Sejak tahun 2016, saya berinteraksi dengan kawan-kawan waria. Banyak hal yang membuka cara pandang saya tentang waria. Salah satunya adalah waria dengan sifat keibuan yang ia miliki.

Siapa yang menyangka jika waria yang hidupnya mengais rezeki di jalanan dengan menyanyi dan membawa pengeras suara tetapi tidak sedikit dari mereka yang merawat anak dengan penuh cinta dan kasih sayang?

Fakta bahwa para waria mengadopsi anak dengan penuh cinta melunturkan stigma yang selama ini melekat kepada waria bahwa waria adalah pekerja seks komersial, pengamen, pencuri, dosa, dan pandangan negatif lainnya. 

Pada fakta ini, saya melihat justru waria lebih feminin ketimbang perempuan-perempuan yang membuang anaknya ke tong sampah atau yang meletakkan bayinya di tempat umum, meski perempuan memiliki alasan yang beragam.

Karena bagaimanapun seorang perempuan di mata masyarakat jauh lebih “terhormat” ketimbang seorang waria. Tetapi pandangan masyarakat tersebut tenyata tidak selalu menunjukkan bahwa orang yang terhormat di mata sosial adalah mereka yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap “anak”.

Tidak sedikit saya menjumpai kawan-kawan waria di komunitas pesantren waria Al-Fatah Yogyakarta yang memiliki anak. Ada anaknya yang sudah dewasa dan ada yang masih balita. Bahkan di tahun 2017, saya pernah menghadiri resepsi pernikahan salah satu anak dari seorang waria.

Dalam pandangan mayoritas masyarakat, sifat feminin atau keibuan selalu dilekatkan kepada perempuan. Perempuan secara biologis dipersepsikan secara sosial bisa hamil, melahirkan, menyusui, dan merawat anak. Meski pada kenyataanya tidak sedikit perempuan yang menolak untuk hamil.

Waria secara biologis (seks) adalah laki-laki, memiliki penis dan jakung. Sedangkan perempuan memiliki vagina, rahim, dan payudara. Tetapi karena identitas gendernya adalah waria, maka para waria berpenampilan atau menggunakan atribut sebagaimana layaknya perempuan, yaitu lembut, suka berdandan, dan sifat-sifat feminin lainnya.

Tulisan ini merupakan kumpulan cerita para waria yang memiliki anak (bukan anak secara biologis) dan mengasuhnya hingga dewasa.

Rully, Mengasuh Anak dari Anak Jalanan 

Rully adalah salah satu waria muslim di Yogyakarta. Ia berasal dari Bone, Sulawesi Selatan. 

Secara ekonomi, Rully merupakan waria yang bisa dikatakan sebagai waria dari kelas ekonomi menengah ke atas. Di samping memiliki pendidikan yang tinggi, juga keluarga militer dan pekerjaan yang terhormat, yaitu sebagai pekerja sosial di sebuah NGO khusus untuk pemberdayaan waria.

Rully memiliki anak berjenis kelamin laki-laki. Nur Dwicahyono namanya. Berdasarkan cerita dari Rully bahwa ia diasuh menjadi anak asuh dari seorang waria sejak tahun 2002, kala itu dia masih duduk di bangku sekolah dasar.

Nur Dwicahyono lari dari rumahnya di Banyuwangi, Jawa Timur, dan menjadi anak jalanan. Rully bertemu dengan Nur Dwicahyono di stasiun bus di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Kala itu, Rully mengajak Nur Dwicahyono untuk ngobrol dan menceritakan tentang dirinya yang menjadi seorang anak jalanan dan identitas keluarganya.

Anak bocah itu kemudian bercerita bahwa ia kabur dari sekolah karena tidak kuat dengan perlakuan kedua orang tuanya. Entah mengapa dari obrolan yang hanya sebentar itu, bocah laki-laki Nur Dwicahyono meminta kepada Rully untuk ikut ke Yogyakarta, sebuah kota tempat tinggal Rully. 

Karena permintaan anaknya sendiri, maka Rully kemudian mengajak Nur Dwicahyono untuk bersama-sama ke Yogyakarta dengan mengendarai bus.

Sesampainya di Yogyakarta, Nur Dwicahyono tidak lagi menjadi anak jalanan, tetapi menjadi anak rumahan dan diasuh oleh Rully beserta biaya pendidikannya. Ia disekolahkan di bangku Sekolah Dasar, lanjut Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan kemudian lanjut ke Sekolah Menengah Atas (SMA).

Di antara masa-masa sekolah inilah Rully mencari tahu keberadaan keluarga dan orang tua anak asuhnya. 

Setelah menemukan orang tua Nur Dwicahyono, Rully meminta kepada anak asuhnya untuk memilih apakah mau kembali kepada keluarga kandung ataukah bersama Rully ibu asuhnya. Anak yang polos itu menjawab bahwa ia ingin hidup bersama bunda Rully dan menolak kembali ke Banyuwangi bersama orang tua kandungnya.

Keinginan Rully adalah anak asuhnya menempuh pendidikan tinggi dengan biaya dari Rully sendiri. Akan tetapi, Nur Dwicahyono menolak untuk kuliah dan lebih memilih untuk bekerja sebagai karyawan swasta di Purwokerto, Jawa Tengah.

Kini Nur Dwicahyono, anak asuh Rully yang seorang waria, telah berusia 28 tahun. Ia adalah laki-laki heteroseksual dan mandiri secara ekonomi. Meski diasuh oleh seorang waria, tidak lantas menjadikan anak asuhnya menjadi waria. 

Vinolia, Merawat Anak dari Anak Pekerja Seks Komersial 

Vinolia adalah salah satu waria di Yogyakarta. Sebagai seorang waria yang menjadi ketua Yayasan KEBAYA, Vinolia banyak bertemu dengan orang-orang pengidap HIV AIDS. Banyak dari mereka, baik laki-laki, perempuan, maupun waria yang menyadarkan kesehatannya kepada “kebaikan” Vinolia.

Vinolia memiliki seorang anak perempuan yang ia beri nama Nira. Berdasarkan penuturan Vinolia, Nira adalah anak dari salah seorang perempuan yang bekerja sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) yang positif HIV AIDS.

Meski Nira dilahirkan dari rahim pengidap HIV AIDS, tapi bayi yang dilahirkan negatif, berbeda dengan ibu kandungnya. Perempuan PSK itu mempercayakan sepenuhnya perawatan bayi yang dilahirkan itu kepada Vinolia.

Sebagai seorang waria yang memiliki pekerjaan dengan intensitas kesibukan yang tinggi, Vinolia memiliki baby sitter untuk mengasuh Nira setiap hari. Pengasuh Nira juga seorang waria, dan tugas Vinolia adalah menyediakan susu, makanan, dan gaji kepada ibu asuh setiap bulannya.

Kini Nira berusia 4 tahun. Nira anak yang cantik, lucu, dan manis. Pelajaran yang dapat diambil dari cerita Nira, anak dari seorang waria, adalah bahwa perempuan PSK “lebih” mempercayakan pengasuhan bayi yang dilahirkan kepada seorang waria ketimbang kepada perempuan heteroseksual.

Tentu ini hanya bersifat kasuistik, tetapi kenyataan yang demikian menyentuh nurani terdalam kita, bahwa waria di mata PSK “lebih” feminin daripada perempuan yang oleh masyarakat dipersepsikan feminin.   

Sinta, Ibu dari Anak dan Menantu

Ibu Sinta adalah ketua Pondok Pesantren Waria Al-Fatah Yogyakarta. Secara sosial ekonomi, Sinta berasal dari keluarga kelas ekonomi menengah ke atas, berpendidikan tinggi, dan memiliki usaha kerajinan perak di Kotagede. Hampir masyarakat Kotagede “tahu” dan mengenal Sinta sebagai seorang waria.

Sinta memiliki seorang anak perempuan, yang ia beri nama Gendis. Berdasarkan cerita Sinta, Gendis adalah anak dari sepasang suami-istri yang memberikan anaknya kepada Sinta di tahun 1992. Kala itu, Gendis berumur 3 bulan.

Gendis diasuh oleh Sinta layaknya anak sendiri. Gendis menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah kemudian berlanjut ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tidak seperti ibu asuhnya yang memiliki gelar pendidikan tinggi, Gendis lebih memilih untuk menikah di usianya yang ke-18 tahun.

Gendis menikah dengan seorang laki-laki dan dikarunia satu orang anak laki-laki. Kini, Gendis membuka usaha kue dan roti di rumahnya di Bantul, Yogyakarta.

Cerita Sinta, yang memiliki anak perempuan, menantu, dan cucu menunjukkan kepada kita bahwa pengasuhan anak atau pola asuh seorang waria kepada seorang anak dari bayi hingga dewasa tidak lantas menjadikan anak tersebut menjadi sama seperti orang tuanya, yaitu menjadi waria.

Dari ketiga cerita di atas, baik itu cerita Rully, Vinolia, dan Sinta, menjadi cerminan pelajaran hidup kepada kita bahwa sejatinya menjadi waria bukan karena faktor keluarga, faktor lingkungan, atau faktor pertemanan. Tetapi menjadi waria itu karena takdir atau kodrat atau ketetapan Tuhan. Dalam artian, bahwa seorang waria tidak bisa memilih untuk dilahirkan menjadi waria atau bukan. 

Karena Nur Dwicahyono dan Gendis dari kecil hingga dewasa diasuh oleh seorang waria, tidak lantas kemudian menjadi seorang waria juga. Tetapi tetap menjadi manusia heteroseksual. Dalam artian, menjadi manusia dengan identitas dirinya sendiri.