Kehadiran anak dalam keluarga secara langsung itu merupakan tanggung jawab orang tua untuk membesarkan, menafkahi, dan memberikan pendidikan yang layak.

Seorang anak merupakan gambaran terhadap orang tuanya, ini sudah umum dalam pemikiran masyarakat umum. Ini menjadi alasan kenapa anak adalah cetakan orang tua artinya anak akan bagaimanapun tergantung dari orang tuanya, termasuk pendidikan yang akan diajarkan dalam keluarga.

Orang tua yang baik akan melahirkan anak yang baik, begitupun orang tua yang sehat. Sebaliknya orang tua yang tidak baik akan mencetak anak yang begitu pula. Pemahaman umum dalam masyarakat yang kini masih dipercaya kebenarannya.

Salah satu jawaban agar anak kemudian sukses di masa depan adalah pendidikan di mulai dari orang tuannya, sehingga orang tua yang cerdas akan melahirkan generasi-generasi yang cerdas tentunya.

Anak merupakan aset dan tanggung jawab orang tua sebagai orang yang dititipkan untuk membimbing dan memberikan pemahaman-pemahaman tentang perwujudan alam semesta ini, baik itu berkaitan dengan ketauhidan, kemanusiaan maupun kemasyarakatan.

Pendidikan anak yang pertama memang menjadi tanggung jawab orang tua yang kemudian dikenal dengan pendidikan dalam keluarga, kelanjutannya karep/seringnya orang tua mempercayai pendidikan formal seperti sekolah sebagai pendidikan yang memposisikan diri sebagai keluarga sekaligus orang tua bagi peserta (siswa) didiknya.

Jika ditarik lagi untuk melihat ke belakang, pendidikan dasar dalam keluarga menempati posisi yang sangat penting, artinya bagaimanapun pendidikan dalam keluarga sangat menentukan atau mempengaruhi pendidikan anak di sekolah (pendidikan formal).

Apabila pendidikan dalam keluarga memiliki banyak problem maka secara tidak langsung akan menjadikan anak cenderung membawah problem tersebut ke dunia sekolah sehingga dapat mempengaruhi dan mengganggu konsentrasi anak dalam proses belajar di sekolah.

Sebagai orang tua yang memperhatikan pendidikan anak sudah seharusnya memenej sedemikan rupa berbagai problem dalam keluarga agar anak tidak tahu agar tidak mengganggu proses pendidikan yang sedang dijalani si anak, kecuali kalau dalam umur tertentu di mana anak tersebut sudah bisa berpikir secara dewasa dan bijak adalah waktu yang pas untuk terlibat. Hal ini penting agar apapun yang sedang dihadapi anak ia sendiri sudah memiliki kemampuan menghadapi secara kedewasaan.

Sesar atau tidak dewasa ini kebanyakan kehidupan di Kota Kabupaten kebanyakan orang tua bekerja dari pagi sampai sore di luar rumah, gambaran kehidupan ini sangat berbedah dengan kehidupan di Pedesaan.

Di Kota/Kabupaten seringnya pendidikan anak lebih banyak dipercaya pada guru sekolah, sedangkan di Pedesaan kebanyakan anak tidak hanya sekadar sekolah tapi seusai pulang sekolah ia harus bekerja membantu orang tuanya lagi, baik entah ke sawah/ladang atau pekerjaan rumah.

Ini menggambarkan kehidupan dalam dua geografis yang berbeda, sederhananya dari kedua perbedaan kebiasaan masyarakat dalam memperhatikan pendidikan anak juga pastinya berbeda. Kecenderungan anak di Kota terlepas dari kontrol orang tua, ini sangat berbalik arah dengan pendidikan anak di Pedesaan yang masih dalam pengawasan orang tua muskipun sudah di luar sekolah. 

Sehingga dengan kemajuan kini yang sangat maju dan cepat ini, sudah saatnya orang tua memperhatikan apa yang menjadi tanggung jawabnya terhadap anak, tentunya adalah mengenai pendidikan anak.

Pendidikan ini bukan hanya sekadar mendapatkan ijazah atau dinyatakan lulus dari salah satu pendidikan atau perguruan tinggi dengan berbagai macam gelas, namun pendidikan ini sendiri merupakan perubahan dalam diri maupun sosial kehidupan anak yang lebih baik dari sebelumnya.

Kecenderungan menjadikan pekerjaan sebagai patokan anak terdidik dan tidak terdidik sudah semestinya bukan hasil dari pendidikan, pekerjaan hanya merupakan efek dari pendidikan sehingga salah besar bila pekerjaan diartikan sebagai tujuan dari pendidikan, seharusnya tujuan dari pendidikan adalah perubahan individu manusia yang lebih baik lagi secara terus-menerus.

Kenapa orang tua yang mempertanggungjawabkan atau orang yang lebih berperan penuh atas pendidikan anak. Sederhananya orang tua lah perkataan bagai sebuah dewa, senakal apa pun anaknya dengan sendirinya tersentuh hatinya bila pernah menyakiti atau membangkang dari orang tua. Ini adalah dasar dari kemampuan orang tua, dan kedekatan luar biasa yang mampu dilakukan orang tua terhadap anaknya, kedekatan yang begitu luar biasa pasti akan melahirkan pendidikan yang luar biasa pula pastinya.

Memang tidak mudah untuk melakukan pendidikan tapi cukup signifikan bila kemampuan orang tua dalam meluluhkan kerasnya hati anak, nakalnya anak adalah merupakan suatu keistimewaan tersendiri dalam meningkatkan minat, kemauan, dan keinginan anak untuk belajar, dengan begitu yang katanya anak adalah cetakan orang tua maka cetaklah anak-anak yang hebat dan bermanfaat untuk masyarakat, bangsa, dan negara.

Kesadaran untuk pendidikan anak tidak selamanya harus dilibatkan secara menyeluruh pada sekolah-sekolah yang berada di luar kontrol anak, kemauan setiap anak juga tidak seharusnya disama ratakan sebagaimana dalam sekolahan. Seorang yang cerdas lebih senang menghasilkan satu anak yang cerdas dari pada banyak nurut yang disamakan dalam pemahamannya. Sebuah kata-kata mutiara yang menggambarkan ini sebagaimana di ucapkan oleh Bapak Revolusioner Bangsa Indonesia, Bung Karno (Sukarno), "bebek berjalan berbondong-bondong tapi burung elang terbang sendirian."