Pagi ini matahari enggan memperlihatkan sinarnya. Awan mendung menyelimuti pagi. Dingin yang semakin menjadi membuat Narima semakin malas untuk bergegas.

Suara bengkel di depan rumah belum juga terdengar. Biasanya sepagi ini mereka sudah mulai meramaikan suasana. Pagi ini masih sangat hening. Seperti kesepian yang masih menyelimuti hati ini.

Narima, seorang anak perempuan yang sudah mulai tumbuh dewasa. Matanya yang berbinar-binar membuat setiap mata tertuju padanya. Kulitnya yang kecoklatan memberikan kesan manis dalam dirinya.

Dia sosok yang mudah bergaul dengan siapapun tak terkecuali Rendra. Laki-laki yang terkenal diam seribu bahasa, tidak memiliki teman dan jarang sekali mau bergaul dengan sembarang orang.

Hari ini adalah waktu yang biasa digunakan Narima untuk bertemu dengan Rendra. Seperti biasa setiap hari sabtu di sela-sela kesibukannya.

Narima dan Rendra berteman sejak SMP. Rendra adalah murid pindahan dari luar negeri. Ayahnya bekerja sebagai advokat yang dulu menyelesaikan kuliah di luar negeri dan Rendra ikut dengan ayahnya sampai lulus SD.

Sebagai seorang anak yang sudah terlalu lama hidup di luar negeri, Rendra harus banyak beradaptasi dengan lingkungan dan kegiatan di Indonesia. Makanya dia butuh banyak waktu untuk mengenal lingkungannya.

Setelah pindah ke Indonesia, Rendra masih sedikit gugup dengan suasana baru. Suasana yang membuat dia tidak nyaman. Banyak anak-anak yang tidak bisa menerima kedatangan Rendra karena dia belum lancar berbahasa Indonesia.

“Eh, ada anak baru katanya dari luar negeri. Halah paling juga gak bakal betah sekolah di sini.” Ucap salah satu teman kelas Rendra.

Ayah Rendra tidak memilih sekolah Internasional untuk Rendra karena terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Hanya SMP di mana Narima sekolahlah tempat terdekat dari perumahannya.

Hari pertama masuk sekolah, begitu Narima ingat, Rendra hanya diam dan tidak mengerti apa-apa. Belum berani bertanya dengan bahasa Indonesia yang sudah dia hafalkan meskipun baru sedikit.

Bel masuk kelas sudah terdengar. Semua murid memasuki kelas dengan sedikit rapi namun tidak lupa ada pula preman-preman kelas yang menguasai pintu masuk. Begitulah gambaran kelas setiap pagi. Begitu bisingnya.

“Selamat pagi, anak-anak.” Ibu guru membuka kelas.

“Mari kita berdoa terlebih dahulu.” Lanjut Ibu guru.

Satu kelas memulai doa dan membuka buku pelajaran. Tiba-tiba pintu terdengar ada yang mengetuk.

Tok....tok...tok.... (Ibu guru membukakan pintunya).

“Good morning, Rendra.” Sapa Ibu guru.

“Morning, Mrs.” Jawab Rendra.

“Anak-anakku, pagi ini kita kedatangan teman baru. Dia pindah dari Australia. Dia belum bisa bicara menggunakan bahasa Indonesia dengan lancar makanya kalian juga harus ngajarin Rendra biar lebih lancar.” Jelas Ibu guru.

“Rendra, you can introduce your self now.”

“Hi, Friend. My name is Rendra. I moved from Aussi last week. Nice to meet you.” Perkenalan singkatnya.

“Silakan duduk di samping Narima, Rendra. Dia salah satu siswa berprestasi di sekolah ini. Jadi kamu bisa belajar banyak dengan dia.” Lanjut Ibu guru.

Rendra kemudian duduk di samping Narima. Siapa yang tidak terkesima dengan sosok Rendra yang begitu menawan namun sayang dia terlalu diam dan hanya orang-orang tertentu yang bisa mendekatinya.

Narima mulai berkenalan dengan Rendra. Dengan kepiawaiannya berbahasa Inggris, Narima tidak terlalu kesulitan untuk berteman dengan Rendra.

Waktu berlalu begitu cepat. Satu minggu, satu bulan, sampai enam bulan berlalu. Kedekatan Rendra dan Narima semakin terlihat. Setiap hari sabtu di sela-sela kesibukan sekolah, mereka sempatkan bertemu untuk belajar.

Semakin hari semakin berbeda. Rendra semakin berani bercerita banyak tentang keluarga, kehidupannya dan apa yang menjadi kegelisahannya.

Sabtu pagi, seperti biasa mereka memilih tempat ternyaman yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Kebetulan mereka tetanggaan hanya terpisah lima rumah di antara rumah mereka.

“Narima, aku sudah di depan rumah.” Rendra mengirim pesan.

“Oke aku turun.” Narima menjawab pesan.

Keduanya telah bertemu tepat di depan rumah. Rendra selalu menjemput Narima dengan motor matic yang selalu dia bawa untuk ke sekolah. Sabtu ini agak berbeda. Rendra terlihat lebih ganteng dan harum sekali.

Sesampainya di tempat tujuan, Rendra tiba-tiba mengeluarkan cokelat kesukaanku dan langsung memberikannya kepadaku.

“Ini untukmu, tapi bukanya nanti kalau di rumah.” Katanya.

“Kenapa begitu? Gak biasanya kamu seromantis ini.” Kata Narima sambil tertawa.

“Aku sudah mempersiapkan sejak seminggu yang lalu, Narima. Aku tidak berani memberikan cokelat kesukaanmu ini.” Kata Rendra.

“Lha emang kenapa, apa aku terlalu menakutkan untukmu?” Tanya Narima.

“Bukan. Kamu terlalu baik untuk seorang sepertiku.” Jawab Rendra.

Kamipun mulai belajar dan mengerjakan berbagai tugas yang kebetulan kami adalah satu kelompok. Banyak tugas akhir-akhir ini yang harus dikerjakan secara berkelompok.

Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB. Saatnya pulang. Belajar hari ini kami akhiri dengan satu tugas yang telah diselesaikan. Kami banyak bercanda selama perjalanan menuju rumah. Sudah tidak ada canggung-canggunya.

“Sampai jumpa besok di sekolah, Rendra. Aku masuk dulu ya.” Pamit Narima.

“Terima kasih untuk hari ini. Jangan lupa buka cokelatnya sebelum basi.” Jawab Rendra sambil sedikit tertawa.

Narima masuk ke kamar dan segera membuka cokelat dari Rendra. Sebegitu penasarannya dengan cokelat spesial itu. Dibukalah cokelat itu dan terlihat secarik kertas yang terselip di dalamnya.

“ Narima, aku bukan laki-laki pemberani seperti orang lain. Aku hanya laki-laki pecundang yang hanya berani menyatakan perasaan lewat tulisan.

Narima, waktu telah berlalu. Dari awal perkenalanku denganmu hingga kini, aku tidak berubah. Perasaanku tetap terjaga untukmu.

Narima, terimalah perasaanku ini. Aku benar-benar ingin memilikimu. Dirimu dan seluruh keluargamu. “

Begitulah kata-kata Rendra di dalam secarik kertas itu. Narima begitu bahagia dan bahagia. Narima hanya ingin berteriak aku juga ingin dimiliki olehmu.