Guru itu bukan hanya sebuah pekerjaan, tetapi guru adalah menyiapkan sebuah masa depan – Presiden Joko Widodo

Sebagai mahasiswa yang mengambil jurusan kependidikan, Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) atau yang sekarang berganti menjadi Praktik Kegiatan Mengajar (PKM) adalah suatu kewajiban. Dari segi normatif, jika mahasiswa tidak melaksanakan PKM, maka jangan bermimpi untuk menyandang gelar sarjana. Di sisi lain, ada hal yang lebih penting dari sekadar melihat PKM sebagai salah satu persyaratan kelulusan; pengalaman mengajar siswa secara langsung.  

Saya ditempatkan di SMK Negeri 22 Jakarta Timur ketika melaksanakan program PKM dari kampus. Saya harus menempuh perjalanan selama satu setengah jam dari tempat tinggal saya di Rawamangun menuju sekolah tempat praktik yang terletak di Condet, Jakarta Timur. Saya selalu menggunakan moda transportasi Transjakarta Busway sampai halte BKN, dilanjut naik ojek online.

Karena sekolah masuk pukul 06.30 WIB, saya harus berangkat pukul 05.00 WIB agar datang tepat waktu. Biasanya, saya bangun pukul 04.30 WIB dan mempersiapkan apa saja yang harus saya bawa ke sekolah. Saya bersama rekan mahasiswa lain melaksanakan praktik mulai akhir Juli 2016 sampai pertengahan Desember 2016 saat pembagian rapor semester gasal nanti.

Enam bulan mengabdi di sekolah memiliki kesan tersendiri bagi saya. Meski hanya berstatus ‘Guru PPL’, namun saya sudah merasa menjadi ‘Guru beneran’. Bagaimana tidak, kami tidak hanya sekadar mengajar, namun juga ikut berpartisipasi menyusun rancangan pembelajaran yang meliputi Silabus, RPP, rancangan media pembelajaran beserta penilaiannya. Tak hanya itu, kami pun ikut andil dalam mengurus akreditasi sekolah dan administrasi Kartu Jakarta Pintar (KJP).

Jujur, awalnya saya berpikir pragmatis terhadap program PKM ini. Dilatarbelakangi oleh beasiswa BidikMisi yang menuntut saya untuk lulus tepat waktu dan keinginan untuk segera diwisuda, saya awalnya menganggap PKM hanya sebagai syarat kelulusan. Yang penting cari nilai. Selesai perkara. Namun seiring berdenyutnya nadi, saya makin memaknai PKM sebagai kesempatan untuk belajar menjadi guru yang baik.

Pelajaran di kelas sangat tidak cukup untuk menyulap kita menjadi guru yang baik. Ibaratnya, pelajaran di kelas yang teoritis adalah nasi dalam piring. Lauk pauk dan minumannya adalah praktik langsung melalui PKM ini. Saya kira semua orang lebih memilih makan nasi dengan lauk daripada sekadar nasi tanpa ada yang mendampingi.

Bulan pertama melaksanakan PKM, saya belum terlalu menikmati. Masih ada beban yang saya rasakan. Saya belum menemukan esensi dalam mengajar selain sekadar mencari nilai. Saya hanya ‘bekerja’ ketika disuruh. Ya, bukankah kewajiban saya hanya menyelesaikan tugas saja?

Pada bulan-bulan berikutnya, saya mulai berpikir bahwa PKM adalah sebuah ladang belajar yang sangat bagus, terutama bagi mahasiswa yang benar-benar ingin menjadi guru. Saya sudah nyemplung di ladang ini, lalu kenapa saya malah sia-siakan? Saya pun teringat kata mentor di Komunitas Young On Top, jangan pernah menyia-nyiakan sesuatu. Sejak saat itu, saya menjadikan PKM sebagai media belajar saya untuk menjadi guru yang lebih baik.

Suka dan duka selama mengajar sangatlah banyak. Saya beberapa kali mengalami down karena berbagai hal di sekolah. Bahkan, beberapa rekan saya ada yang sampai menangis. Yang membuat down bukan hanya murid, namun juga guru-guru di sekolah tersebut.

Saya pernah marah luar biasa karena masih ada beberapa murid yang abai ketika saya mengajar. Kemudian, ada beberapa rekan perempuan yang sampai menangis karena dicubit siswa laki-laki di bagian pipi, dan ada juga yang nggero-nggero karena dipanggil dengan nama hewan serta dibentak oleh murid. Namun, jika dipikir-pikir lagi, masih tetap lebih banyak sukanya, kok. Proses dalam PKM menempa kami menjadi pendidik yang lebih baik.

Ada banyak hal yang saya pelajari selama mengabdi di sekolah. Saya belajar untuk menghargai waktu. Saya belajar bagaimana menggunakan kalimat yang baik saat mengajar. Saya belajar bagaimana berhubungan dengan orang yang lebih muda (dan lebih tua). Saya belajar untuk memaknai setiap proses di sekolah. Satu hal yang paling penting, saya belajar pentingnya toleransi di sekolah.

Mulai dari hal kecil seperti saling menghargai keberagaman serta memupuk rasa kebersamaan dalam perbedaan sangat penting ditumbuhkan sejak awal. Ketika ada satu orang yang berbicara, maka yang lain mendengarkan. Ketika ada anak yang berbeda, anak yang lain menerima perbedaan tersebut sebagai kekayaan. Ketika ada yang salah, maka tidak menghakimi dan memilih untuk memberi nasihat yang baik. Indah, bukan?

Sekali lagi, tentang toleransi. Masih banyak siswa yang belum bisa menghargai temannya, bahkan kepada guru. Pun, masih banyak guru yang belum bisa menerapkan pembelajaran berbasis toleransi, seperti tidak membentak ketika siswa salah dan tidak menghakimi ketika siswa memilih sesuatu yang ‘berbeda’ dari biasanya.

Saya yakin, toleransi adalah salah satu kunci terciptanya iklim belajar yang baik. Dengan adanya toleransi di benak guru dan murid, maka pembelajaran akan lebih efektif karena kita dapat lebih fokus ke pelajaran. Toleransi juga termasuk dalam ranah afektif dalam tiga prinsip pendidikan Ki Hadjar Dewantoro.

(Masih) dalam suasana Hari Guru Nasional, saya berharap semakin banyak mahasiswa kependidikan yang sadar bahwa PKM bukan sekadar syarat kelulusan, tapi juga ladang belajar untuk menjadi guru yang baik.

Selain itu, saya juga berharap semoga semakin banyak guru yang dapat menjaga dan menerapkan toleransi di setiap pembelajarannya. Seperti kata Ahmad Syafii Maarif, peran guru adalah menggali potensi siswa agar pintar dan bertanggung jawab bagi kepentingan bersama. Jika tidak tahu makna toleransi, bagaimana bisa mengerti kepentingan bersama? Selamat Hari Guru.