Tragedi Kali Opak, Bantul, Yogyakarta tahun 1979 menjadi misteri hingga saat ini. Berbagai pertanyaan terlontar mulai dari mulut ke mulut hingga di era internet berkembang di mailing list dan media sosial.

Tentang kisah tenggelam dan hilangnya seorang anak muda bernama Ginanto dan sosok Ruskaryono yang dianggap telah mengekor perguruan yang membawanya ke tragedi maut tersebut. Ceritanya berkembang di Perguruan MP. 

Ginanto dan Ruskaryono adalah teman kecil. Kampungnya hanya bersebelahan di Kota Jogja. Ruskaryono tinggal di Bumijo Tengah dan Ginanto tinggal di Bumijo Lor. Kedua tempat ini dekat dengan Stasiun Tugu Yogyakarta.

Dalam Forum Kaskus dengan akun bernama MPCRB dan Forum Sahabat Silat tahun 2011 sempat ramai dibahas tentang keberadaan Ruskaryono. Berikut rekam digitalnya:

Menurut informasi resmi dari dewan pertimbangan MP adalah sebagai berikut:

"Tadi saya lakukan penelusuran singkat, pada teman-teman mas Karyono di kampung Bumijo Tengah, kota Yogyakarta.

Mas Karyono muda dan anak-anak Bumijo, dulu banyak ikut PSM (Prisai Sakti Mataram) asuhan bp Netra Widjihartani, dan PS Guntur, yang didirikan oleh murid PSM juga.

Ketika mas Poeng mulai mengembangkan di Bumijo, mas Karyono cs masuk MP di Bumijo ,angkatan 1 bersama a.l. Mas Ruslan, mbak Sri Panggih, mbak Suryani dan alm mas Mamang Surachman (lebih dulu/senior di atas mas Nardjo, sekampung).

Mas Karyono, meski pendek (dibawah 160 cm), tapi gempal dan tahan dan tekun latihan berat (kurikulum lama, tradisional). Nyaris tuntas sampai ke ilmu pamungkas. Kata teman-temannya di Bumijo Tengah, ilmu manajemennya lebih unggul dibanding manajemen perguruan ala mas Poeng pada waktu itu (tidak jelas di sisi apa).

Setelah selesai sekolah dan diterima di DIKNAS , mas Karyono pamit ke Jakarta dan menyatakan keluar dari MP.

Ketika pulang kampung (th '85an, cerita kalau ikut mendirikan PPS Bunga Karang, merayu teman-teman MP untuk ikut ke Jakarta, daripada ikut MP tidak akan sejahtera. Mas Karyono bilang kalau dia menguasai jaringan sekolah-sekolah, karena posisinya di Diknas, sehingga PPS Bunga Karang banyak berkembang sebagai ekskul di SMA/SMU.

Suatu saat pulang, mas Karyono cerita lagi, kalau sekarang mendirikan perguruan sendiri, PPS BUDI SEJATI. Masih berusaha mengajak teman-teman MP sekampung untuk bergabung. Tidak hasil.

Adiknya, mas Darsono (dulu juga latihan MP hanya sampai tingkat balik), yang masih tinggal di Bumijo Tengah, mengembangkan ke Prembun, Gombong, Kebumen. Murid-murid BS dari Lampung dan pujakesuma lain, sering datang ke Bumijo Tengah, tapi latihannya konon "kejawen/klenik".

Dari BS Trisakti, bulan lalu ikut Kejurnas Antar PT/piala Presiden di UPN Yogya. Jadi wajar saja, kalau di dua perguruan tsb banyak hal2 yang sangat mirip MP.

Mas Poeng sudah dari dulu tahu. Seperti biasa, "biarin aja".

***

Barusan saya konfirmasi kepada Gurunya mas Karyono, yaitu mas Poeng. Seingat mas Poeng, mas Karyono baru tingkat kombinasi, mau ke khusus tangan. Hampir semua tata gerak sudah diberikan. Belum ikut latihan aplikasi getaran tingkat lanjut.

Ketika tradisi MP th 78, 31 Desember 1978-1 Januari 1979 (sy ketua panitia), mas Karyono bertugas sebagai anggota tim perintis (voorspeed), mencari dan mejajagi titik penyeberangan di kali Opak. Ikut hanyut terbawa arus, tapi bisa diselamatkan. Yang tidak bisa diselamatkan alm mas Ginanto. Sejak itu mas Karyono tidak aktip.

Dari teman MP di Bumijo juga ada tambahan penjelasan. Bahwa kalau diajak melatih, materinya ya materi MP. Bedanya, akan disuruh pegang satu kolat/sekolah, langsung dapat bagian dana. Beruntung, se preman-premannya mereka, ogah diajak berkhianat melek-melekan.

Mas Poeng kaget juga, baru tahu kalau mulai sikap hormat perguruan, tata gerak, tata pernafasan dan lain-lain masih presis MP. Berpesan tdk perlu ribut-ribut, apalagi sampai konflik horisontal. Beliau akan mendorong alumnus MP Universitas Trisakti untuk menghidupkan lagi kolat di sana."

***

Catatan: Mas Karyono adalah nama guru besar PPS Budi Sejati. Semoga membantu. Salam.

Link: https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000000970556/merpati-putih/96

Dari pihak Ruskaryono belum ada yang mengklarifikasi penjelasan ini. Alasannya tidak lain demi kedamaian bersama dan jalan masing-masing.

Tetapi ada fakta yang tidak benar terkait penjelasan tersebut.

Pertama, Penjelasan dengan kalimat: Setelah selesai sekolah dan diterima di DIKNAS , mas Karyono pamit ke Jakarta dan menyatakan keluar dari MP. 

Yang Benar: Ruskaryono merantau ke Jakarta tahun 1978, karir pertamanya menjadi honorer di SMP 81, Halim Perdanakusumah Jakarta Timur. Status di MP belum keluar tetapi masih aktif dengan membantu membuka Kelompok Latihan Cijantung dan Pasar Induk Jakarta Timur, hingga PTIK Jakarta Selatan. Ruskaryono menyatakan keluar dari MP tahun 1980, tepatnya setelah Tragedi Kali Opak 1979 dan kehilangan sahabat kecilnya, Ginanto.

Kedua, Penjelasan dengan kalimat: Ketika pulang kampung (th '85an, cerita kalau ikut mendirikan PPS Bunga Karang, merayu teman2 MP untuk ikut ke Jakarta, daripada ikut MP tidak akan sejahtera. Mas Karyono bilang kalau dia menguasai jaringan sekolah2, karena posisinya di Diknas, sehingga PPS Bunga Karang banyak berkembang sbg ekskul di SMA/SMU.

Yang Benar: Ruskaryono tidak pernah mendirikan PPS Bunga Karang dan merayu teman-teman MP (Bumijo, Jogja) ikut ke Jakarta. Setelah keluar dari MP, Ruskaryono banyak menghabiskan waktu bekerja sebagai PNS dan mengajar private ilmu beladiri pencak silat di beberapa keluarga yang mempercayainya. 

Baru tanggal 22 Agustus 1988 Ruskaryono mendirikan perguruannya sendiri bernama PPS Budi Sejati. Jaringan kelompok latihannya (Kolat) justru tidak melalui sekolah-sekolah tetapi dimulai Angkatan Pertama membuat Kolat Halim Perdanakusumah (umum), disusul Kolat Pejaten (umum), Kolat Bendungan Hilir (umum), Kolat Trisakti (institusi) dan seterusnya. Baru di tahun 1997 membuka Kolat di SMA 62 (institusi) dan tahun 2000 di SMP 275 (institusi).

Ketiga, Penjelasan dengan kalimat: Adiknya, mas Darsono (dulu juga latihan MP hanya sampai tingkat balik) , yang masih tinggal di Bumijo Tengah, mengembangkan ke Prembun, Gombong, Kebumen. Murid2 BS dari Lampung dan pujakesuma lain, sering datang ke Bumijo Tengah, tapi latihannya konon "kejawen/klenik".

Yang benar: Ilmu PPS Budi Sejati bersarikan pada Ketuhanan Yang Maha Esa serta memadukan dengan budaya Jawa. Tidak pernah diajarkan sedikitpun ilmu kejawen atau klenik. Karena pada dasarnya pencak silat pada umumnya mengajarkan kekuatan mental dan spiritual. Dan spiritual yang dimaksud bukan kejawen atau klenik, melainkan membantu anggotanya melakukan pendekatan lebih khusuk dengan latihan konsentrasi.

Keempat, Penjelasan dengan kalimat: Ketika tradisi MP th 78, 31 Desember 1978-1 Januari 1979 (sy ketua panitia), mas Karyono bertugas sbg anggota tim perintis (voorspeed), mencari dan mejajagi titik penyeberangan di kali Opak. Ikut hanyut terbawa arus, tapi bisa diselamatkan. Yg tidak bisa diselamatkan alm mas Ginanto. Sejak itu mas Karyono tidak aktip.

Yang benar: Tidak ada ketua panitia, yang ada ketua rombongan, terdiri dari Mas Pung (Ketua Rombongan), Sukamto "Gombek", Budi "Keling", Ginanto, dan Ruskaryono.  Yang termasuk dalam anggota tim perintis (voorspeed) terdiri dari Mas Pung, Ginanto, dan Ruskaryono (kisahnya dapat diikuti di https://www.youtube.com/watch?v=KKRGKO0eLzM&t=958s).

Pada awal penyeberangan, Mas Pung dahulu masuk air lalu tersapu arus deras Kali Opak, Bantul, Jogja. Beliau berhasil mendapat pegangan satang (dayung bambu) rakit penyeberangan yang ditambatkan didekatnya. Ginanto dan Ruskaryono menyusul masuk air sambil menancap bambu untuk mengukur kedalaman sekaligus pegangan selama penyeberangan. Baru beberapa meter dari tepian sudah tak kuasa dihempas arus Kali Opak.

Keduanya sempat timbul tenggelam oleh air memusar Kali Opak. Selanjutnya keduanya tenggelam. Penyeberangan dilakukan pukul 12 siang 31 Desember 1979 (dalam versi MP, tahunnya 1978). Ginanto tak pernah diketemukan jasadnya hingga saat ini meski pada saat peristiwa telah dilakukan operasi penyelamatan. Ruskaryono diketemukan dalam kondisi hidup menjelang maghrib.

Kelima, Penjelasan dengan kalimat: Dari teman MP di Bumijo juga ada tambahan penjelasan. Bahwa kalau diajak melatih, materinya ya materi MP. Bedanya, akan disuruh pegang satu kolat/sekolah, langsung dapat bagian dana. Beruntung, se preman2nya mereka, ogah diajak berkhianat melek2an.

Tidak sekalipun Ruskaryono mengajak anak MP dari Bumijo atau bahkan Jogja. Ia bersolo karir di Jakarta pasca lepas dari MP. Jadi untuk urusan pembagian dana, mengajak anggota MP Jogja berkhianat tidak pernah ada dalam kisah perjalanan hidupnya. Entah darimana sumber itu datang.

Pasca tak aktif di MP (kisah perseteruan di Kolat PTIK), Ruskaryono memilih solo karir mengembangkan beladiri pencak silat sambil tetap aktif menjadi PNS di sekolah menengah pertama. Ruskaryono memilih diakhiri dengan damai tanpa ada tendensi saling menjatuhkan. Semua pada jalurnya masing-masing.

Kenapa baru sekarang dibalas desas-desus itu?

Karena menyemai bibit benci akan mengotori semangat perguruan pencak silat Nusantara yang muasalnya dari satu pohon. Beladiri dan bela bangsa.