Dua kali tiket kepulangannya ke negara asalnya, Amerika Serikat, dibatalkan. Pertama, karena insiden penembakan pesawat Ukraina 752. Dan, yang kedua, karena ditetapkannya Iran sebagai pandemi virus Corona.

Itulah yang dialami Jennifer Green, warga negara AS, yang tinggal di Iran sejak 29 April 2019. Ia tinggal di sana karena menemani suaminya mengurus warisan mendiang ayah suaminya.

Ditulis di laman medium.com berjudul Life in Iran During Coronavirus, Jennifer Green membagikan pengalamannya selama di Iran, di tengah wabah virus Corona. Bermula sejak ditemukan kasus pertama korban positif virus Corona pada 19 Februari lalu di Qom, virus ini telah mewabah ke berbagai wilayah di Iran. Bahkan virus ini juga menjangkit pejabat negara Iran, seperti Iraj Harirchi(Wakil Menteri Kesehatan Iran), Masoumeh Ebtekar (Wakil Presiden Iran), dan beberapa yang lain.

Mendapati kondisi demikian, Jennifer awalnya dirundung cemas harus bertahan di Iran. Terlebih, kota yang ia tempati bergantung sepenuhnya pada pertanian daerah lain. Dia tidak bisa membayangkan bila nantinya terjadi kekurangan pasokan makanan dan chaos sipil. Apalagi, “tahun 2019 dan 2020 adalah tahun yang sangat sulit bagi orang Iran,” terangnya.

Sayangnya, kondisi AS sendiri tidaklah lebih baik dari Iran. Kabar yang diterimanya dari media barat dan kerabatnya di California justru menunjukkan, keadaan di sana sedang tidak kondusif. Terjadi kepanikan aksi borong bahan makanan dan tisu toilet. Kerusuhan saling berebut pun tak terelakkan.

Padahal di negara bagian tersebut, tidak ada kasus positif Corona. Tetapi, disinfektan, masker N-95, dan pasta gigi sudah ludes semuanya di toko-toko. “Mungkin sebenarnya tidak lebih baik untuk tetap tinggal di Iran saja”, tulisnya, ketimbang kembali ke AS dalam kondisi seperti itu.

                   midleeasteye.com

Sebaliknya, kondisi sosial di Iran malah tidak seburuk yang ia bayangkan, bahkan lebih kondusif ketimbang AS. Terkadang, supermarket dan toko-toko memang tampak ramai. Banyak orang berbaris dalam antrean panjang dengan barang belanjaan yang lebih banyak dari biasanya untuk bekal karantina. Tetapi, semuanya berlangsung lancar, tidak ada perkelahian atau perampasan antar satu sama lain. 

Jennifer juga menyaksikan sendiri “rak-rak (makanan) penuh”, sebutnya. “Belum ada kekurangan dan kelangkaan, dan masih bisa menemukan semua yang dibutuhkan di pasar petani dan hypermarket”, lanjutnya.

Selama wabah virus Corona, pola interaksi antarwarga Iran mengalami perubahan. Terlihat, sudah tidak ada lagi yang melakukan cipika-cipika seperti biasanya. Kini, mereka berjabat tangan ala Wuhan atau namasthe dan salam dengan kaki ketika saling bertemu, seperti yang ramai beredar di internet. 

Perayaan Nowruz yang tiba dalam masa-masa wabah juga akan berlangsung tidak seperti biasanya. Tidak ada kunjungan ke kerabat ataupun menjamu tamu datang ke rumah. Sebab, hal itu dapat menyebabkan wabah menyebar luas.

Namun, di minggu-minggu awal wabah, sempat terjadi lonjakan barang-barang medis dan keperluan sehari-hari, akibat ulah para pedagang culas. Di tengah ketidakpastian tersebut, justru ada oknum yang berusaha mencari peruntungan dengan memborong barang-barang kebutuhan, kemudian menjualnya dengan harga yang sangat tinggi dan tidak masuk akal.

”Lemon, jahe, dan bawang putih sangat sulit ditemukan di pasar petani biasa, karena para pedagang pengumpul lainnya membeli persediaan  dan telah menjualnya dengan harga 2-3 kali lipat dari harga reguler,” keluhnya.

Namun, menurut Jennifer, ada beberapa kisah baik dan positif yang tidak dilaporkan, yang seharusnya diketahui. Pada minggu-minggu pertama yang sulit, ketika masker dan sarung tangan langka. Muncul inisiatif dari sebagian masyarakat yang secara sukarela mengumpulkan dan mendaur ulang sarung plastik yang sudah tidak terpakai dan dibuang, lalu membagikannya secara gratis. 

“Teman-teman yang terkasih, untuk menjaga dirimu dan agar tidak sakit, tolong ambil sepasang sarung tangan ini,” ajak salah satu warga yang membagikan sarung tangan gratis.

Apotek di dekat rumah Jennifer menjual alkohol, yodium, dan masker dengan harga normal, tidak menaikkannya seperti pedagang culas lainnya. “Ada kepercayaan mendasar di Iran bahwa jika ingin aman dari virus Corona, anda harus melindungi mereka yang berada di dekat anda juga,” sebutnya.

Solidaritas untuk melawan wabah virus Corona juga datang dari banyak pihak. Jennifer mengisahkan, “pemilik properti membebaskan dua bulan dari sewa toko untuk penyewa mereka, spesialis mikrobiologi secara sukarela bekerja pada tes virus Corona.”

Kemudian, “sekelompok orang mengumpulkan secara sukarela membuat masker dan perlengkapan pelindung seluruh tubuh untuk petugas kesehatan.” Orang-orang miskin disana juga tak luput dari perhatian, mereka menjadi prioritas utama untuk mendapat bantuan.

Pemerintah Iran sendiri telah membagikan secara gratis kuota internet 100 GB untuk masyarakat supaya nyaman tinggal di rumah selama 2 minggu lebih. Perpustakaan Anak Nasional Iran juga turut menyediakan 23.000 buku anak-anak gratis dibaca online, karena perpustakaan nasional ditutup.

Dorongan semangat terus berdatangan untuk para dokter dan perawat. Mereka yang ada di rumah sakit dekat Jennifer mendapat permen gratis dari toko roti Gorgan, dan mendapat ucapan “terima kasih, prajurit”. 

Pemerintah lewat iklan masyarakat online, mendorong masyarakatnya untuk tetap memperdulikan hewan kota yang berkeliaran di taman dengan memberi makan kepada mereka. Antar tetangga dan rekan kerja juga saling tolong-menolong, berbagi hand sanitizer dan disinfektan.

Melihat solidaritas masyarakat Iran, Jennifer kagum. “Betapa berbedanya orang Iran dari tempat lain di dunia saat ini”, ungkapnya. Dia sedih melihat keegoisan dan kekacauan, bahkan kekerasaan karena kepanikan dan kecemasan akibat wabah virus ini. 

Belajar dari Iran yang sangat menderita akibat sanksi embargo AS dan terbatas akan sumber daya medis, tetapi dapat menghadapinya dengan saling tolong-menolong, tanpa membedakan kaya atau miskin, dan golongan.

Akhirnya, setelah melalui hari-harinya di Iran. Ia menyimpulkan, “lebih santai di Iran daripada jika kembali ke Amerika”. Dia tidak harus menghadapi wabah virus Corona dengan ketakutan, apalagi perilaku masyarakat yang juga menakutkan. “Bekerja sama adalah taruhan terbaik untuk bertahan hidup”, baginya.

Harapannya, “orang lain dapat belajar dari contoh-contoh di Iran, dan mencoba sedikit kedermawanan dan pertimbangan bagi orang-orang di sekitar mereka.” Lanjutnya, “terutama bagi mereka yang tidak memiliki pilihan untuk mengkarantina diri, mengambil cuti kerja, atau yang lebih rentan, seperti anggota komunitas lansia dan orang yang tidak beruntung di sekitar kita.”