Di akhir 1970an, saat saya masih sangat kecil, keluarga saya pindah ke daerah Kalibata, Jakarta Selatan. Saat itu Jakarta masih memiliki banyak kampung urban: kawasan di tengah kota yang belum terbangun. Belum ada jalan yang diaspal, dengan sumber dan fasilitas sanitasi seadanya. Beberapa rumah sudah dibangun dari beton. Tapi masih banyak yang berdinding kayu, beratap seng, juga berlantai tanah.

Lalu keluarga besar saya pindah ke rumah yang kami bangun. Sebuah rumah yang cukup besar, dengan halaman luas dan tempat parkir mobil. Kontras dengan kondisi tetangga kami. Interaksi awal saya dengan anak-anak tetangga tidak banyak. Orang tua saya tidak terlalu mendorong saya bermain dengan anak-anak tetangga. Mungkin mereka kuatir cara mereka bertutur atau bersikap akan terbawa ke saya.

Itu menjadi awal saya mengenal bias dan prasangka. Ada persepsi yang terbangun sejak kecil, bahwa mereka yang dari status sosial ekonomi berbeda memiliki tutur kata atau sikap yang tidak sesuai dengan standar kelas menengah. Saya tidak menyalahkan orang tua saya, tapi itulah yang terjadi. Sejujurnya, bias itu terus hingga saya menjadi orang tua.

Yang tidak pernah saya lupa, banyak tetangga memanggil kami “orang Kristen.” Saya memang sekolah di sebuah SD Katolik di Pasar Minggu. Mungkin juga karena keluarga kami jarang terlihat di masjid di dekat rumah, meski tiap Idul Fitri keluarga besar selalu merayakan di rumah kami.

Ketika agak dewasa saya baru menyadari, ada alasan lain mengapa kami selalu dikira orang Kristen. Karena rumah kami, dan secara umum kondisi ekonomi keluarga kami, yang berbeda. Entah bagaimana, tetangga kami punya gambaran bahwa orang kaya adalah Kristen (atau Tionghoa). Yang kurang beruntung, seperti mereka, adalah Muslim (dan kebanyakan Betawi).

Ketika mereka akhirnya paham bahwa kami adalah keluarga Muslim, panggilan “orang Kristen” masih ada. Setelah beberapa tahun akhirnya saya mulai berteman dengan beberapa anak sebaya. Saya mengajak mereka main ke rumah. Di ruang tamu, ada replica lukisan Mona Lisa. Salah satu tetangga bertanya, “Itu Yesus ya?” Atau ketika saya bernyanyi sebuah lagu pop berbahasa asing, yang lain bertanya, “Itu lagu gereja ya?” (Sekedar informasi, itu adalah lagu Kokoro No Tomo oleh Mayumi Itsuwa).

Dari pengalaman itu saya menyadari bahwa agama – tepatnya identitas agama – adalah konsep yang kompleks. Ia bisa saja beralih menjadi pengganti dari identitas kelas. Intinya, ia adalah yang membedakan saya dan mereka.

* * *

Di SMA saya pun kembali ke sekolah Katolik. Saya bersyukur pada saat itu identitas agama tidak jadi masalah serius seperti sekarang.

Meski demikian, pertanyaan terkait agama tidak terhindarkan. Dulu saya sering ditanya tetangga, apa yang dipelajari di sekolah Katolik. Apakah saya diajarkan menyembah Tuhan mereka yang tiga? Benarkah Yesus anak Tuhan?

Di SMA, saya sering mendapat pertanyaan terkait ajaran Islam. Mengapa poligami dibolehkan? Mengapa perempuan dan laki-laki beribadah secara terpisah? Benarkah mengucapkan selamat Natal itu haram?

Tapi itu bukanlah pertanyaan yang paling sulit dijawab. Beberapa pertanyaan lebih lebih terdengar seperti protes. Mengapa umat Kristen sulit mendapat ijin untuk mendirikan gereja, sementara umat Islam dengan mudah bisa menggelar ibadah di jalanan dan menggunakan pengeras suara. Mengapa umat Islam sering curiga terhadap acara sosial gereja? Mengapa beberapa jabatan publik hanya bisa diisi oleh muslim?

Jadi, di masa kecil dan remaja, saya mendengar dua narasi. Di satu sisi, teman-teman Muslim saya menganggap bahwa umat Kristen adalah mereka yang beruntung secara ekonomi. Di sisi lain, teman-teman Kristen melihat Islam sebagai mayoritas yang memiliki keistimewaan di banyak hal.

* * *

Ketika saya menempuh pendidikan di Amerika Serikat, saya diundang makan siang oleh dua orang Amerika, satu Yahudi dan satu Kristen. Saya datang Bersama teman baik saya, seorang Muslim Filipina. Mereka mengaku hampir tidak pernah berinteraksi personal dengan muslim.  Entah betul atau mereka melebih-lebihkan.

Komentar mereka adalah, kami berdua tidak seperti Muslim dalam bayangan mereka. Sejujurnya saya tidak tahu seperti apa Muslim yang ada di bayangan mereka. Sekedar konteks, saat itu belum lama setelah tragedi WTC, jadi bisa direka seperti apa mood orang Amerika saat itu terhadap Muslim.

Saya jelaskan pada mereka, di wilayah Asia Tenggara, kami adalah Muslim kebanyakan. Itu pun, jika saya pergi ke Jawa Timur atau Aceh atau Makassar, saya mungkin tidak seperti  Muslim kebanyakan di sana. Ada keberagaman di dalam dunia Islam lebih dari yang kalian bayangkan.

Ironisnya, ide soal keberagaman dalam Islam tidak selalu didukung oleh kalangan Islam sendiri. Banyak yang melihat Islam itu tunggal, dan hanya ada satu Islam. Tentunya ada masalah soal siapa yang bisa mengklaim sebagai pemilik definisi Islam yang satu itu. Ini yang hingga sekarang menjadi problem internal Islam.

Sebaliknya, di AS untuk pertama kali saya berinteraksi dengan teman-teman Yahudi, juga Muslim Syiah. Sebagai Muslim Sunni, saya tumbuh dengan ide tertentu tentang orang Yahudi dan Syiah – yang tidak selalu positif. Untuk sejenak, meski hanya untuk beberapa detik, saya ragu, benarkah saya bisa berteman dengan mereka? Benarkah mereka adalah kelompok yang memusuhi saya?

Untuk beberapa detik, saya terbingkai dalam konsep saya dan mereka. Untungnya itu tidak lama. Selanjutnya, interaksi kami lebih banyak diwarnai oleh diskusi soal tugas kuliah.

* * *

Setiap kita pasti punya cerita tentang bias dan prasangka. Kadang kita menjadi korban. Sadar atau tidak, kita pun pernah terjebak dalam bias dan prasangka.

Bias dan prasangka adalah bagian dari sistem berpikir manusia. Peraih Nobel Ekonomi, Profesor Daniel Kahneman, menjelaskan bahwa otak kita bekerja atas dua sistem. Di sistem yang pertama – ia sebut sebagai ‘jalur lambat’ – kita menggunakan rasio untuk berhitung dan mempertimbangkan masak-masak sebelum mengambil keputusan.

Tapi seringkali kita menggunakan sistem yang kedua alias ‘jalur cepat’. Contohnya jika pengemudi di depan kita mengerem mendadak, kita harus mengambil keputusan spontan untuk ikut mengerem atau banting setir.

Bias dan prasangka adalah inheren dalam jalur cepat di otak kita. Ketika nenek moyang kita masih mengembara di hutan, padang pasir atau semak belukar, dan bertemu dengan orang asing, mereka harus berpikir cepat apakah ia kawan atau lawan. Mungkin dari warna kulit, rambut, aksesoris yang dipakai atau cara berbicara. Singkatnya, itu bagian dari mekanisme pertahanan.

Artinya, kita tidak mungkin sepenuhnya menghapus bias dan prasangka.  Justru dengan memahami hal itu, kita bisa membangun kesadaran bahwa bias dan prasangka bisa membawa kita ke keputusan yang salah.

Rasisme adalah bentuk dari bias dan prasangka. Dalam bentuk ekstrem, rasisme pernah berakhir dengan perang bahkan pembasmian etnis. Tapi rasisme dalam bentuk lunak pun bisa membawa kerugian. Beberapa eksperimen menunjukkan, orang cenderung lebih percaya pada pendapat yang disampaikan oleh orang dengan warna kulit yang sama – meski yang disampaikan adalah hal yang disengaja keliru.

Bias dan prasangka cenderung tinggi di antara mereka yang jarang berinteraksi dengan kelompok yang berbeda – apakah itu agama, etnis atau ras. Juga di antara mereka yang tidak peduli atau tidak mau membuka diri terhadap keberagaman.

Ironisnya, di era keterbukaan informasi dan koneksititas sekarang, bukan berarti bias dan prasangka menjadi lebih kecil. Sebaliknya, informasi yang banyak membuat orang selektif. Kita akan memilih informasi dari sumber yang kita anggap ‘sama’ dengan kita – seperti dalam eksperimen di atas.

Akibatnya, bukannya menghilangkan bias, keterbukaan informasi malah mempertegas bias. Ini membuat kita hidup dalam gelembung. Orang yang ada di gelembung berbeda melihat dunia dengan narasi yang berbeda, bahkan bertolak belakang. Tidak ada basis fakta yang sama.

Inilah masalah yang kita hadapi sekarang. Jika kita tidak mulai berubah, kerusakan akan datang sebelum kita menyadari.

Bersikaplah adil sejak dari pikiran, tulis sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia. Itu bisa menjadi langkah awal.