Barangkali ini adalah salah satu kejadian paling tidak biasa yang terjadi pada saat Perang Dunia II. Seorang pembelot musuh (defector) memimpin satu gugus tempur pesawat musuhnya untuk menyerang dan membom markas pusat bekas tempat dia sendiri pernah berdinas. Dia adalah Letnan Minoru Wada.

Tidak banyak yang diketahui dari Lt. Wada, kecuali seorang Jepang yang dilahirkan di Amerika (Kibei), yang menempuh Kuliah di Universitas Tokyo sesaat sebelum Jepang menyerbu Pearl Harbor. Ketika itu ia masuk dinas ketentaraan dan mendapat pangkat Letnan Dua di Bagian Transportasi Angkatan Darat Kekaisaran Jepang / Imperial Japanese Army.

Pada tahun 1943, ia mulai bertugas di Filipina sebagai perwira Transportasi, dan pada tahun 1944 menjadi perwira intelijen untuk Divisi ke-100 Imperial Japanese Army yang berpangkalan di Pulau Mindanao, Filipina. Tugasnya adalah menghadang gerak laju Tentara Sekutu dengan segala cara.

Tentara Sekutu kemudian menangkap Lt. Minoru Wada pada Pertengahan tahun 1944 bersamaan dengan tentara Jepang lainnya yang tertangkap saat Amerika melakukan operasi untuk menyerang Divisi ke-100 Imperial Japanese Army.

Wada sempat dicurigai oleh tentara sekutu saat dirinya ditangkap. Karena menurut William Flynn, Perwira Marinir Amerika / USMC yang menginterogasi Wada, ia “seolah menawarkan dirinya untuk ditangkap, bukan dengan terpaksa seperti tentara Jepang pada umumnya.”

Tak butuh waktu lama dari Lt. Minoru Wada ditangkap sampai kemudian mulai diinterogasi secara ekstensif oleh ‘Mud Marine S-2’ (Ground Forces Intelligence Officer / Perwira Intelejen Pasukan Darat,) Wada mengungkapkan kepada para Interogatornya bahwa sejak awal dia sudah tidak suka dengan perang yang dikobarkan oleh Jepang sendiri.

Ia berkata,

Para Jendral dan Laksamana seolah memaksakan perang ini kepada seluruh rakyat Jepang. Rakyat Jepang pada umumnya ingin hidup dengan damai dan harmonis.

Wada sendiri curhat kepada para interogatornya bahwa Ia ingin cepat-cepat perang selesai, kembali ke tanah airnya dan hidup dengan damai. Di antara curhatan Wada kepada para interogatornya adalah:

Jika ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk cepat-cepat mengakhiri perang ini, aku bersedia berpartisipasi.

Akhirnya, USMC memutuskan untuk menawarkan Wada memberitahu posisi markas besar pasukannya dan bertindak sebagai pathfinder / penunjuk jalan bagi Armada Pesawat Tempur dan Pembom USMC untuk menyerang langsung markas besar Divisi ke-100 Imperial Japanese Army, bekas satuannya sendiri.

Pada awalnya Lt. Wada menolak untuk menerima tugas itu. Akan tetapi, para interogatornya meyakinkan Wada bahwa jika ia mau mengemban misi ini, perang akan berakhir lebih cepat dan ratusan hingga ribuan nyawa tentara yag bertempur, baik Jepang maupun Amerika, akan terselamatkan, sesuai keinginannya. Akhirnya Lt. Wada pun bersedia mengemban tugas tak biasa ini.

Karena Lt. Wada tidak bisa berbahasa Inggris, setelah membelot ke US itulah Wada ditemani oleh seorang penerjemah USMC yang bisa berbahasa Jepang, USMC Gunnery Sgt. Charles T. Imai, yang nantinya akan membantu menerjemahkan instruksi dari Lt. Wada kepada pilot pesawat pembom ketika memimpin Formasi Bomber USMC.

Awal Agustus 1944, Lt. Wada menaiki Bomber B-25 Mitchell yang dipiloti Maj. Mortimer H. Jordan sebagai pesawat terdepan dan pemimpin formasi, bersama Charles Imai yang bertindak sebagai penerjemah yang menerjemahkan instruksi Lt Wada kepada Maj. Jordan selama penerbangan menuju ke Markas 100th Army Division.

Misi serangan udara ini dilakukan oleh North American PBJ, Versi USMC dari Pembom B-25 Mitchell dan empat Skuadron Vought F4U Corsair milik USMC. Menurut Lt. Wada, Markas besar 100th Army Division berada di sekitar Jalur Kibaw-Talomo, di antara pegunungan dan hutan rimba di Daerah Davao, Mindanao.

Lt. Wada memberitahukan posisi markasnya dengan benar dan tepat kepada rombongan Bomber USMC, yang benar-benar menghancurkan fasilitas-fasilitas markas besar 100th Division yang tersembunyi di hutan-hutan belantara, ditambah dengan salvo roket dan senapan mesin dari Vought F4U Corsair. Serangan tersebut benar-benar meluluh lantakkan markas besar 100th Army, yang semua Fighter dan Bomber USMC dipimpin dan dipandu oleh Lt. Minoru Wada.

Menurut Maj. Mortimer Jordan, pilot B-25 yang ditumpangi Wada,

Perwira jepang itu (Lt. Minoru Wada) benar-benar melakukan tugasnya dengan baik, dia memberitahukan posisi markas 100th Division dengan sangat tepat, dan kami melakukan sisanya. Kami benar-benar menghancurkan markas Jepang itu, atau bahkan lebih tepatnya memusnahkan.

Setelah operasi pemboman, Lt. Wada tampak melankolis dan shock. Tetapi ia tidak menyesal sedikitpun atas apa yang sudah dilakukannya. Beliau merasa senang sudah melakukan apa yang menurutnya dapat mempercepat berakhirnya perang. Demikian menurut William Flynn, perwira intelejen USMC yang menginterogasi Wada.

Hasil dari operasi pemboman sekutu yang dipandu oleh seorang perwira Jepang ini benar-benar fatal. Dengan hancurnya markas besar 100th Army Division, pasukan Jepang tidak lagi menjadi suatu angkatan yang teratur. Tak ada lagi komunikasi dan komando, dan akhirnya terpisah menjadi kelompok-kelompok perlawanan kecil. Operasi tersebut benar-benar mempercepat jatuhnya Mindanao.

Setelah Operasi pemboman ini, Lt. Minoru Wada “menghilang”. Ia diberi identitas baru, penampilan baru dan segala arsip dari masa sebelum 1945 dihapus. Setelah 1945 tak ada yang tahu dimana Lt. Wada berada, bahkan hingga saat ini.

Sampai saat ini, Lembaga Arsip Federal Amerika tidak membuka arsip apapun yang berkaitan dengan kehidupan dan personal dari Lt. Minoru Wada, sebelum maupun setelah perang. Ia benar-benar “menghilang”.

Sumber :