Saya mengenal seorang teman guru yang mengaku dirinya sebagai seorang peskatarian—sebuah istilah untuk orang yang melakukan diet daging serta produk-produk yang terbuat dari hasil peternakan. Menurutnya, keputusan menjadi seorang peskatarian adalah bentuk kepeduliannya terhadap penyelamatan bumi dari pemanasan global.

Tidak hanya itu, teman saya juga sudah tidak menggunakan kantong plastik sewaktu berbelanja di pasar atau supermarket—ia memilih menggunakan tas permanen seperti tote bag yang bisa dipakai berulang-ulang. Katanya, selain alasan lingkungan, penggunaan tote bag tidak merepotkan dan tentunya terlihat lebih keren.

Saya kagum dengan gerakan yang dilakukan oleh teman saya itu. Setidaknya, banyak di antara kami tertarik untuk memikirkan tentang masa depan bumi. Saya sendiri berupaya untuk mengikuti gerakan ini, setidaknya dalam penggunaan kantong plastik. 

Di dalam kelas, saya sering mengingatkan kepada siswa agar tidak lagi menggunakan air minum dalam botol kemasan yang sekali pakai. Sebagai alternatif, mereka bisa membawa botol air minum sendiri dari rumah. 

Gerakan sadar lingkungan ini memang sudah dibudayakan di lingkungan sekolah saya, mulai dari penggunaan botol minum tumbler oleh guru dan siswa sampai pelaksanaan ujian semester berbasis komputer (CBS) yang mengurangi penggunaan kertas yang berlebihan.

Suatu waktu, ada siswa yang bertanya kepada saya, “Pak, bagaimana dengan penggunaan kertas; bukankah bapak pernah mengatakan bahwa bapak sangat menyukai buku dan selalu menyisihkan uang untuk membeli buku secara teratur—apakah hal itu tidak berpengaruh pada lingkungan?”

Saya pun bingung mau menjawab apa. Karena untuk urusan membaca, saya memang tidak bisa lepas dari buku konvensional. Saya sangat menikmati proses membaca ketika saya menyentuh lembar demi lembar kertas yang dibaca. Bagi saya, menyentuh buku dan menghirup bau kertas merupakan sensasi tersendiri yang tidak bisa dimengerti oleh mereka yang bukan pencinta buku.

Begitu pun sewaktu mau menulis, saya merasa ada perbedaan antara menulis di komputer dengan menulis pada lembaran kertas—lebih terasa proses kreatifnya sewaktu saya berurusan dengan kertas! Saya bisa merasakan ada sentuhan humanis sewaktu jari menggerakkan pensil dan mulai menggoreskan huruf demi huruf pada lembaran kertas.

Pertanyaan siswa itu terus mengganggu hati nurani saya mengenai masa depan bumi, apalagi sewaktu membaca tentang berapa jumlah pohon yang harus ditebang untuk memproduksi kertas. Ada rasa bersalah dalam diri saya setiap kali berada di toko buku atau pada saat melihat tumpukan kertas lembar kerja anak-anak di atas meja kerja saya.

Apakah saya harus berhenti membeli buku dan sebagai gantinya menggunakan perpustakaan yang kadang tidak menyediakan buku yang saya butuhkan? Memang, kalau untuk sekadar membaca, saya termasuk yang rajin berkunjung ke perpustakaan; namun tidak semua kebutuhan literasi bisa selesai dengan mengunjungi perpustakaan.

Bagaimana dengan tugas anak-anak? Saya sering meminta anak-anak di kelas saya untuk mengirimkan tugas mereka melalui surat elektronik atau berbagai media sosial yang mereka miliki. Namun, tidak semuanya bisa semudah yang dibayangkan. Penggunaan teknologi informasi dalam kegiatan belajar dan mengajar memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Saya masih percaya dengan teknologi karena generasi yang saya didik adalah generasi paperless. Tetapi kenyataannya, tugas-tugas yang mereka kumpulkan cenderung disalin mentah-mentah (copy-paste) langsung dari internet tanpa ada analisis mendalam. Oleh karena itu, saya berkesimpulan bahwa kita masih membutuhkan kertas!

Dalam keadaan tertentu, saya menugaskan siswa untuk menulis esai dengan menggunakan cara manual, yakni menulis dengan tangan. Saya percaya bahwa ada proses kreatif sewaktu pensil bersentuhan dengan kertas! Setidaknya ada proses berpikir kritis dipadukan dengan imajinasi sewaktu siswa menulis dan membaca pada lembaran kertas.

Jadi, kertas juga memberi sumbangsih pada kemajuan peradaban. Kita tidak menutup mata dengan kemajuan teknologi digital, namun kita juga harus mengakui bahwa kertas masih mempunyai peran penting dalam kehidupan para sapiens yang menurut Yuval Noah Harari akan menjelma menjadi homo deus—setidaknya buku karyanya masih dicetak dalam bentuk konvensional.

Saya merasa lega setelah tahu bahwa proses dan cara pembuatan kertas tidak seperti yang dibayangkan banyak orang termasuk saya. Dengan adanya hutan tanaman industri, maka kita bisa menggunakan kertas dan produk turunannya tanpa harus merasa bersalah dengan kelestarian lingkungan.

Namun bukan berarti kita bisa seenaknya menggunakan kertas. Gunakanlah kertas sesuai kebutuhan dan sebisa mungkin memanfaatkan kertas-kertas bekas di sekitar kita, misalnya bagian kertas yang masih ada kosongnya bisa dikumpul menjadi notebook atau pembatas buku.

Saya yakin dengan masa depan kertas dan juga masa depan bumi apabila kita semua sadar dengan penggunaan produk-produk ramah lingkungan. Kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kelestarian lingkungan dan tentunya kecerdasan peradaban—ketiganya harus menjadi siklus yang berkesinambungan dalam merawat keberlangsungan semesta. 

Kertas adalah bagian dari peradaban dan ikut merawat masa depan semesta.