Pidong awalnya bercita-cita menjadi gigolo. Sayang, tes ukuran kelamin di Asosiasi Gigolo Internasional tidak meloloskannya karena ukuran Mr. P miliknya kelewat besar sebagai alat pemuas bagi mahluk berjenis kelamin perempuan. Takut melukai pelanggan, begitu alasan segerombol komite asosiasi. Pidong pun akhirnya menutup tekad menjadi gigolo internasional berlisensi. Menjadi gigolo level domestik dia tidak sudi walau banyak ajakan datang.

Pelarian atas kegagalan jadi gigolo, Pidong menjadi penulis dengan mimpinya, suatu waktu jadi penulis terkenal setara Pram atau Eka. Nama pena "Gigo Camus" sudah dipersiapkannya. Dia sudah banyak menulis cerita, puisi, dan cerpen yang sayang tak pernah dia kirimkan ke penerbit mana pun di dunia. Dari kisah cinta, horor, kriminal, drama, psikologi, dan beragam jenis cerita lainnya. Dia cukupkan menikmati sendiri. Entah juga, dia sadar, karyanya tidak siap dicerna oleh dunia atau dia yang tidak siap dicerca dunia dengan karyanya.

Hingga suatu waktu, pagi yang mendung, dengan rintik hujan yang mendayu-dayu, dia melihat seekor orangutan diwawancarai di stasiun televisi swasta. Orangutan ini yang ditahbiskan sebagai profesor karena komen dan argumennya yang selalu memukau dan kadang mengundang senyum miris hingga gelak tawa. 

Rokki si Orangutan. Rokki sedang memuja-muji seorang lelaki bernama Wowo, yang kata Rokki, ditakdirkan menjadi pemimpin negara, karena garis takdir moyangnya menggariskannya begitu. Rokki memakai banyak gerak, kata dan intonasi yang memukau, bagai raja monyet yang melompat di antara logika pewancara, menggaruk bola kemaluannya di antara para pemirsa, dan sekali-kali memutar-mutar kemaluannya berlawanan arah jarum jam. 

Rangkaian laku dan bahasanya sungguh mengundang decak kagum pemirsa nasional. Rokki jumawa. Setiap lakonnya begitu enak dinikmati, setidaknya buat dirinya sendiri.

Pidong pun terkesima. Senyum, tawa, dan ekspresinya keluar sepanjang mengikuti sesi wawancara Rokki.

"Wowo," batinnya. 

Tuan Wowo ini pasti punya kisah cinta yang sangat hebat, tepatnya setidaknya punya wanita yang hebat di belakangnya menyokongnya. Tanpa pamrih.

Pidong, karena orangutan, terobsesi akan sosok Wowo. Dia mulai mencari segala hal tentang Wowo. Karier, keturunan, kisah kecil, dan terutama kisah cintanya. Wanita yang membentuk Wowo seperti sesosok yang diceritakan Rokki si orangutan. 

Tidak puas dengan pencahariannya di dunia maya, Pidong mencari tahu ke orang-orang seketemunya. Penjual gorengan dekat rumah, Pak Ogah perempatan lampu merah, penjual seblak dekat tong sampah kompleknya, pelacur yang banting setir menjadi penjual kue cucur, kepala desa, aktivis, dan beberapa makhluk yang kasat mata. Sebut saja Genderuwo. 

"Pecinta kuda, tajir sedari sperma, bosnya Petrus, beli 3 bayar 1, tahan lama walau kecil, gelap, satu junjungan."

Beragam komentar, Pidong tidak puas. Dia putar otak di hadapan sepuntung rokok 234 seperempat di ujung mulut. Ide muncul dari balik kelebat asap rokok 234-nya.

"Ahaaaaa!" teriaknya.

Pidong kemudian ingin menuliskan sebuah surat tertutup untuk Tuan Wowo, Tuan yang memilih menikah dengan putri Sang Om Pembangunan, bernama Tutut atau yang dipilihkan. Menjaga dinasti kelurga? Semata cinta? Dia sudah mendengar rumor itu.

Lima tahunan roman Tuan Wowo dan Nyonya Tutut kambuh. Mungkin mereka memang punya sebuah ikatan hati, entah cinta entah benci atau kepentingan semata. Iseng-iseng cinta berhadiah kekuasaan. Hanya Tuan Wowo yang bisa jawab. Tutut dan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Surat dari Pidong, untuk menanyakan, adakah sebuah kisah tentang cinta yang terbaik yang melebihi kisah romantis segala makhluk yang pernah hidup itu adalah kisah Tuan Wowo dan Tutut? Dia pernah dengar bahwa seorang Albert Camus pernah berkata bahwa kisah cinta terbaik belum pernah dituliskan oleh semua mahluk yang pernah hidup. 

Pidong ingin mengawali masuk hiruk-pikuk dunia publisitas karya sastra dengan menjadi penulis kisah cinta yang memang terbaik, supaya Camus, idolanya, bisa mati dalam tenang, setidaknya mengetahui kalau kisah cinta terbaik itu sudah ada yang menuliskannya, yaitu Pidong si Gigo Camus.

Kisah cinta Tuan Wowo dan Nyonya Tutut ini pastilah kisah cinta terbaik. Yakinkannya pada otaknya.

Dia ingin mengetahui detail pertemuan dan semua detail masa-masa percintaan Wowo dan Tutut. Surat cinta pertama, ciuman pertama, malam pertama, dan selanjutnya. Selingkuhan pertama kalau ada, gaya bercinta favorit dan fantasi liar lainnya, antara dua orang pecinta.

Hingga hari ini, jangan-jangan romantisme lima tahunan ini adalah sebuah komitmen lika-liku yang dilalui setia. Pidong mulai menuliskan suratnya.

"Dear Tuan Wowo Yth., Perkenalkan saya Gigo Camus..."

Baru mulai di baris pertama, mengetik, tiba-tiba, Pidong sudah rebah di meja tempatnya mengetik. Kepalanya tertahan meja. Bunyi dengkurannya seketika mengisi ruang.

Energi Pidong terkuras habis malam ini, karena malam sebelumnya itu, Pidong menghabiskan waktu dengan memberi jasa kesehatan pada Nyonya T. Energi negatif di kepala, yang dalamnya sekarang hanya gumpalan otak yang mengkisut tersalurkan semalaman penuh. Pidong tergiur tawaran gigolo berpengalaman, bernama Ahong, untuk melayani Nyonya berinisial T tadi. 

Duitnya gede. Nyonya mau yang ukuran jumbo, makanya saya tawari kamu 'Dong. Begitu awalnya.

Ternyata cukup untuk hidup setahun bayaran dari Nyoya T.

Hujan turun deras malam itu. Di sebuah hotel bintang 5.

Di sebuah tempat dalam kamar terang benderang. Tuan Wowo merutuki diri dihadapan kaca kamar mandi mewah, sambil melihat kearah Mr. P miliknya.

"Hercules bangsat!" makinya.

Ting-tong, bunyi bel pintu kamar Tuan Wowo. Ahong berdiri dengan senyum terbaiknya dibalik pintu.