Salah seorang teman mengajak saya nongkrong di alun-alun kota. Ia hendak mengajak saya tertawa-tawa bersama sambil menyimak laman media sosial Dildo, pasangan capres-cawapres maya yang sedang viral.

Saya pun mengiyakan ajakan teman saya tersebut, dan jadilah saya dan dia ngakak bareng sambil minum kopi warung lesehan. Bagi kami yang berjiwa muda dan suka komedi, hal-hal aneh (untuk tidak mengatakan unik) seperti keviralan Dildo sedikit berguna untuk mengisi waktu.

Adalah nama Nurhadi sebagai capres dan Aldo sebagai cawapresnya. Paslon ini hadir di tengah-tengah gegap gempita tahun politik dengan maksud mengada-ada, menurut hemat saya.

Dilihat dari kacamata riwayatnya, Nurhadi adalah tukang pijat yang aktif di dunia maya dalam hal shitposting, tindakan mengirim konten yang agresif, ironi, dan tidak memedulikan etika umun. Sama halnya dengan Nurhadi, Aldo Suparman adalah tokoh shitposting yang sering membuat konten alay, hanya saja bukan tukang pijat.

Tujuan shitposting pada dasarnya memang untuk membuat kegaduhan di tengah diskusi umum. Dalam konteks capres-cawapres fiktif tersebut, mereka hadir untuk meramaikan tahun politik ini di media sosial dan mendulang pengikut.

Benar saja, sampai artikel ini ditulis, penyuka laman resmi koalisi pendukung Dildo di FB mencapai lebih dari tujuh puluh ribu, dan di Twitter mencapai lebih sepuluh ribu. Saya prediksi akan meningkat lagi ke depannya.

Media daring yang karakternya nakal, Mojok.co, sempat menerbitkan esai tentang fenomena Dildo ini. Tulisan salah seorang kontributor Mojok menggambarkan betapa keberadaan Dildo ini dipandang sebagai preseden positif seorang calon presiden dan calon wakil presiden dari tinjauan nakal dan positif berpikir. Iya memang seperti itu.

Saya pun juga melihat dari tinjauan positif. Bahwa konten-konten Dildo dapat diambil nalar kritisnya. Semisal pernyataan seperti yang terkutip di bawah ini:

Kemacetan terjadi akibat dari pemerintah yang tidak membatasi penjualan kendaraan pribadi serta kurangnya pembangunan infrastruktur seperti jalan umum di berbagai daerah. Sayangnya, bukannya membangun, memperluas atau memperpanjang jalan umum, pemerintah justru membuat jalan tol. Padahal jalan tol bukanlah fasilitas umum. Jalan tol adalah fasilitas yang dimiliki individu/kelompok 'privat property', dan hanya yang mampu membayar yang boleh lewat. (laman resmi FB Nurhadi-Aldo, 30-12-2018)

Pernyataan itu belum selesai sebenarnya. Dan solusi yang ditawarkan oleh Dildo adalah agar masyarakat menjadi Nolep, berasal dari kata no life yang mereka artikan sebagai pengangguran. Artinya, dengan menganggur di rumah, jalanan tak akan macet.

Indikasi bahwa itu guyonan patut membuat kita memakluminya. Saya pun tertawa-tawa membaca pernyataan itu.

Meski demikian, bukan berarti realitas keviralan Dildo tidak menyisakan catatan buruk. Bukan berniat untuk terlalu serius menanggapi barang guyonan medsos, hanya saja menjadi penting juga bagi kita untuk mempunyai rem yang menjaga batin dan etika verbatif dalam berselancar di dunia maya.

Dalam rangka itulah opini ini ditulis. Karena, bagi saya, proporsi etika dalam bermedia sosial patut diperhatikan.

Saya melihat beberapa postingan akun Dildo beberapa hari ini. Tertawa ngakak memang. Tapi, di balik itu, saya memikirkan efek negatif dari shitposting yang dilancarkan Dildo.

Alasannya, bahwa saat ini Indonesia sedang dalam keadaan darurat kekerasan seksual. RUU Penghapusan Kekerasan Seksual tak kunjung disahkan. Sementara kasus pelecehan seksual yang menimpa Baiq Nuril oleh atasannya semakin menjadi ironi setelah Nuril malah didakwa bersalah karena menyebarkan percakapan asusila yang melecehkan dirinya.

Realitas yang seperti itu menjadi semakin ironis lagi dengan keberadaan berbagai terminologi "mesum" yang diusung Dildo. Akun Dildo, yang singkatan nama itu saja merujuk pada alat bantu seksual, kerap kali menyebar konten tak senonoh secara verbal. Di samping ada juga kejenakaan konten lainnya.

Pertanyaanya: siapa yang bisa menjamin narasi "cabul" yang dibawa Dildo tak akan memberi efek mesum pada otak pembacanya?

Tak ada hukum yang mengatur ekspresi mesum secara verbatif di negeri ini. Namun, dari tinjauan etika, guyonan mesum lebih baik dirayakan dalam kondisi terbatas dan privat, bukan diumbar di medsos yang siapa saja bisa mengaksesnya, termasuk anak kecil dan hidung belang.

Bagaimana jika guyonan Dildo menyulut berahi hidung belang agar melakukan tindakan asusila terhadap perempuan? Atau mendorong lelaki dengan otak cabul untuk melecehkan perempuan?

Meski masih sekadar terkaan, pertanyaan saya itu bukan berarti lalu tak ada gunanya. Kejahatan asusila tak bisa diredam hanya dengan memblokir situs bokep saja. Kontranarasi terhadap term-term porno juga penting.

Jangan kemudian artikel ini dianggap mendiskreditkan pihak Dildo. Saya mengapresiasi konten-konten Nurhadi-Aldo yang jenaka, misalnya jargon "Kalau orang lain bisa. Mengapa harus kita?". Bagi saya, itu menghibur. Karena di balik keseriusan kata-katanya, ada makna "menjadi pribadi yang tidak bertanggung jawab"; kebalikan dari jargon "Kalau bukan kita siapa lagi?".

Sekali lagi saya tegaskan bahwa kita juga perlu mengerem narasi-narasi cabul. Agar risiko negatifnya tidak sampai menjerumuskan para penyimaknya ke dalam tindakan asusila yang lebih nyata, pelecehan seksual misalnya.

Terakhir, pesan untuk paslon Dildo, sebarkan konten jenaka yang menghibur. Untuk urusan yang sifatnya "saru", sebisa mungkin dibikin kiasan yang lebih berbobot dan mendidik. Please.