Hari ini adalah hari pertamaku menjadi guru di pedalaman Kalimantan Selatan tepatnya di Pegunungan Meratus. Aku mendapatkan amanat untuk menjadi guru bagi anak-anak pedalaman Suku Dayak. Tapi sebenarnya ini bukanlah hari aktif sekolah, pasalnya libur sekolah baru saja dimulai, namun bukan berarti kegiatan belajar mengajar juga diliburkan.

Anak-anak menyambutku hangat saat kami bertemu saat acara adat tadi malam. Mereka sangat antusias mengetahui bahwa aku akan menjadi guru mereka. Mereka langsung mengajakku untuk belajar dan bermain. Tepat hari ini, kami membuat kesepakatan mengumpul di sekolah pukul 09.00 WITA.

Pukul 08.45 WITA aku sudah sampai, aku duduk di depan sekolah, sepi, sunyi, senyap. Di sungai yang terletak di samping sekolah ada beberapa anak-anak sedang mencari ikan, saat aku mendekat ternyata bukan anak-anak muridku. Hmm aku pun mulai cemas, jangan-jangan mereka tidak hadir atau mungkin telat.

Akhirnya aku putuskan naik ke bukit menuju sebuah perkampungan bernama Manotoi. Perkampungan itu lah tempat murid-muridku tinggal. Semua masyarakatnya adalah Suku Dayak yang memiliki aliran Kepercayaan Kaharingan (animisme).

Jalanan sangat sepi, tidak ada satu orang pun yang terlihat. Hanya pepohonan yang membentang luas di kanan dan kiri. Aku terus melangkah naik di jalan setapak itu. Tiba-tiba aku melihat seekor anjing berada di belakang sedang jalan menuju arahku. Sungguh aku sangat takut saat itu, karena sama sekali tidak ada orang dan aku tidak punya jalan lain selain naik. Akhirnya aku mempercepat langkahku mendaki jalanan tersebut dengan sandal jepit jadi cukup licin.

Nafasku sudah terengah-engah. Rasanya capek sekali, keringat pun bercucuran. Sesekali aku melihat ke belakang, anjing itu masih jalan memang sedikit jauh di belakangku tapi tetap saja aku harus lebih cepat. Sebenarnya aku sudah beberapa kali melihat anjing itu di daerah sekolahku dan ia tidak menggigit tetapi tetap saja aku ketakutan.

Tiba-tiba aku ingat telah menyimpan no hp Ibunya Sanju, istri pembekal atau yang biasa dikenal dengan kepala desa. Aku menghubungi ibu tersebut namun sepertinya saat itu sinyal di hpku tidak mendukung, akhirnya aku mematikan kembali dan fokus ke jalanku. Beberapa menit kemudian hp ku bergetar, ternyata Mama Sanju menelponku.

“Halo ibu ai, ada apa ibu?” “Halo bu, Sanjunya ada bu? Soalnya kami sudah janjian mau belajar bareng-bareng sama anak-anak yang lain di sekolah” “Ohh itu bu ai, mereka baru jalan,………” “Oh iya kada apa-apa ibu saya sudah jalan menuju Manotoi, terimakasih bu” beberapa percakapan aku sedikit tidak paham karena saat itu mungkin ibu tersebut menggunakan Bahasa Dayak.

Aku menutup HP dan melanjutkan perjalanan,  saat menelpon itu pun suaraku masih terengah-engah, jantungku masih berpacu kencang, mungkin karena jalan yang mendaki, kelelahan, serta takut akan anjing dibelakangku. Tiba-tiba di ujung jalan ada suara keramaian anak-anak yang memanggil-manggilku “Ibu ai…. Ibu aii” mereka berteriak-teriak sambil berjalan menuju arahku, mereka membawa bambu untuk bermain engrang, batok kelapa yang sudah diikat dengan tali.

Beberapa alat itu yang akan kami gunakan untuk bermain. Saat kami berkumpul, anjing tadi lewat dan benar ia hanya lewat bahkan sama sekali tidak memperdulikan kami, ketakutanku yang sangat luar biasa tadi.

Ada beberapa anak yang baru ku temui tadi, mereka memperkenalkan diri dan bertanya dimana aku bermalam. Mereka sangat antusias menyambut kedatanganku dan sangat hormat. Melihatku membawa payung seorang anak bernama Vidi mengatakan “Sini bu ai, payungnya biar saya saja yang bawa” sambil mengambil payung dari tanganku.

Kami berjalan kembali ke sekolah. Saat aku bertanya ternyata mereka sudah lewat ke sekolah tetapi karena tidak ada orang mereka balik ke rumah mereka untuk mengajak teman yang lainnya. Kami terus berjalan sambil bercerita banyak hal. Tidak terasa turun ternyata jauh lebih cepat dan lebih mudah tentunya.

Akhirnya kami sampai di depan sekolah, kami masuk ke dalam namun sayang kelas-kelas di kunci. Aku memutuskan belajar di luar saja, menggunakan 2 meja yang terdapat di luar kelas. Kami pun mulai belajar. Setengah jam berselang hujan turun dengan derasnya. Aku bingung harus kemana karena tidak bisa masuk ke dalam kelas, dan hanya membawa satu buah payung sedangkan anak-anak berjumlah 12 orang.

 “Ibu aii.. ibu aii kita ke paud aja bu ai” sambil menggandeng tanganku dan yang lainnya ada yang mengankat meja tempat kami mengetik sedangkan anak lainnya membawa payungku. Kami berjalan menuju sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk kelas Paud.

Aku bingung awalnya, pintu kelas itu terkunci, lalu bagaimana caranya kami masuk. Tiba-tiba dua orang anak menarik sebuah triplek yang menutupi ruangan tersebut. Mereka mempersilahkan aku masuk setelah dua orang pertama sudah masuk. Kami harus sedikit menunduk dan melompati kayu yang melintang.

Setelah semuanya masuk, anak terakhir yang diluar memasukkan semua sandal yang di luar dan menyusunnya di dalam. Kami pun kembali belajar, ruangan tersebut sedikit kotor dan berdebu karena sudah hampir sebulan tidak dipakai. Setelah cukup belajar, aku memberikan sebuah tontonan film kartun kepada anak-anak untuk menyegarkan kembali pikiran mereka setelah penat belajar.

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 WITA. Aku harus Sholat Dzuhur. Akhirnya aku mengatakan kepada mereka “Kalian lanjutkan saja menonton, ibu mau sholat dulu ya” saat aku jalan seorang anak bertanya “Ibu ai sholat di sini saja” “iya ibu sholat disini tapi sekarang mau ke sungai dulu untuk berwudhu”.

Aku keluar dan berjalan menuju sungai, sesampainya di sungai aku bingung bagaimana harus turun karena cukup tinggi. Lalu datang seorang anak yang ternyata ia mengikuti ku. “Kamu mau kemana?” tanyaku. “Mau menemani ibu ai. Takut nanti ibu terpeleset di sungai, lewat sini aja bu ai. Dari situ terlalu tinggi”. Rina menunjukkan jalan untukku. Rina adalah murid kelas 2 yang sudah berumur 12 tahun.

Selama aku berwudhu ia terus memperhatikanku. Aku pun selesai dengan wudhu ku. Kami kembali ke ruangan. Sesampainya disana aku melihat Vidi, murid kelas 3 yang berumur 11 tahun sedang menyapu sambil berkata “Ibu ai sholat disini saja, sudah bersih bu ai, sudah saya sapu” Tempat yang berdebu tadi kini telah menjadi bersih.

Aku memakai mukenaku, semua anak diam dan hanya sebagian kecil yang menonton kartun, sisanya duduk setengah melingkar melihatku. Semuanya diam, aku sholat dan seorang anak tiba-tiba berdiri di sampingku sambil mengikuti gerakan sholatku.

Dan sebagian lainnya masih duduk mengamatiku hingga selesai. Setelah selesai sholat seorang anak berkata “ibu ajari lah kami baca ab ba ta”. Mereka ternyata ingin belajar Iqro’. Aku bahkan sempat lupa kalau mereka bukan Islam, mereka Kaharingan. Sebuah aliran kepercayaan animisme yang merupakan warisan Kerajaan Hindu tertua.

Tapi hal itu tidak menyurutkan keinginan mereka mempelajari tulisan Arab. Mereka begitu unik, bahkan sangat unik menurutku. Wujud dari sikap toleransi yang sangat tulus benar-benar aku lihat dari wajah polos mereka. Bibit-bibit perdamaian terlihat jelas pada diri mereka.

Tidak beberapa lama berselang, hujan berhenti. Kami keluar menuju lapangan. Bermain bersama dan mereka bertanding engrang. Tidak lama bermain, mereka mengatakan ingin mandi di sungai. Aku pun menurutinya, kami berjalan menuju sungai yang terletak di samping sekolah, mereka mulai memanjat jembatan yang telah rusak dan selanjutnya melompat ke sungai.

Hujan kembali turun, saat itu aku sedang asik merekam tingkah mereka yang tidak takut sama sekali. Namun ada yang membuatku heran, kenapa air hujan tidak menghujaniku. Saat ku menatap ke atas, ternyata seorang anak telah memayungiku. Ia tidak ikut berenang bersama yang lain, tapi kini ia memayungiku agar aku tidak basah sedangkan ia berada diluar payung dan bajunya telah basah demi membuatku tetap kering.

Tidak lama berselang mereka semua naik dari sungai dan kami pun memutuskan untuk pulang, satu persatu anak-anak itu menyalam tanganku, dan yang terakhir tiba-tiba aku diberikan sebuah bunga tulip indah berwarna kuning. “Ini untuk ibu ai” Aaaaa rasanya itu aku benar-benar dispesialkan mereka.

Mereka pun kembali ke rumah dan berjalan naik ke bukit, sedangkan aku berjalan melewati jembatan. Hari yang luar biasa dan membuatku beberapa kali merasa terharu memiliki murid-murid yang luar biasa seperti mereka. Walau kami berbeda keyakinan dan berbeda suku serta budaya.

#LombaEsaiKemanusiaan