Akhir-akhir ini, kita sering kali mendengar narasi di berbagai media yang mempertentangkan antara khilafah dan Pancasila. Pengisahan tersebut sedemikian rupa kencang di tengah publik sehingga orang-orang yang awam mungkin akan mengira bahwa gabungan keduanya memang sebuah oksimoron. Khilafah dicitrakan sebagai nemesis bagi Pancasila, ancaman bagi kebersatuan bangsa. Khilafah pun dianggap layaknya suatu sistem yang sudah usang, sedangkan Pancasila adalah masa depan.

Guna mendukung gagasan di atas, sebagian orang turut serta mengambil rujukan teologis dari Alquran. Mereka berdalil bahwa kata khilafah sama sekali tak tersebut dalam Kitab Suci umat Islam itu. Ya, terma khalifah memang termaktub dalam padanya. Namun, khalifah, menurut mereka, amatlah berbeda dan tak bertautan dengan khilafah. Alhasil, khilafah semakin terdelegitimasi dan Pancasila, secara implikatif, kian berada di atas angin.

Apakah benar khilafah dan Pancasila adalah dua hal yang saling bertentangan bagaikan minyak dan air? Apakah memang konsep khilafah tiada berpunya landasan ideologis yang jelas dari Alquran? Dalam kesempatan ini, saya akan membahas dua persoalan tersebut secara ilmiah, tetapi juga renyah. Saya akan mulai dengan menjawab pertanyaan kedua tentang konsepsi khilafah yang benar dalam pandangan Alquran. Kemudian, saya akan mendiskusikan pertanyaan pertama terkait kontekstualisasi lembaga khilafah dengan dasar negara Pancasila.

Khilafah dalam Alquran

Benar, kata khilafah – yang merupakan bentuk mashdar atau nomina infinitif – memang tidak terdapat dalam Alquran. Yang ada hanyalah kata khalifah dengan bentuk tunggal di dua tempat (2:30; 38:26), bentuk plural khala’if dalam empat ayat (6:165; 10:14; 10:73; 35:39), dan bentuk plural khulafa’ pada tiga kesempatan (7:69; 7:74; 27:62). Namun, kita perlu mengingat pula satu prinsip bahasa Arab yang krusial: isytiqaq.

Bahasa Arab adalah bahasa yang sangat filosofis. Ketika ia memberi nama suatu benda, ia tidaklah melakukannya secara serampangan. Akan tetapi, ia menamainya demikian karena nama yang disematkan oleh bahasa Arab itu menujukkan karakteristik utama dari benda yang dinamai. 

Misalnya, mata dalam bahasa Arab dikenal dengan sebutan bashar karena mata digunakan untuk abshara-yubshiru, yaitu ‘melihat’. Demikian juga, satu individu manusia dinamakan rajul karena ia bipedal alias dapat berjalan dengan tegak di atas rijl atau kedua kakinya. Seorang nabi pun digelari seperti itu karena ia beroleh karunia nubuwwah, yakni berita-berita gaib yang banyak jumlahnya. 

Hal tersebut sama halnya dengan utusan Tuhan yang dipanggil rasul karena ia mendapat risalah atau mandat dari langit untuk menyeru manusia kepada kebaikan. Dalam bahasa Arab, asas ini dijuluki sebagai isytiqaq yang secara singkat berarti bahwa kata-kata yang berasal dari satu akar morfologis yang sama memiliki pemaknaan yang saling berkaitan. Asas isytiqaq berlaku dalam semua kosa kata bahasa Arab dengan pengecualian Allahlafazh jalalah – yang bediri sendiri selaku ism jamid.

Jadi, kata khilafah sebenarnya terkandung secara tak langsung dalam kata khalifah. Sebab, khalifah pada hakikatnya adalah orang yang mengampu dalam dirinya jabatan khilafah. Dari sini, kita dapat menarik inferensi bahwa khilafah tak syak lagi mempunyai basis dalam Alquran. Hanya saja, kita harus menyelediki lebih lanjut apa yang dimaksud oleh Alquran mengenai khilafah.

Dalam bentuknya yang tunggal, kata khalifah dikenakan bagi dua nabi: Adam (2:30) dan Daud (38:26). Adapun dalam bentuk jamak khala’if dan khulafa’, keduanya digunakan untuk melabeli umat suatu nabi yang menggantikan umat nabi-nabi terdahulu: (1) kaum Nabi Nuh yang menggantikan para pendahulu mereka (10:73); (2) ‘ad, umat Nabi Hud, yang menggantikan umat Nabi Nuh (7:69); (3) tsamud, kaum Nabi Shalih, yang menggantikan umat Nabi Hud; (4) umat Islam yang meneruskan kaum-kaum sebelumnya (6:165; 10:14; 27:62; 35:39). Dengan begitu, kita dapat mengetahui bahwa realitas khilafah yang diterangkan Alquran sangat erat kaitannya dengan realitas kenabian.

Alquran telah menjelaskan sifat-sifat kenabian dengan rinci. Dalam 21:73, Allah berfirman:

“Dan, Kami jadikan mereka imam-imam yang membawa petunjuk dengan perintah Kami serta Kami wahyukan kepada mereka untuk melakukan kebaikan, mendirikan salat, dan menunaikan zakat. Mereka pun adalah orang-orang yang menghamba kepada Kami.”

Sejalan dengan ciri khas kenabian, Allah pun menegakkan khilafah di atas fondasi iman dan amal saleh. Dalam 24:55, Dia berfirman:

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal saleh bahwa Dia pasti akan mengangkat mereka sebagai khalifah-khalifah di bumi sebagaimana Dia mengangkat orang-orang sebelum mereka sebagai khalifah.”

Singkatnya, khilafah pada dasarnya merupakan cerminan atau bayangan dari kenabian. Bahkan, yang benar adalah bahwa bentuk khilafah yang murni adalah kenabian itu sendiri. Sebagaimana kenabian terdiri atas unsur keagamaan yang vertikal dan horizontal, yakni ibadah kepada Tuhan dan perbuatan baik kepada sesama makhluk, khilafah pun melandaskan dirinya pada pijakan yang sama. Dengan kata lain, pokok dan inti utama dari khilafah adalah perkara-perkara kerohanian serta spiritual semata.

Rincian sifat rohani khilafah telah diterangkan oleh Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Dalam kitab Khuthbah Ilhamiyyah (1900), beliau mendiskusikan falsafah ibadah dan pengorbanan serta perjalanan spiritual manusia dengan sangat indah. 

Beliau mengemukakan bahwa seorang hamba yang hakiki adalah ia yang, bak hewan kurban di tangan seorang algojo, menyembelih hawa nafsu dan segala sesuatu yang ia sukai demi Sang Khalik hingga kesemuanya tadi tampak tak bernilai di hadapannya dan Tuhan sajalah, baginya, persona yang memiliki eksistensi. 

Lantas, ia pun tak ubahnya menjadi orang yang mati dan, karenanya, ia telah mencapai derajat fana’. Kini, berkat kekosongan dirinya dari semua benda selain Tuhan, ia siap menerima pancaran warna kejuitaan-Nya. Sekarang, karena ia sudah menelanjangi dirinya dari segenap pakaian duniawi yang membawa kesombongan, Tuhan mendandaninya dengan suatu jubah nan megah yang dinamai-Nya sebagai jubah khilafah.

Taktala mencapai tingkatan tertinggi dalam orbit kerohanian di atas, sang insan kamil atau manusia yang sempurna akan turun kembali ke bumi. Bersebab rasa simpatinya yang mendalam atas penderitaan rohani saudara-saudaranya, ia menyeru dan menarik mereka ke arah jalan yang telah ia jejaki untuk sampai kepada-Nya. Ia berhasrat untuk menuntun mereka keluar dari gelapnya kedurjanaan menuju cahaya kesalehan yang terang-benderang. Supaya berhasil dalam pekerjaannya, Allah memberkati dirinya dengan ilmu-ilmu dan makrifat-makrifat samawi yang dahulu dianugerahkan-Nya kepada orang-orang yang Dia kasihi. Syahdan, ia menjadi pewaris mereka dengan penuh kejombangan di atas kedudukan spiritual yang dinamakan waratsah.

Jadi, konsep khilafah yang benar sejatinya amatlah luhur dan mulia. Khilafah adalah sebuah maqam atau derajat kerohanian yang dicapai seseorang ketika ia telah melebur sepenuhnya dalam wujud Tuhan, menjadi manifestasi perwujudan-Nya di dunia, dan membuktikan kepada manusia bahwa Dia sungguh-sungguh ada. Ke arah inilah Nabi Muhammad suatu kali pernah bersabda bahwa Allah menciptakan Adam dalam rupa-Nya. Maksudnya, 

Allah menghendaki bahwa manusia menjadi pengejawantahan sifat-sifat-Nya di muka bumi dan para nabi merupakan golongan yang paling utama dalam konteks ini. Sepeninggal orang-orang kudus tersebut, para pengikut mereka yang dengan penuh ketaatan dan kecintaan telah mengikuti setiap langkah mereka akan meneruskan peran mereka di dunia. Para penerus misi kenabian inilah yang acapkali disebut sebagai khalifah. Layaknya para nabi, misi fundamental para khalifah adalah menegakkan nilai-nilai spiritual.

Lantas, mengapakah sejarah khilafah dalam Islam, sejak masa Nabi Muhammad sendiri, al-Khulafa‘ ar-Rasyidin, hingga runtuhnya Khilafah ‘Utsmaniyyah, diwarnai dengan kenyataan bahwa para khalifah juga memegang kuasa politik?

Pada hakikatnya, politik dalam sejarah khilafah Islam tak lebih dari sekadar unsur tambahan, tidak esensial. Selama periode Mekkah, Nabi Muhammad tidaklah memiliki kekuatan duniawi apapun. Beliau dan para sahabat justru harus menghadapi beraneka ragam penentangan, dari penghinaan, pelecehan, pemukulan, pemboikotan, sampai pembunuhan sekalipun. Dalam keadaan demikian, mereka tetap tenang dan bersabar sembari memperagakan akhlak-akhlak yang terpuji.

Sewaktu penentangan kaum Quraisy di Mekkah semakin menjadi-jadi, Nabi Muhammad dan para sahabat akhirnya terpaksa hijrah ke Madinah. Di kota yang dahulu dinamakan Yatsrib itu, beliau disambut dengan sukacita dan gegap-gempita oleh para penduduknya. Mereka yang terdiri atas berbagai latar belakang keagamaan yang berbeda – Muslim, Yahudi, dan penyembah berhala – sepakat mengangkat beliau sebagai pemimpin tertinggi di Madinah. 

Kesepakatan ini dikenal dengan istilah Shahifat al-Madinah, yakni Piagam Madinah, yang juga berisikan pakta integritas bahwa kesemua elemen kota akan saling membantu satu sama lain apabila datang ancaman dari luar. Dalam piagam tersebut, termaktub pula bahwa setiap elemen di Madinah dibebaskan untuk menjalankan peribadatan sesuai dengan kepercayaan dan agama masing-masing.

Sesudah Nabi Muhammad wafat, al-Khulafa’ ar-Rasyidin – Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali – mewarisi sifat kepemimpinan politik yang adisional tadi di samping tugas utama mereka sebagai pembimbing rohani umat. Namun, setelah lewat zaman mereka, corak kerohanian dalam khilafah Islam menghilang dan yang tersisa hanyalah corak politiknya. 

Demikianlah hal ini berlangsung dari naiknya Mu‘awiyah bin Abu Sufyan sampai jatuhnya ‘Abdul Majid II. Sistem yang berlaku sepanjang interval 1.300 tahun itu sebenarnya adalah mulk alias kerajaan, bukan khilafah. Bahwa kerajaan tersebut sering disebut sebagai khilafah hanyalah peristilahan teknis saja, yaitu karena para raja yang berkuasa menggantikan dan meneruskan para raja sebelumnya. Nabi Muhammad sendiri telah bernubuat mengenainya bahwa institusi khilafah dalam umat beliau mula-mula akan langgeng hingga 30 tahun lalu diikuti oleh kerajaan.

Kemudian, apakah khilafah dalam pengertiannya yang murni spiritual berakhir begitu saja pasca berlalunya al-Khulafa’ ar-Rasyidin?

Jawabannya adalah tidak. Kendati benar bahwa kaum muslimin telah lalai dan berbuat keji kepada para khalifah mereka – ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali  terbunuh, bahkan dua yang terakhir meninggal di tangan umat Islam sendiri –, Allah pun telah berjanji bahwa para pengikut Nabi Muhammad adalah kelompok yang Dia kasihi. 

Alhasil, Dia meneruskan khilafah spiritual dalam tubuh umat Islam secara estafet dengan menumbuhkan para muhaddats, yakni orang-orang yang diajak-Nya berbicara, turun kepada mereka wahyu dan ilham, tanpa menjadi nabi. Pada permulaan setiap abad hijriah, Dia membangkitkan orang-orang semisal mereka untuk memperbaharui agama. Karena ciri khas pembaharuan ini, mereka diistilahkan juga dengan sebutan mujaddid.

Nabi Muhammad telah menubuatkan bahwa, pada akhir zaman, kelak kekuasaan politik umat Islam akan runtuh, sedangkan sistem khilafah spiritual dalam bentuknya yang orisinal – dengan kata lain, yang didahului oleh seorang pemangku pangkat kenabian, khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah – akan muncul kembali. Dalam hadis-hadis yang lain, beliau mengemukakan bahwa sosok yang menjadi prekursor tersebut adalah Imam Mahdi atau al-Masih Yang Dijanjikan yang juga merupakan mujaddid terbesar. Dalam kepercayaan Jamaah Muslim Ahmadiyah, persona itu telah datang dalam wujud pendirinya, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.

Khilafah Ahmadiyah dan Pancasila

Setelah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad wafat, sebagaimana terjadi usai kemangkatan Nabi Muhammad, silsilah kepemimpinan dalam Ahmadiyah diteruskan melalui lembaga khilafah. Tugas utama Khilafah Ahmadiyah selaku pembimbing rohani para Muslim Ahmadi di seluruh dunia telah dijelaskan oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifah V, dalam sebuah resepsi di Sydney, Australia, pada tahun 2013 sebagai berikut:

“It is on the basis of these compassionate teachings that the Ahmadiyya Muslim Community makes every effort to spread love, kindness, brotherhood and peace to every corner of the world. Ahmadi Muslims can literally be described in just two lines – as those people who fulfil the rights owed to God and those who fulfil the rights owed to God’s Creation. Without acting upon these teachings a person cannot claim to be a true Ahmadi Muslim.”

Salah satu bentuk menunaikan hak-hak sesama makhluk adalah memberikan cinta dan kesetiaan kepada negara di mana seorang Muslim Ahmadi tinggal. Dalam kaitannya dengan ini, beliau bersabda dalam sebuah pidato di London, UK pada tahun 2010:

“As citizens of any country, we Ahmadi Muslims, will always show absolute love and loyalty to the State. Every Ahmadi Muslim has a desire for his chosen country to excel and should always endeavour towards this objective. Whenever a country requires its citizens to make sacrifices the Ahmadiyya Muslim Jamaat will always be ready to bear such sacrifices for the sake of the nation.”

Sejak awal kemerdekaan, para Muslim Ahmadi di Indonesia telah mempraktikkan slogan kecintaan terhadap negara ini dalam tataran yang konkret, khususnya terkait Pancasila. Setiap butir dari Pancasila benar-benar diwujudkan dalam perikehidupan para Muslim Ahmadi sebagai berikut:

  • 1. Ketuhanan Yang Maha Esa

  • Poin pertama Pancasila ini mengajarkan kita bahwa, dalam segala aktivitasnya, manusia Indonesia harus senantiasa mengingat Sang Pencipta. Lebih dari itu, frasa, “Yang Maha Esa,” sebenarnya menunjukkan bahwa kita harus menginsafi adanya perbedaan dan keragaman berbangsa mengingat tidak ada seorangpun yang benar-benar manunggal, kecuali diri-Nya.

  • Berbicara mengenainya, para Muslim Ahmadi dapat dikatakan sebagai kelompok yang terdepan dalam memanifestasikan diktum pertama Pancasila tersebut. Para Muslim Ahmadi senantiasa melaksanakan salat lima waktu setiap hari dengan tambahan berbagai salat nafal dan sunnah, seperti dhuha dan tahajjud, guna mengingat dan mensyukuri nikmat-Nya dengan kerendahan diri. Realisasi ketuhanan itu membuat para Muslim Ahmadi sadar bahwa Tuhan benar-benar Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia melimpahkan kasih-Nya kepada semua orang terlepas dari segala perbedaan yang ada. Berangkat dari sini, para Muslim Ahmadi banyak menggelar dialog lintas iman dalam rangka merekatkan jalinan cinta di antara para pemeluk agama selaku hamba-hamba Tuhan yang terkasih.

  • 2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

  • Poin kedua Pancasila ini memberikan pengarahan kepada kita bahwa kita harus selalu menaruh simpati dan tenggang rasa bagi sesama manusia. Ketika melihat saudara-saudara kita tertimpa musibah, kita tidak boleh hanya berdiam diri, tetapi juga harus membantu dan mengulurkan tangan kepada mereka. Hal tersebut dilakukan dengan adil tanpa memandang perbedaan serta dengan martabat dan keberadaban manusiawi.

  • Jemaat Ahmadiyah Indonesia, melalui Humanity First, telah, tengah, dan akan terus-menerus berjuang demi mengentaskan penderitaan manusia. Humanity First adalah lembaga kemanusiaan yang dijalankan oleh Jemaat Ahmadiyah secara sukarela dan telah beroperasi dalam pemulihan kebencanaan di Indonesia, semisal tragedi Tsunami Aceh 2004, Gempa Yogyakarta 2006, serta terakhir Gempa Ambon dan Maluku 2019.

  • Selain itu, Jemaat Ahmadiyah Indonesia merupakan salah satu komunitas donor darah terbesar di Bumi Pertiwi. Setiap triwulan, para Muslim Ahmadi di berbagai cabang di seluruh Indonesia serentak mengadakan Gerakan Donor Darah Nasional. Bahkan, mulai tahun 2018, para pemuda Muslim Ahmadi telah berhasil menciptakan aplikasi GiveBlood yang bekerja layaknya ojek online guna memudahkan orang-orang yang membutuhkan darah untuk mendapatkan donor secara cepat.

  • Jemaat Ahmadiyah juga merupakan organisasi dengan jumlah pendonor mata terbesar di Indonesia. Tercatat, lebih dari 6.000 Muslim Ahmadi di Tanah Air telah mendaftarkan diri sebagai pendonor. Atas pencapaian tersebut, Jemaat Ahmadiyah Indonesia mendapatkan rekor Muri pada 2017.

  • Aksi-aksi kemanusiaan demikian barulah segelintir dari banyak aksi-aksi lain yang dilakukan oleh para Muslim Ahmadi, di antaranya adalah bakti sosial, pembangunan Klinik Asih Sasama di Yogyakarta, serta pembangunan Klinik Haemodialisis di Tangerang.

  • 3. Persatuan Indonesia

  • Sila ketiga Pancasila ini menginstruksikan bahwa setiap warga negara wajib menjunjung tinggi kesatuan dan persatuan Indonesia. Kepentingan nasional mesti didahulukan daripada kepentingan golongan. Warga negara pun harus siap membela bangsa jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

  • Sejarah Indonesia merekam bahwa para Muslim Ahmadi turut menyuguhkan kontribusi yang besar, secara moralkah atau melalui perjuangan fisik, bagi kemerdekaan bangsa kita.

  • Dalam Kongres Pemuda II yang diselenggarakan di Jakarta pada 27-28 Oktober 1928  dan melahirkan Sumpah Pemuda, ada satu Muslim Ahmadi yang tampil cemerlang: Wage Rudolf Supratman. Di Gedung Oost-Java Bioscoop, lagu nasional gubahannya yang berjudul “Indonesia Raya” pertama kali diperdengarkan kendati hanya melalui lantunan biola.

  • Di samping itu, terdapat Entoy Mohammad Tojib, pemuda Muslim Ahmadi yang aktif dalam pergerakan kemerdekaan dan, karena kegiatan-kegiatannya yang vokal, beberapa kali diasingkan serta ditangkap, baik oleh Pemerintah Hindia Belanda maupun Pemerintahan Jepang. Pada masa revolusi fisik 1945-1949, beliau bergabung dalam Badan Keamanan Rakyat-Tentara Keamanan Rakyat (BKR-TKR) untuk mempertahankan kemerdekaan yang sudah diraih.

  • Berikutnya, ada Malik Aziz Ahmad Khan dan Abdul Wahid, dua orang muballigh Muslim Ahmadi yang terlibat dalam usaha-usaha diplomatik mengumumkan kemerdekaan Republik Indonesia ke dunia luar, khususnya melalui siaran RRI berbahasa Urdu.

  • Kemudian, terdapat Ahmad Nuruddin dan Sadruddin Yahya Pontoh, dua anggota lain dari korps muballighin Jamaah Muslim Ahmadiyah yang giat mengunjungi pusat-pusat tentara India di Jakarta guna menjelaskan kepada mereka, dalam bahasa Urdu dan Inggris, kesucian perjuangan bangsa Indonesia. Alhasil, sejumlah besar tentara India yang bergama Islam memutuskan untuk desersi dari otoritas Inggris dan melebur dalam upaya mempertahankan kemerdekaan.

  • Selanjutnya, tercantum nama R. Mohammad Muhyiddin, Ketua Umum Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang ditunjuk sebagai sekretaris perayaan hari ulang tahun Indonesia yang pertama di Jakarta pada 1946. Hanya saja, delapan hari sebelum pelaksanaan, beliau diculik dan ditembak mati oleh tentara Belanda.

  • Sampai hari ini, Jemaat Ahmadiyah tak kenal lelah memperjuangkan suara-suara persatuan bagi Indonesia yang aman, damai, dan harmonis.

  • 4. Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan

  • Prinsip ini memberikan penerangan bahwa, dalam membuat kebijakan atau mengatasi persoalan, urung-rembuk dan diskusi dengan kepala dingin mesti dikedepankan.

  • Jemaat Ahmadiyah Indonesia pun turut menjalankan hal tersebut lewat mekanisme syuro. Setiap tahun, perwakilan-perwakilan dari ratusan cabang Ahmadiyah di seantero Indonesia berkumpul untuk membahas program kerja organisasi selama setahun mendatang sekaligus mendiskusikan kendala-kendala yang tengah dihadapi.

  • Di samping itu, anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia senantiasa menerima dengan tangan terbuka perwakilan-perwakilan Pemerintah dan unsur-unsur ormas yang ingin berdiskusi tentang kemaslahatan bangsa dan negara, baik di level nasional maupun daerah.

  • 5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

  • Diktum terakhir dari Pancasila ini mengajarkan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh hak dan jaminan hidup yang sama tanpa memperhatikan perbedaan status.

  • Jemaat Ahmadiyah turut serta melaksanakan sila ini sejak lama. Setiap Muslim Ahmadi diharuskan aktif mendukung program-program Pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan dan menangani problematika-problematika kemasyarakatan yang ada. Terutama menyoal kebebasan beragama dan berkeyakinan, Jemaat Ahmadiyah Indonesia dengan aktif berpartisipasi serta bekerja sama dengan elemen-elemen Pemerintah dalam memperjuangkan kelompok-kelompok yang termarjinalkan bahwa, berdasarkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dan Undang-Undang Dasar 1945, setiap orang berhak untuk menjalankan keyakinan yang dianutnya, apakah itu dalam forum internum ataupun forum externum.

  • Khilafah Ahmadiyah berjalan beriringan dengan dasar negara Pancasila. Alih-alih bersilangan, keduanya justru berbagi nilai-nilai yang sama. Keduanya pun kini terbukti bukan sebuah oksimoron. Khilafah sejati tidak membutuhkan perangkat politik dan teritori, tetapi ia menembus jauh ke hati guna memenangkannya. Ia menuntut setiap pengikutnya menjadi insan kamil yang cinta kepada Tuhan dan berbelas kasih terhadap sesama.