Tidak diragukan lagi bahwa Islam merupakan agama yang menyeru kepada perdamaian. Pasalnya, kata “Islam” sendiri memiliki arti keselamatan atau perdamaian. 

Namun sekarang Islam yang demikian telah berubah menjadi monster, dengan mengangkat senjata. Islam yang penuh kasih sayang kini justru tercermin jelas di wajah para kiai desa.

Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan Islam menggunakan cara kasih sayang. Bukan malah mengajarkan keburukan melalui Islam. 

Tidak bisa dihindari, realitas masyarakat memang menunjukkan demikian rupanya. Tidak sedikit kelompok yang mengatasnamakan Islam, namun mereka menyakiti orang lain. Sangat jauh dari kata Islam, bukan?

Setiap umat muslim yang beriman kepada Allah SWT wajib hukumnya menjaga perdamaian secara nyata. Jangan sampai perbedaan ideologi, suku, dan ras menjadi alasan untuk menyakiti atau menzalimi mereka yang tidak sepaham, sejenis, dan serupa.

Islam yang mencintai akan perdamaian terpancar jelas dalam akhlak Nabi Muhammad SAW. Beliau sangat menjunjung tinggi perdamaian atas nama kemanusiaan. 

Semasa hidupnya, ia selalu memberi contoh kasih sayang terhadap semua orang tanpa memandang bulu. Maka, bukan hal yang mustahil manakala ia mendapat berbagai amanah dari para kaum muslim.

Semasa Nabi menyebarkan Islam, beliau tidak pernah menggunakan kekerasan. Penyebaran Islam yang menerapkan kekerasan justru akan merusak jati diri Islam. 

Maka mereka yang dengan lantang mengatakan “Allah Akbar” sembari membuat keonaran, bahkan kekerasan seperti demo hingga pembunuhan, sungguh munafik.

Seiring tingkat pemeluk agama Islam yang makin melesat sehingga menjadi agama nomor satu di dunia, maka tidak menutup kemungkinan benih-benih permasalahan akan tumbuh besar di tengah eksistensi Islam. Saat ini, jika umat non-Islam mendengar kata “Islam”, maka yang terpikirkan adalah tindak kezaliman, dari mulai bom bunuh diri hingga terorisme.

Kita tidak bisa menghindari persepsi yang mewabah di masyarakat dunia. Faktanya, agama Islam sekarang diselimuti dengan nuansa kekerasan. 

Bahkan, terdapat kelompok yang mengatasnamakan Islam tetapi mereka menyakiti, melukai, hingga membunuh. Padahal Nabi Muhammad tidak pernah memberi contoh perilaku yang demikian dalam Islam.

Sebagai umat Islam, sudah semestinya kita merasa prihatin akan kondisi Islam terkini. Islam yang dulunya selalu mengajarkan kasih sayang sesama manusia, perdamaian, kini tercoreng dengan ulah segelintir perbuatan tercela yang mengatasnamakan Islam.

Eksistensi agama Islam sekarang seakan terkubur dengan hadirnya tindak anarkis yang dilakukan kelompok yang tidak bertanggung jawab. Mereka mengatasnamakan Islam, namun kezaliman seperti penganiyaan, pembunuhan, bom bunuh diri menjadi ciri kelompok itu. Sangat miris.

Penyakit yang telah menjalar di wajah Islam kini tidak bisa disembuhkan dengan cara mengangkat pedang lalu menebas mereka yang tidak satu bulu atau satu ideologi. Upaya seperti ini justru tidak akan memperbaiki citra Islam, melainkan akan memporak-porandakan keadaan.

Islam yang damai kini justru terawat secara baik dengan para kiai desa melalui cara yang ramah. Pasalnya, mereka dalam menyiarkan agama Islam tidak menggunakan kezaliman. Maka tidak heran jikalau dalam satu desa hidup rukun berdampingan meski berbeda ideologi, golongan, suku, dan ras.

Berbicara mengenai metode kiai desa dalam menyiarkan agama Islam memang cukup unik dan menarik. Bagaimana tidak, mereka dalam menjalankannya hanya seputar satu desa ke desa lainnya, dari satu masjid ke masjid lainnya. Namun, justru kajian pembahasannya memahamkan para umat Islam yang masih awam.

Selain itu, kita sering kali menjumpai bahwa kiai desa dalam melakukan kajian Islam lebih mengedepankan referensi yang valid. Rujukan kuno, namun justru lebih menyimpan banyak makna, yaitu seperti kitab kuning, kemudian diperkuat dengan menambahkan hadis dan Alquran.

Terkait dengan kitab, sebenarnya sangat melimpah kitab yang membicarakan tentang hukum-hukum Islam, tafsir Alquran, tafsir hadis. Pembahasan seperti ini dapat dijumpai dalam kitab fathul qorib, nashoiul ibad, tafsir jalalain, dan segudang kitab yang bisa menjadi rujukan kajian. Namun, kitab-kitab yang menjadi sumber terpercaya itu sekarang memudar.

Di era sekarang yang serba-modern, sering kali orang menyebutnya dengan era milenial. Era ini sangat memberi perubahan secara mencolok terhadap kebiasaan masyarakat. 

Pasalnya, era yang menerbitkan alat-alat elektronik canggih dan instan membuat siapa saja tergiur. Tidak hanya santri atau kiai, namun pegawai negeri hingga menteri turut serta terpincut.

Di era milenial ini, semua orang bebas berekspresi melalui dunia maya atau internet. Orang bebas berpendapat dan menyampaikan informasi sesukanya. 

Dengan demikian, para umat Islam seharusnya tidak mengambil informasi yang belum tentu kebenarannya. Menggunakan kitab kuning justru jauh lebih baik dalam mengambil referensi meski terlihat kuno.

Nyatanya, sekarang masih ada saja segelintir umat Islam yang mengambil kajian agama dari media-media yang belum tahu jelas kebenarannya. Maka jangan heran jika saat ini masih ada pemahaman yang radikal tentang Islam. Masih ada saja yang mengkafir-kafirkan orang lain padahal satu ideologi, apalagi yang tidak. Senjata, pedang, dan bom siap menerkam.

Kemudian di era yang serbamaju ini, sampai-sampai hal yang dulu dianggap tabu kini menjadi suatu kebiasaan atau tradisi. 

Dulu, perempuan akan merasa malu bahkan menyesal karena terlihat auratnya. Akan tetapi, saat ini, justru tidak jarang mereka yang mengumbar auratnya melalui foto dan video. Anehnya lagi, hal ini justru menjadi tradisi kaum milenial.