"Setiap yang memabukkan adalah khamr " ( HR. Muslim )

Berbagai peristiwa dengan latar belakang agama sedemikian sering menemani keseharian kita belakangan ini. Lebih tepatnya semua peristiwa yang terjadi dipaksakan untuk bisa dibawa ke ranah agama. Mulai dari hal yang sebenarnya belum diketahui jelas kebenarannya, sampai urusan yang nggak penting-penting amat selalu dikaitkan dengan masalah keyakinan.

Saya setuju dengan statement menteri Agama bahwa kita adalah bangsa yang relijius. Kurang relijius apa coba, ketika susunan angka-angka yang merujuk peristiwa tertentu bisa kita olah sedemikian rupa dan dikaitkan dengan ayat suci !!

Peristiwa bencan alam yang sepenuhnya rahasia Tuhan kemudian bisa dianggap sebagai azab hanya karena waktu terjadinya sesuai dengan ayat tentang azab !! Dan yang kemarin ramai adalah sakitnya seorang kyai dikaitkan dengan dukung mendukung pilkada, uang terbitan baru bergambar Cut Meuthia gak pake jilbab pun digugat, bangke banget kan tingkat relijiusitasnya!!

Walaupun begitu, tidak semua warga negara Indonesia itu relijius karena memang ada juga kelompok atheis di Indonesia, Indonesian Atheist misalnya, kelompok yang didirikan tahun 2008 ini gencar melakukan gerakan atheistme di sosial media. Walaupun secara ideologi negara hal itu tidak dibenarkan tapi mereka punya perspektif sendiri terhadap Tuhan.

Mereka pun berkembang ditengah relijiusitas kita, dan sudah ada sejak sebelum lahirnya Indonesia.

Fenomena yang belakangan terjadi adalah adanya kelompok dengan fanatisme yang berlebihan dalam beragama, mungkin karena saking relijiusnya akhirnya malah kebablasan, banyak kalangan yang menyebut dengan mabok agama.
Kesan yang ditangkap justru mereka malah men-Tuhankan agamanya ketimbang Tuhan itu sendiri, musrik !!

Dan saya yakin ini bukan hanya terjadi pada agama tertentu saja, hampir semua agama memiliki kelompok-kelompok seperti ini. Parahnya lagi fanatisme ini bablas sampai menabrak norma kehidupan bermasyarakat.

Saling mengomentari ajaran agama lain, memberikan stigma, bahkan sampai saling adu argumentasi dengan dalil yang diyakini sendiri-sendiri, konyol sekali. Saya bukan orang yang ahli dalam agama dan setiap kali melihat perdebatan agama bawaannya pengen boker aja.

Apakah susah untuk saling diam dan khusyuk ibadah dengan keyakinan sendiri tanpa mengganggu mereka yang punya keyakinan berbeda ? Kemunculan sosial media semakin memperuncing pertikaian ini. Padahal saya yakin banyak diantara mereka yang ketika dikonfrontir tidak akan segagah di sosial media.

Kejadian yang masih hangat adalah bagaimana seorang saat berceramah didepan jamaahnya, alih2 memberikan kesejukan tapi malah menghina keyakinan umat yang lain disaat sedang merayakan hari besar.

Padahal jelas sekali dalam kitab sucinya Tuhan melarang umatNya untuk mengolok-olok mereka yang memiliki sesembahan lain.

Buat dia, agama sudah dijadikan sarana provokasi untuk saling berbenturan. Orang ini, jangankan kepada umat beragama lain kepada yang seagama saja dia dengan enteng menyebut munafik, sesat, liberal dan sebagainya hanya karena tidak sepaham dengan cara dia dalam beragama, saya tidak akan sebut namanya.

Ketika kita sudah berdiri dalam suatu golongan maka menyalahkan golongan yang lain adalah sebuah keniscayaan, bener nggak sih ? Sah-sah saja tetapi menganggap diri paling benar dan selalu menilai salah pada orang lain adalah ketololan tak bertepi.

Sangat disayangkan memang jika kemudian beberapa tokoh yang sering muncul di TV dan terlihat alim dan saleh pun ikut larut dalam pesta mabuk ini. Kelemahlembutan yang terlihat selama ini pelan-pelan hilang dan nampaklah wajah yang sebenarnya, towewewewwww.

Fatwa-fatwa yang mengundang kontroversi melesat deras tanpa mengenal batas apalagi solidaritas. Popularitas, uang dan gelimang harta dunia kemudian menjadi tujuan dengan kedok agama.

Terlepas dari ada atau tidaknya niat dibelakang itu, tetapi mengeksploitir emosi massa dengan fatwa agama untuk mencapai niat dan tujuan adalah kebejatan moral yang luar biasa.

Saya anggap mereka adalah pelacur-pelacur agama yang sering bermasturbasi dengan alat bernama fatwa.

Seperti layaknya bartender, mereka meracik khamr yang akan disuguhkan kepada pengunjung. Lengkap dengan tehnik jugling dan dioplos dengan ayat-ayat yang memabukkan tentu saja. Semakin mabuk pengunjung maka akan semakin senang mereka, dagangan mereka laku keras.

Biasanya mereka yang sudah pernah merasakan nikmatnya racikan sang bartender akan ketagihan untuk datang dan memesan lagi, yang tadinya datang sendiri akan mengajak teman lain bergabung, mabuk bersama. Tentu saja sang bartender akan dipuja karena hasil racikannya pas sekali dengan selera mereka, akhirnya sang bartender juga mabuk, mabuk pujian.

Dan karena sedang mabuk, pengunjung akan sangat mudah dipengaruhi oleh Disc Jockey, partner bartender, mereka akan bergerak pelan saat alunan musiknya lembut, dan akan berubah menjadi beringas saat diberi irama menghentak ditimpali suara DJ. Begitulah kolaborasi ciamik antara bartender dan dj dalam membuat mabuk dan bergoyang.

Sementara diluar sana, kelompok yang waras dan lebih suka kopi daripada khamr, kebanyakan pengikutnya seperti tidak perduli dengan kelompok "mabuk berjamaah" ini, entah karena mungkin sudah apriori atau kehabisan akal untuk menyadarkan para pemabuk ini.

Sikap tidak perduli karena orang yang waras jumlahnya lebih banyak daripada yang mabuk juga tidak bisa dibenarkan karena mestinya justru ada antisipasi supaya yang waras tidak terjerumus jadi pemabuk karena merasa tidak pernah diajak untuk waras bersama. Serius loh, kehilangan teman ngopi itu galau rasanya.

Saya hanya tertawa saja saat beberapa diantara mereka ada yang berusaha memberikan nasihat, mana ada orang mabuk mau dengerin nasihat ?

Tapi metode itu terus dilakukan, sampai kapan ? Sementara para pemabuk ini justru malah menggandeng beberapa orang dikelompok mereka untuk jadi pemabuk-pemabuk baru.

Yang mabuk banyak, yang kasih nasihat sendirian, mati. Padahal menyembuhkan orang mabuk itu gampang, dibenturin sampai benjol atau minimal disiram air, artinya harus ada aksi bukan sekedar orasi. Wajar sekali kalau orang mabuk akan terlihat sangar, tapi apa yang ditakutkan dari orang yang lagi mabuk? Didorong sedikit juga jatuh, saat jatuh itulah kemudian bisa kita lumpuhkan, masa kaya gitu aja harus diajarin.

Yakinlah penikmat kopi mempunyai kekuatan lebih baik dibandingkan penikmat khamr, saatnya kita keluar dari kedai-kedai untuk merapatkan barisan dan memberi pelajaran kepada para pemabuk.
Holopis Kuntul Baris !!!

Diujung tulisan ini saya akan menyitir lirik lagu Imagine dari almarhum John Lennon, bukan untuk tidak percaya pada agama tapi ada sisi lain dari hidup selain agama, ialah manusia dan Tuhan, itu yang saat ini sedang kita lupakan.

Imagine there's no Heaven
It's easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today

Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace

You may say that I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will be as one

Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world

You may say that I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will live as one