Apakah semua itu dilakukan agar jamaah tidak tidur saat khotbah? Atau sebaliknya, para khatib memilih tidur ketika umat mengaplikasikan ujaran kebencian yang disampaikan saat khotbah Jumat?

Jakarta, hari Jumat menjelang siang, samar-samar suara masjid di sekitar kantor Gofar sudah mulai terdengar seiring akan dilaksanakannya kegiatan salat Jumat. Hari ini terasa sangat sibuk baginya karena atasan Gofar memintanya untuk mengumpulkan laporan pekerjaan sebelum istirahat. Itu membuatnya terlambat menuju masjid untuk melaksanakan salat Jumat

Gofar terburu-buru mengendarai sepeda motor menuju masjid. Motornya cukup usang karena memang motor itu digunakan selama ia kuliah di salah satu universitas di kampung halamannya, yaitu Surabaya. 

Gofar adalah seorang Sarjana Teknik yang semasa kecilnya hidup di pondok pesantren. Dengan latar pendidikan tersebut, Gofar bukan orang sembarangan, dia familiar dengan teknologi tetapi juga sangat terbiasa dengan kaidah-kaidah agama. Ia sangat menguasai ilmu perpindahan panas juga sangat mumpuni dalam ilmu perubahan kata dalam bahasa Arab khas santri pondokan.

Di tengah gelombang religius yang kadang terlalu dipaksakan, Gofar tidak terlihat se-religius orang-orang di kantornya yang notabene tidak memilik latar pendidikan agama yang matang. Penampilan Gofar biasa saja, tidak pernah membicarakan perihal agama dengan sembarangan apalagi menyangkut-pautkan fenomena yang terjadi dengan agama seperti kebanyakan orang-orang di kantornya dan mungkin juga kebanyakan orang di luar sana. 

Hal tersebut sangat membuat Gofar resah. Hal sakral yang biasanya hanya ditemui di majelis-majelis suci, kini ia temukan orang di sekitarnya yang dengan congak membahas agama di lorong kantor, di atas meja makan, di atas meja kerja, di forum rapat pekerjaan, di grup WhatsApp kantor, padahal orang tersebut mungkin tidak pernah belajar agama secara mendalam.

Di tengah ketergesa-gesaannya, Gofar memarkirkan sepeda motor di luar pelataran masjid karena memang kondisi sudah penuh dan khatib telah memulai khotbahnya. 

Segera ia mengambil air wudu dan mencari posisi untuk sekadar duduk mendengarkan khotbah. Akan tetapi, yang terjadi adalah seakan jamaah lain tidak rela sedikit bergeser dari tempat duduknya. Ia hanya terdiam sambil terus matanya mencari-cari celah.

Hal demikian banyak dijumpai di masjid-masjid. Bukankah ada perintah untuk memberi duduk kepada orang yang terlambat jika kita berada dalam satu majelis?

Akhirnya Gofar menemukan celah untuk sekadar duduk. Belum sempat ia mengatur nafas setelah terburu-buru, perasaan tidak enak kembali menyapa batinnya karena khotbah yang ia dengar. Dengan sontak ia mengelus dada dan menarik napas dalam-dalam dan bergumam dalam hati, "Kok ada ya khotbah kayak gini?"

Ia berada dalam posisi yang serba sulit. Ingin rasanya menghindar dari khotbah, akan tetapi ini adalah salah satu rukun dari salat Jumat. Dalam hati ia bertanya: 

"Dari mana orang-orang kota ini belajar? Apakah ujaran-ujaran kebencian adalah hal lumrah bagi mereka meski disampaikan dalam khotbah Jumat yang semestinya diisi dengan pesan takwa dan kebaikan lainnya? Atau ini adalah imbas dari cara beragama mereka yang terlalu memaksakan tanpa memperhatikan ilmu pengetahuan yang harus dikuasi?"

Banyak khotbah Jumat yang kehilangan esensinya seiring banyak khatib yang kehilangan kesadaran akan tugasnya, yaitu menjadi pengingat di tengah umat yang membutuhkan pencerahan untuk kehidupannya. Sedangkan yang terjadi saat ini adalah pesan takwa hanya menjadi hiasan mukaddimah. 

Tema-tema yang berisikan ujaran kebencian lebih banyak disampaikan para khatib. Jamaah pun seakan-akan tersulut semangatnya ketika isi khotbah berbau provokasi, sindiran kepada pemerintah, tuduhan-tuduhan kebencian kepada yang berbeda aliran dalam beragama.

Salat selesai, Gofar melaju dengan motornya menuju kantornya dan langsung menuju pantry untuk makan siang. Dan lagi-lagi ia terjebak di dalam diskusi soal isi khotbah yang penuh dengan ujaran kebencian. Miris sekali ketika teman-temannya itu setuju dengan isi khotbah tersebut, dibicarakan dengan penuh semangat tanpa ilmu.

Gofar yang selama ini menyembunyikan status "mantan santri" dalam lingkungannya semakin resah. Ingin rasanya ia menampakkan semua dan membredel pemikiran dan cara beragama mereka dengan ilmu yang ia miliki. 

"Akan tetapi, mana mungkin mereka akan percaya," gumamnya. "Tetarik pun aku rasa tidak. Karena kebanyakan orang-orang itu lebih tertarik oleh sosok ustaz yang sedang viral, sering muncul di media sosial, dan selalu mengkritik pemerintah."

Gofar tak berhenti berpikir sampai makan siang pun menjadi tidak enak. Ia masih memikirkan cara teman-temannya beragama dan isi khotbah tadi yang seakan menjadi klimaks dari fenomena beragama yang dipaksakan, beragama yang tidak mengutamakan ilmu, beragama yang tidak mementingkan adab. 

Bagaimana dampaknya terhadap keluarga mereka? Apakah mereka akan mewariskan cara beragama mereka kepada keluarga mereka? Begitu menyeramkan apabila anak-anak mereka kelak mempunyai pemikiran seperti orangtuanya.

Dalam hati ia bergumam, "Apakah semua itu dilakukan agar jamaah tidak tidur saat khotbah? Atau sebaliknya, para khatib memilih tidur ketika umat mengaplikasikan ujaran kebencian yang disampaikan saat khutbah Jumat?Sungguh, khotbah Jumat yang beracun."