratimu lagi sebagai balasan atas surat yang kamu kirikan kepadaku. Bersabarlah, karena semuanya akan indah pada waktunya.