Perempuan adalah sebuah subjek sentral dalam kumpulan cerpen Ketut Rapti yang ditulis oleh Ni Komang Ariani ini. Cerita pertama hingga terakhir dibubuhkan problematika yang biasa perempuan hadapi; tentang pernikahan, perselingkuhan, kebebasan, kesepian, dan pada akhirnya semua bermuara pada sebuah tuntutan bahwa perempuan—paling tidak—harus sempurna jika ingin hidupnya bahagia.

Simone De Beauvoir secara verbal menyatakan bahwa perempuan mulai menyatakan kebebasannya dengan cara terang-terangan. Tapi, sayangnya mereka belum dapat menikmati kehidupan yang mereka inginkan seperti kaum laki-laki. Kebebasan perempuan hampir selalu berhenti pada pernikahan, yang menurut Beauvoir sama saja dengan mengakui dominasi laki-laki.

Laki-laki, yang 80% memilki peran sebagai ‘penindas perempuan’ di kumpulan cerita ini, tetap diberikan porsi dengan diangkat sebagai judul pada empat dari total sepuluh cerita dalam Ketut Rapti. Unsur maskulinitas yang tercermin dari kisah-kisah Ketut Rapti terkadang membuat perempuan tidak bahagia semakin menguatkan bahwa laki-laki memang sulit terlepas dari stigma kekuasaan.

Perempuan pada akhirnya menemui jalan buntu antara melepaskan kemelakatan dengan status sosial seperti pernikahan, misalnya, untuk menemukan kebahagiaan lewat kebebasan.

Sudut pandang yang dikemukakan oleh beberapa pemikir seperti Rousseau, August Comte, St. Paulus, dan lain-lain turut dikutip Beauvoir dengan anggapan bahwa perempuan memang ditakdirkan sebagai penerus spesies dan menangani kerja rumah tangga, atau dengan kata lain tampuk penerus keturunan ada di tangan perempuan.

Tentu hal ini tidak dapat disalahkan. Perempuan melahirkan. Namun, biar bagaimanapun, setiap perempuan bukanlah Sang Holy Grail yang dapat memiliki keturunan tanpa campur tangan laki-laki.

Jika ditinjau dari aspek agama, tentu keturunan yang dihasilkan berdasarkan asas hubungan intim antara perempuan dan laki-laki harus didasari oleh ikatan pernikahan. Sedangkan beberapa kasus pernikahan tidak dibangun atas dasar cinta.

Pernikahan menjadi sebuah momentum perpindahan status sosial. Label yang diberikan oleh masyarakat terhadap perempuan yang tidak menikah, bahkan sampai sekarang, menjadi momok yang cukup menakutkan bagi perempuan atau keluarga si perempuan. Meskipun sering kali perempuan-perempuan yang merindukan kebebasan dan eksistensi akan dirinya memilih untuk tidak terikat oleh pernikahan.

Secara garis besar, hal tersebut sah-sah saja jika dirunut berdasarkan dasar kebebasan. Bahkan, secara terang-terangan Freud mengatakan, “Suami, begitu sebutannya, tidak lebih dari seorang pengganti laki-laki yang dicintai, bukannya laki-laki itu sendiri.”

***

Cerita-cerita dalam Ketut Rapti sebagian besar pernah dipublikasikan oleh beberapa media massa di Indonesia sejak tahun 2014-2017. Jika dilihat dari cerita pertama, penekanan tentang kebahagiaan jika melepaskan sudah santer terlihat.

Dalam cerpen Laki-Laki tanpa Cela, misalnya, laki-laki digambarkan sebagai sebuah entitas yang sempurna di mata perempuan—dalam hal ini adalah istrinya. Kesempurnaan itu bahkan dilihat dari hatinya yang merasa harus menikahi seorang perempuan lain yang membutuhkan pertolongan.

Saya harus melakukannya karena itu sudah menjadi tugas kita sebagai umat manusia. Kita tidak mungkin membiarkannya terlunta-lunta tanpa pertolongan. Saya sangat sedih harus melakukannya. Ini akan menjadi berat untukmu, karena kau tidak lagi menjadi satu-satunya. – hlm. 4

Sang istri dihadapkan pada kenyataan bahwa kemuliaan hati sang suami menghadapkannya pada keputusan untuk membagi kekasih hatinya. Secara logika, hal tersebut sangat omong kosong. Sebab, menolong seorang perempuan yang terlunta-lunta sebenarnya dapat dilakukan tanpa perempuan tersebut harus dinikahi.

Istri harus rela menyambut ‘adik baru’ di kehidupan rumah tangganya tanpa memikirkan pondasi pernikahan yang telah ia bangun selama bertahun-tahun dengan suaminya.

Melintas dalam ingatan saya, kata-kata seorang kawan, bersikaplah awas jika kau hidup dengan seseorang yang kau anggap tanpa cela. Karena ada dua pilihan yang tersedia, ia bukan manusia atau kau tidak mengenalnya sama sekali. – hlm. 8

Kesempurnaan tidak lebih dari angan-angan. Manusia, pada hakikatnya, memang tidak ada yang sempurna. Dalam pernikahan pun, hampir pasti selalu ada yang dikorbankan demi menutupi ketidaksempurnaan pasangan.

Cerpen kedua, ketiga, dan kedelapan, Katanya Saya Tak Akan Bosan, Telapak Kaki yang Menyimpan Surga, dan Laki-Laki dari Negeri Peri, lagi-lagi membahas tentang keresahan seorang perempuan. Katanya Saya Tak Akan Bosan dan Telapak Kaki yang Menyimpan Surga menyiratkan lelaki yang bertindak seenaknya demi dirinya sendiri dan martabatnya tanpa mengindahkan perasaan perempuan yang bahkan sudah menjadi istrinya.

Perempuan yang merasa terkungkung dengan pernikahan yang sedang berlangsung membuatnya memilih untuk pergi dari rutinitas membosankan yang ia jalankan sehari-hari. Sedangkan dalam Laki-Laki dari Negeri Peri, seorang perempuan akhirnya memilih untuk enyah dari segala kesuntukkan yang melanda hidupnya,

Saya merogoh buku notes berisi catatan “semua hal penting”, melemparkannya ke tempat sampah terdekat. Buku itu menghantam tutup kaleng tempat sampah dan terpental. Mendarat tepat di atas kotoran anjing. Saya hanya menyeringai dingin. Saya lanjutkan langkah melintasi malam, menghirup dalam-dalam segar dan bebasnya udara malam. Sekarang saya tahu saya tak akan bosan. – hlm. 17

Dalam Telapak Kaki yang Menyimpan Surga, sang perempuan harus berkorban sedemikian sabarnya, mengakui bahwa dirinya banyak kekurangan di hadapan suami tercinta, bahkan menahan agar dirinya tidak berharap diajak jalan-jalan menggunakan mobil sang suami hingga dia melahirkan, dan sang suami menjemputnya dari rumah sakit menggunakan mobil itu. Kenyataan yang ironis. Terlebih saat mengetahui bahwa perempuan ini tidak dapat mengandung.

“Namun menunggu bukan satu-satunya hal yang dapat dilakukan. Kita harus berikhtiar. Kita harus berusaha.”

“Maksud Mas?”

“Kita dapat berusaha, selain hanya menunggu.”

“Maksud Mas, kita harus berobat? Ke dokter?”

“Salah satunya itu.”

“Yang lain apa Mas?”

“Masih banyak usaha lainnya. Tentu saja yang tidak dilarang agama.”

Ada semburat di wajahnya, yang tak sepenuhnya bisa aku tangkap. – hlm. 24-25

Perempuan lagi-lagi yang berkorban. Saat sang suami memaksakan diri untuk bisa mendapatkan anak dari perempuan lain, si istri tidak dapat mengelak keputusan tersebut.

Si istri terlalu lugu. Dia malah meminta untuk dapat bersekolah lagi, mengenyam pendidikan, dengan catatan agar si istri dapat mendidik anak-anak mereka kelak, anak-anak yang tidak berasal dari rahimnya. Dominasi sang suami sangat kental di sini.

“Namun kau harus tahu, kau sekolah tinggi bukan untuk bersaing denganku, apalagi mengungguliku. Kau sekolah tinggi untuk mendidik anak-anak kita kelak menjadi orang-orang dewasa yang berkilauan.” – hlm. 27

Cinta pun dikesampingkan. Perempuan lagi-lagi menengadahkan dirinya untuk laki-laki yang menjadi suaminya atas nama harga diri dan martabat keluarga.

Nietzsche memaparkan terkait rasionalitas cinta dalam tulisannya, The Guy Science. Cinta, menurut Nietzsche, sebenarnya menerangkan dua hal yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan.

Bagi perempuan, cinta tidak hanya kesetiaan. Cinta adalah penyerahan total terhadap tubuh dan jiwa, tanpa pamrih, tanpa imbalan apa pun. Itulah kesetiaan. Sedangkan bagi laki-laki, mencintai seorang perempuan tidak lebih dari cinta dari perempuan itu yang dia inginkan seutuhnya.

Sedangkan, pada cerpen Laki-Laki dari Negeri Peri, terdapat seorang perempuan yang merasa sangat bosan dengan kehidupan sehari-harinya, hingga tiba-tiba muncul seorang pria yang memiliki ketampanan tak terlukiskan dari Negeri Peri. Perempuan itu, tentu saja, jatuh cinta pada pandangan pertama.

Hingga pada suatu masa, si lelaki menawarkan agar perempuan itu ikut dengannya ke Negeri Peri.

“Mengapa harus ada kata tetapi? Tanyalah hatimu dengan pertanyaan sederhana. Apakah kau bahagia hidup bersamaku? Jika ya, kau bisa hidup bersamaku.”

“Tapi di sini kami tak berpikir sesederhana itu. Aku harus mempertimbangkannya matang-matang.”

“Apa di dunia yang memintamu berpikir matang itu, kau sudah mendapat tempat yang baik? Dan kau berbahagia?” – hlm. 84

Bahagia pun menjadi angan perempuan dalam setiap kisah di buku ini. Bahagia masih menjadi sesuatu yang abstrak. Apakah kebahagiaan dapat didapatkan dengan cinta atau dengan kebebasan?

Cinta pada akhirnya bertransformasi menjadi sesuatu yang sentimentil. Perempuan dibuat lemah dengan cinta jika ditinjau dari sudut pandang dominasi maskulinitas.

Ketut Rapti menjawab dengan dua buah cerpen berjudul Nyoman Rindi dan Pohon Kelapa di Kebun Bibi. Kedua cerpen ini memiliki benang merah satu sama lain.

Nyoman Rindi merupakan seorang perempuan Bali yang memutuskan untuk tidak menikah. Ia merasa menikah akan mengurung kebebasannya. Ia merasa perempuan merupakan seseorang yang kokoh dan dapat menggambar garis tangannya sendiri untuk kehidupannya. Cibiran dari lingkungan di sekitarnya tidak ia hiraukan. Nyoman Rindi merasa sanggup menghadapi kehidupan tersebut seorang diri.

Di sisi lain, Nyoman Rindi menyukai buah kelapa. Salah satu pekerjaannya adalah mebuat minyak kelapa yang beraroma sedap. Terlepas dari itu semua, ia memahami pohon kelapa memiliki filosofi sendiri yang dapat dia contoh untuk hidupnya.

Bagi Rindi, kelapa adalah buah yang ramah dan sangat menyenangkan. Karena kelapa adalah buah yang tumbuh untuk mengabdi dengan kepasrahan sempurna. Baginya, kelapa tidak pernah meminta apa pun, sebaliknya ia selalu memberi. 

Oleh karena itu, Rindi berjanji pada dirinya, bahwa ia akan mampu berdiri kokoh seperti puluhan pohon kelapa yang tumbuh dengan subur di ladangnya. Ia akan terus tumbuh menjulang ke langit tanpa memedulikan rumput-rumput liar yang tumbuh di sekelilingnya. – hlm. 38

Sementara itu, Rindi memiliki keponakan yang mengalami kesuntukkan di pernikahannya. Menikah digambarkan tidak lebih dari mengurus tetek bengek kebersihan rumah dan kesepian saat ditinggal kerja oleh suami.

Awalnya Rindi berharap bahwa keponakan perempuannya itu tidak akan menikah, seperti dirinya. Keputusan keponakannya tersebut memang membuat Rindi sangat kecewa.

Dia, laki-laki itu memang telah membuatku tinggal di sebuah rumah yang elegan dan berkelas. Rumah yang teramat luas, sehingga membuatku pegal menyusuri tiap bagiannya dengan kain pel. Rumah yang sunyi dari pagi hingga tengah malam. Rumah yang berdinding-dinding tinggi dan tak seorang pun tetangga suka berkunjung. – hlm. 48

Lagi-lagi, berdasarkan beberapa cerita di buku ini, pernikahan berujung pada situasi di mana perempuan harus senantiasa setia dengan mengerjakan pekerjaan rumah, dan berdampak pada rasa kesepian dan kesunyian yang dirasakan.

Secara tidak langsung, Nyoman Rindi menang. Dia berhasil membuat keponakan dan salah satu saudara perempuannya iri karena sanggup bertahan kokoh dengan kesendirian hingga ia tua.

Dua cerpen selanjutnya, Lidah dan Lidah Ketut Rapti II, melampaui batas-batas imajinasi terkait salah satu bagian tubuh yang menjadi objek sentral; lidah. Ketut Rapti memang memiliki logat Bali yang kental dan membuatnya agak kesulitan mencari pekerjaan di Jakarta. Hingga suatu malam dia didatangi mimpi oleh lidah yang setelah itu, malah menjadi pemantik dirinya untuk berkarya di bidang seni rupa.

Lidah menjadi sesuatu yang eksotis untuk dinikmati. Ketut Rapti yang diramalkan menjadi seorang pecundang, malah membuktikan kalau dirinya berhak duduk di kasta yang tinggi di tanah ibu kota. Semua itu tidak lain karena lidah.

Ketut Rapti terus bergerilya meggangdakan lidah-lidah uangnya. Ia sudah berencana untuk bekerja sama dengan produsen boneka bulu ternama. Ia akan memproduksi boneka lidah dalam jumlah massal. – hlm. 60

Lidah membuat Ketut Rapti berkuasa. Dia mengubah Ketut Rapti yang pemalu menjadi sosok perempuan yang mudah tertawa lebar. Dia mengubah Ketut Rapti mudah mengeluarkan uang berjuta-juta untuk keperluan yang mengerikan demi menuntaskan nafsunya agar tetap terlihat sempurna.

“Yakinlah, Made.” Suara Ketut Rapti meninggi. “Tiang akan membayarmu dengan sangat mahal.” Aku menciut pada tekanan yang dalam pada suara Ketut Rapti. “Bahkan kalau perlu, kita bisa menukarnya dengan operasi plastik.”— hlm. 74

Dua cerpen terakhir yang berjudul Laki-Laki Berhidung Belang dan Laki-Laki yang Menyeberang dan Perempuan di Tepi Persimpangan menuntaskan kumpulan cerita ini dengan kesimpulan yang bersandar pada penantian perempuan akan laki-laki yang setia dan penuh cinta, dan membunuh kesepian yang sering kali mendera.

Perempuan sering kali dihadapkan pada realitas akan sebuah kehilangan karena pengorbanan yang dia lakukan. Sedangkan laki-laki sering kali tidak menyadari hal tersebut. Dia hanya sibuk pada hidupnya dan menuntaskan keinginan semunya untuk ‘berkuasa’ di hadapan perempuan.

Maka, kumpulan cerita di Ketut Rapti menjawab bahwa eksistensi perempuan tidak selalu berada di bawah bayang-bayang laki-laki. Perempuan dapat memilih jalan hidup dengan caranya sendiri, tanpa terbebani oleh kungkungan dalam sebuah ikatan pernikahan, misalnya, ataupun didominasi oleh rasa cinta terhadap lawan jenis. Sebab sering kali sikap patuh yang harus ditunjukkan perempuan malah membuat laki-laki bertindak sewenang-wenang.

______________________________________________________________________________ 

Referensi

Ariani, Ni Komang. Ketut Rapti; Kumpulan Cerita Perempuan. Yogyakarta: Indie Book Corner. 2017

Beauvoir, Simone De. Second Sex; Kehidupan Prempuan. Yogyakarta: Narasi. 2016