Tulisan kecil ini pertama-tama sesungguhnya tentang kaum pekerja di Jepang yang akan dituliskan dalam beberapa bagian dan  ingin menjawab perrtanyaan sederhana mengapa kaum pekerja pendatang di Jepang lebih berbahagia, professional dan bergaji tinggi. Lalu mengurai secara perlahan kondisi kaum pekerja di dalam perusahaan yang diteliti. Jawaban atas pertanyaan dan uraian detil nantinya akan berbasis studi etnografis di sebuah perusahaan dekonstruksi, Toba System, milik orang Indonesia bernama Andy Simatupang, yang telah mempekerjakan kurang lebih 20 pendatang ditambah 3 warga Jepang. Para pendatang ini berasal dari Indonesia, Vietnam, Srilangka, dan China.

Kebahagiaan Pekerja

Pekerja pendatang ini berbahagia karena memiliki kepastian hidup di Jepang. Mereka bekerja dan dibayar dengan upah yang cukup untuk standard hidup di negara maju. Mereka bekerja dengan sistem kerja yang pasti. Mereka datang di pagi hari pukul 06:30 dan pulang kerja pukul 19:00. Mereka berpesta ria bersama seringkali sekali dalam sebulan. Mereka saling mengenal dan berkomunikasi.

Professionalisme Pekerja

Para pekerja ini belajar bersama. Pekerja senior akan mentrasfer skillnya perlahan kepada pekerja baru. Dengan menggunakan fasilitas bekerja yang standard seperti mobil perusak produksi Komatsu (disebut jumbo Komtasu di kalangan pekerja), truk 3 dan 4 ton serta 1 buah truk bermuatan 12 ton dikenal dengan nama ogata, mereka dapat merusak rumah/bangunan dengan cepat, lalu memisahkan puing-puing dan sampah dan mengirimnya ke perusahaan recycle. Mereka professional karena mereka dapat menyelesaikan pekerjaan.

Gaji Para Pekerja

Para pekerja pendatang ini mendapatkan upah yang dibayarkan tepat waktu di kisaran satu juta rupaih per hari. Tentu saja gaji yang tinggi ini sesuai dengan beratnya pekerjaan ini. Pekerjaan ini menggunakan alat berat sehingga dapat membahayakan keselamatan pekerja.

Kunci kebahagiaan, professionalisme dan upah yang layak serta tepat waktu ini sangat dipengaruhi faktor manajerial pemilik perusahaan, Andy Simatupang, yang tampil memosisikan diri sebagai pekerja yang menginspirasi dan mengorganisir para pekerja dan terjun langsung bekerja dengan skill yang tinggi dan mengatasi persoalan yang muncul di tengah pekerja pendatang.

Terbentuknya Perusahaan dan Berkumpulnya Pekerja Pendatang

Perusahaan awal beroperasi beranggotakan 3 orang pada awal tahun 2014, yaitu Andy Simatupang (pendiri perusahaan), Tani (supir truk), dan Thaufan, penulis, yang berfungsi sebagai pekerja pemula membantu pekerjaan-pekerjaan ringan. Penulis bisa masuk bekerja paruh waktu di perusahaan ini awalnya melalui jaringan komunikasi sesama orang Indonesia yang telah menetap dan bekerja di Jepang. Perusahaan ini kemudian menambah personil dua pekerja baru dari Indonesia yang telah lama menetap di Jepang dan menikahi perempuan Jepang.

Pekerjaan dekontruksi rumah/bangunan yang dihandle 3 personilnya di masa-masa awal masih menggunakan peralatan dan kendaraan yang relatif minimal dan kurang lengkap untuk ukuran alat operasi pekerjaan sektor ini di negara Jepang yaitu kendaraan berat perusak rumah, disebut jumbo kecil,[1] truk 4 ton dan mobil pickup kecil. Jumbo dan mobil 4 ton masih dirental dari perusahaan besar. Jumbo untuk merusak rumah, truk 4 ton dan mobil pickup kecil untuk mengantar kayu-kayu rumah/bangunan, puing-puing sampah plastik, batu, semen tembok, besi, aluminium dan lain-lain sebagainya.

Perlahan perusahaan ini menambah truk bekas 3 ton. Dan tak berapa lama, seorang imigran China masuk bekerja ke perusahaan ini. Perusahaan ini terbilang relatif cepat beradaptasi, bertahan dan akhirnya menarik imigran lain misalnya dari Vietnam. Kebanyakan pekerja dari Vietnam sangat lincah dan kuat. Mereka umumnya mantan pekerja magang, disebut kenshushei, di berbagai perusahaan Jepang.

Pada akhir bulan September tahun 2016 hingga Mei 2017 di mana saya intensif berinteraksi, perusahaan ini telah mempekerjakan kurang lebih 20 imigran terdiri dari pendatang dari Indonesia, China, Vietnam, dan Srilanka. Mereka bekerja dengan beberapa jumbo yang lebih besar 5 buah, mobil truk besar 9 buah terdiri dari 3 ton, 4 ton hingga truk gede 12 ton, disebut Ogata. Semua kendaraan operasional ini ada yang dimiliki penuh, loan maupun sewaan. Perusahaan ini telah berkontribusi membayar pajak tahunan kepada pemerintah Jepang kurang lebih 1 milyar rupiah[2]. Yang menarik, perusahaan makin besar dan kaum pekerjanya makin profesional di bidang dekontruksi rumah/bangunan.

Pekerjaan dan Kondisi para Pekerja Imigran

Pekerjaan dekontruksi rumah relatif pekerjaan berat. Kaum pekerja bertanggung jawab menghancurkan rumah atau bangunan sejenis secara aman tanpa merusak bangunan tetangga atau korban kecelakaan pekerja. Tentu dengan menggunakan skill menggunakan jumbo secara jeli dan diiringi dengan pekerjanya yang harus cekatan. Tetapi yang lebih penting pula adalah kepemimpinan AS di komunitas kaum buruh imigran ini sangat penting dan butuh pengalaman. Ini akan dibahas spesial pada tulisan bagian 2.

Ket. Foto: Penulis bersama pemilik perusahaan, AS, dan para pekerja imigran dari Indonesia, China dan Vietnam di lokasi pekerjaan.

Rumah/bangunan secara umum bisa dibagi dua yaitu kecil dan besar. Rumah/bangunan kecil yang dihancurkan oleh pekerja cukup menggunakan jumbo kecil, disebut nigo dan rumah/bangunan yang lebih besar butuh menggunakan jumbo yang besar, disebut yongo. Rumah/bangunan ini umumnya ditinggalkan oleh orang Jepang. Salah satu alasan rumah segera dirusak karena pajak rumah/bangunan yang tinggi dalam setahun.

Berbicara tentang rumah orang Jepang, modelnya adalah rumah anti gempa berbahan kayu yang dilapisi semen tipis. Tetapi masih banyak juga ditemui rumah tua yang berbahan tanah dengan rangkain penyangga bambu pada bagian dalam. Rumah Jepang secara simpel terdiri dari atap yang menggunakan genteng tradisional atau modern dan kadangkala menggunakan sejenis seng.

Dindingnya lebih banyak terbuat dari lapisan semen tipis yang dirangkai dengan besi-besi kecil lalu membungkus kayu-kayu tipis. Lantainya banyak terdiri dari kayu di mana pada bagian kamar dilapisi dengan tikar spesial Jepang yang disebut tatami berukuran kurang lebih satu meter setengah. Untuk ukuran kamar kecil dengan panjang dan lebar kurang lebih 3 meter dibuat lima atau enam buah tatami. Kamar besar tentu menggunakan tatami lebih banyak. Pada bagian fondasinya yang anti gempa adalah beton di atasnya diletakan kayu balok yang dikunci dengan baut besi.

Pekerjaan ini diperoleh melalui proses komunikasi dua arah antara bos perusahaan dengan mediator yang menawarkan sebuah pekerjaan. Dengan kalkulasi yang rasional setelah melihat lokasi dan sasaran, pemilik perusahaan menawarkan balik harga yang pas[3]. Jika mediator telah berkomunikasi kembali dengan pemesan pekerjaan dan menyetujui harga maka pekerjaan telah bisa direncanakan. Proses perencanaan biasanya cepat. Dalam hitungan minggu, informasi pekerjaan baru dibawa ke dalam forum diskusi harian para pekerja di pagi hari dan siap dieksekusi oleh pekerja.

Para pekerja secara umum memiliki kesadaran konteks bahwa mereka hidup di Jepang dengan sistem kerja yang disiplin[4]. Mereka lazimnya berkumpul sejak pukul 06.30 pagi tanpa memandang musim, baik di musim gugur, dingin, semi maupun panas. Para pekerja telah berangkat dari rumah sejak pukul 5:00 pagi, jika bermukim di tempat yang relatif jauh dan pukul.06:00 jika bermukim di tempat sekitar basecamp. Perlu dicatat, para pekerja di Jepang telah berkeliaran di stasiun kereta sejak pukul 05:00 untuk mengejar beroperasinya kereta pertama mengantar mereka ke lokasi pekerjaan.

[1] Kendaraan berat ini dikenal di kalangan pekerja dengan nama Jumbo. DI Jepang, merek-merek Jumbo produksi dalam negeri antara lain Komatsu, Hitachi, Sumitomo. Jumbo produksi Amerika yaitu Caterpillar juga banyak digunakan.

[2] Hasil wawancara dengan AS

[3] Hasil wawancara dengan AS

[4] Diskusi dan wawancara dengan pekerja berinisial LY.