Tentang Raynia

Nia, Nia panggilanku
di depan kopi, gitar kencrung, dan gelak tawa
terus saja terbahak
sambil berkata stop NIA!
Eh, sua stop N(Y)IA!

Lalu kami tetap bernyanyi
tembang tajuk ‘lagu petani’
dendang apik ‘rindu sahabat’
kami berkawan untuk melawan
prakarsa pembangunan tak memanusikan

Begitulah lagu Iksan Skuter
menolong kami bertahan
untuk menunda nasib dimarjinalkan
tidak lain, tidak bukan
korporat cum pemerintahan

Mulai saat itu kami paham
tanah ialah baju berjahit tanaman
kami kenakan demi kehidupan
dirawat, ditumbuhkan, dibesarkan
dipanen demi kesejahteraan

Bapak dan ibuku petani
yang bukan petani tak dapat pahami
jika tak ke sini, begitulah Tuan penghamba investasi!
bila tak ke mari, duhai Sultan pelancar pembangunan
pelajuan burung besi yang buat orang tuaku bersusah hati!

Jangan rampas ruang hidup kami!
Itu pun jika kau dengarkan dengan telinga dan nurani!


Tentang Riski

Ris begitu banyak orang menyapa
salah satu kakak sosok Raynia
banyak orang menjadi kawannya
tentu sebab pada masanya
solidaritas tak terbendung banyaknya
antardusun, lintas kota, hingga seberang pulau

Ris kala itu bertanya
“Kau ke mari untuk apa?”

Tertampar!
Sleman-Kulon Progo tak begitu jauh
tapi tidak sedikit yang enggan menujunya
banyak dari kami tak sadar diri
jika bencana penggusuran melanda
saudara serta saudari
bahkan boleh jadi berpotensi
jua mengguncang ruangmu suatu hari

Lantas Ris ialah guru pembangunan sesungguhnya
yang takkan engkau temukan
dari belantara halaman teori
pembangunanisme!
modernisasi!

Khalayak biasa tak sependapat padanya
dalih kemajuan, kepentingan umum
bahkan pertumbuhan ekonomi
betapa menggiurkannya mitos itu
sungguh memabukan, tapi tak pernah terwujudkan

Tiada yang sanggup mencipta kilat peradaban
sedang setiap hari ancaman atas penghidupan digulirka
tanah, sawah, tegalan, kerukunan, kebudayaan; lenyap!


Labu-labu 

Labu-labu
bukan bulat
tak jua manis
atau seperti penampakan lampu haloween 
a la barat

Labu-labu
bukan oranye
namun hijau
seperti sawah-sawah kami
enam tahun lalu!

Ah, kau tak tahu
Ah, kau belum tahu, mungkin
Ah, atau tak mau tahu?

Ya, memang begitulah
sikap pemimpinku, katanya
bahwa petani yang kenal labu itu
akan sejahtera, jika digusur!
bila tak menanam!

Padahal ia tak bisa lepas kerjaannya
sebagai penyembuh massa
sekaligus pejabat negara
kau sudah dengar cerita?  

Jangan bilang-bilang, rahasia
bahwa bupati kami itu nyambi jadi dokter
tapi punya impian
Apa?

Membuat rakyatnya
para petani tua itu menjadi buruh bandara!
Wah, gila!
Dia waras, tapi pasiennya korporat
Ketularan!

Bisa jadi!
Sebab…
Tuannya ya korporat, jabatan hanya mandat!
Wabah oligark!


Belalang-belalang Belakang Rumah 

Sawah hijau berseri
ada jauh dari bibir pantai
bergumuk pasir berjumlah
lebih dari satu lapis
tak lain, tak jua bukan
sebagai penghantam abrasi
atau tsunami
bila kelak kan terjadi lagi

Pakar dan kami tak jauh beda
tentang mitigasi, tentunya
namun pembangun bandara tak percaya
malah menggerusnya
segera disulap menjadi landasan pacu
lucu!

Di dekat gumuk tumbuh subur
sayur dan buah-buahan
berderet pada tegalan demi tegalan
melon, semangka, terong, cabai
berton-ton didapatkan
namun masih saja ada yang yakin
bila kami tak sejahtera
keterangan dari mana?

Bahkan kami tak jua pernah lapar
apalagi mengeluhkan soal tak dapat penghasilan

Hari ini kami menanam
pagi di sawah
sore di tegalan
malam cari belalang
dijual tuk dapatkan
dua kali gaji buruh perkotaan

Belalang-belalang itu sudah tiada
sejak kinjeng wesi mulai dibuatkan landasannya

Miris sekaligus meringis
ada yang menangis
saat transaksi miliaran
dikuasai satu keluarga
yang katanya raja bagi rakyatnya


Kisah-kisah yang Hampir Serupa 

Pada persemayamanku di sini
listrik dipasang sebelum runtuhnya orde baru
gedhek berubah menjadi tatanan batu bata
ber-lem semen dan gamping
terjadi begitu lama, berselang jauh
antar-rezim, lintas kepemimpinan
sambatan berkali-kali
menurunkan atap lama
diganti baru, dan seterusnya
hingga kami selalu bersua

“Ya, inilah gubuk kami, Tuan!”
Gubuk?
bahkan istana dapat sepadan
dengan bentuk dan warna bangunannya

Namun, itulah penghargaan
betapa sukarnya mendirikan
rasa aman, nyaman, dan kerukunan
tak semudah meruntuhkannya
dengan mengepung rumah kami
dengan baekhoe berjumlah tujuh!
Duh!


Empat Belas Desember 

Kami berharap ada yang ketakutan
bukan pada kami yang terus melawan
Atau pada hantu yang berkeliaran
di sekitar makam keramat yang jua dihancurkan
dibongkar paksa tanpa persetujuan
Tapi takutlah pada Tuhan!

Tuhan yang ciptakan kesuburan
pada tanah hitam penuh air mengalir
di dalamnya, bening sempurna
untuk hidup tanaman, manusia, dan ternaknya

Tuhan yang atur bibir pantai
dengan berlapis gumuk yang
akan menjaga kehidupan
merawat peradaban manusia
tuk pinjam alam-Nya

Tuhan yang rangkaikan historis
hingga manusia pertama menginjak Temon
mulai menciptakan ‘ruang hidup’
bagi keluarga yang lahir setelahnya

Tuhan yang berkahkan kerukunan
dalam kumpulan-kumpulan
rewang, tahlilan, pengajian, arisan
untuk memperkuat jaminan
jalinan antar-warga yang susah
dan senang menjalani hari demi hari

Tuhan yang ciptakan rantai penghidupan
untuk memberi makan
Diri sendiri dengan bertanam
Orang lain dengan menjual sebagian hasilnya

Tuhan yang masih perkenankan
manusia memiliki impian
menanam, sekolah, apa saja
bahkan pada Riski
yang ingin menjadi seniman

Detik, menit, jam
hari, bulan, dan tahun berganti
enam tahun sudah semua berlalu

hingga akhirnya
azan yang sama tak berkumandang di masjid
Al-Hidayah namanya
tak kau ambil ‘hidayah’ itu duhai Tuan yang serakah?

Bersama runtuhnya benteng pertahanan terakhir itu
sebagian manusia dzalim telah mengakuisisi alam
telah berani mendaku miliknya sendiri
padahal tak ada yang benar-benar dapat dimiliki
kepentingan ‘segelintir’ atas nama apa pun di dunia ini
kecuali kemaslahatan dan banyak rakyat
yang hingga saat ini tak tahu bahkan untuk sekadar terlelap

Seperti bencana biasanya
didirikanlah terpal, tidurlah di sana
bapak dan para ibu yang dirampas rumah dan lahannya
sambil sayup-sayup
backhoe, polisi, tentara, dan para pekerja bandara
berkelindan di otak setiap hari
sebagai bentukan bayang atas pengalaman diri
“Dapatkah kau pulihkan trauma ini?”

Yogyakarta, 26 Desember 2018 

Tiga Belas Hari yang Telah Lalu
Saat ini;
Putra Pak Yuyun Terus Tumbuh Baik
Impian Riski Tetap Hidup Penuh Semangat
Bu Wagirah Dapat Tidur  di Rumah
Bila Bandara Tidak Jadi Dibangun!