Negara bernama Republik Mboh Kae sedang gaduh urusan stafsus milenial. Berturut-turut terjadi perilaku tak biasa yang menguji nalar dan kesabaran publik. Kegaduhan semacam itu tidak terjadi di Republik Rawa Bebek karena keputusan merekrut stafsus dipikirkan secara serius.

Dua negara ini berbeda perspektif saat menentukan orang-orang yang dianggap kompeten. Alih-alih mempertimbangkan usia supaya mendapat teman diskusi yang kekinian, Presiden Republik Rawa Bebek memilih stafsus berdasar empat tipe kepribadian; koleris, melankolis, sanguinis, dan plegmatis. Menurut Jubir Istana, alasannya adalah sebagai berikut:

Alasan #1 Stafsus berdasar usia dinilai kurang efisien

Jika membentuk stafsus dari era milenial, maka dipandang perlu juga membentuk stafsus Baby Boomer, stafsus gen X, dan stafsus gen Z. Tidak dilakukan karena pertimbangan efisiensi. Terlalu banyak orang = terlalu banyak rapat = terlalu banyak anggaran = terlalu banyak kop surat.

Alasan #2 Stafsus berdasar tipe kepribadian bisa mewakili populasi

Republik Rawa Bebek terdiri dari 34 provinsi. Jika ingin mewakili latar belakang sosio-kultural, maka setidaknya perlu 34 stafsus. Stafsus berdasar tipe kepribadian, selain hemat, juga mewakili populasi. Karena sebanyak apa pun jumlah penduduk, tidak mungkin tipe kepribadian juga bertambah, bukan?

Berbekal dua alasan tersebut, para pembantu presiden bergerilya menyeleksi penduduk Republik Rawa Bebek, terpilihlah: Ojak berkepribadian koleris, Tisna berkepribadian melankolis, Pur berkepribadian sanguinis, dan Cipto berkepribadian plegmatis. Mereka adalah empat sekawan yang berprofesi sebagai tukang ojek pangkalan.

Baru saja keempat tukang ojek istimewa ini dilantik jadi stafsus, ndilalah terjadi pageblug, pandemi gudiken yang sangat menular!

Pemerintah Republik Rawa Bebek telah mengeluarkan beberapa kebijakan menyangkut pandemi, yaitu physical distancing yang diikuti PSBB (Pembatasan Senggolan Berskala Besar) untuk menekan persebaran kutu scabies, pelatihan lewat program kartu Pragawe dari aplikasi RuangKelas untuk menfasilitasi karyawan yang terkena PHK, dan program sosialisasi pandemi serta bantuan sosial sembako untuk rakyat.

Tapi celah dari kebijakan tersebut masih ada di sana-sini. Stafsus merasa harus ikut memikirkan langkah apa yang bisa menjadi masukan untuk presiden, terlebih gaji 51 juta per bulan itu bukan jumlah yang kaleng-kaleng, harus ada output kinerja.

Gudiken atau gudik yang mewabah di Republik Rawa Bebek dikenal juga dengan nama kudis, disebabkan oleh kutu scabies (Sarcoptes scabiei) yang tidak bisa dilihat mata telanjang. Karena itu, ada ketegangan antara dokter dengan vet (veterinarian atau dokter hewan) tentang bagaimana cara mengatasi pandemi. Penelitian kutu scabies sebaiknya dilakukan oleh vet atau dokter juga membuat netizen "gelut online" di media sosial.

Cipto berusaha menggali apa-apa saja yang diperdebatkan yang sekiranya bisa menjadi titik temu. "Setelah mendengar argumen dok ini dan dok itu yang lagi cekcok di medsos, aku mikirnya bisa kerja bareng. Optimis aku bisa ketemu metode yang pas, semua sudah ada di depan mata og. Tapi anu, Bang Ojak yang lapor Pak Presiden ya?"

"Ah, elu gimana sih, Cip! Gue juga sibuk nunggu balesan surat dari camat-camat," jawab Ojak.

"Buat apa kamu teh nyuratin camat, Jak? Emang boleh," sahut Tisna yang melankolis. "Mending kayak saya nih mau berbagi info tentang cara mengenali gejala gudik sebagai tanda kepedulian pada rakyat."

"Info bener apa hoaks, Kang? Jangan seperti kemarin loh, masa gudiken bisa dikenali dengan menahan nafas selama 10 detik setelah garuk-garuk," Cipto mengingatkan. 

Tisna hanya nyengir kuda teringat di-bully netizen. Sebenarnya ia sudah menyiapkan usulan program safety net untuk rakyat yang terdampak secara ekonomi yaitu menanam sayur dan beternak lele di halaman rumah. Program ini rencananya akan disosialisasikan lewat kegiatan PKK dan Karang Taruna.

"Lagian mana efektif bagi info di medsos, langsung ke lapangan kasih surat, biar bergerak semua," jawab Ojak mencemooh aktivitas Tisna di media sosial.

"Kamu nggak boleh begitu atuh, Ojak. Kata bapak saya, jangan melanggar wewenang, kita ini hanya memberi masukan, yang bergerak mah sudah ada bagian lain," jawab Tisna.

"Bener itu, aku setuju sama Kang Tisna," sahut Cipto.

Mendengar teguran Tisna dan Cipto itu Ojak menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, "Ya udah entar gue tarik deh suratnya. Padahal maksud gue baek, mau menawarkan tenaga karyawan-karyawan gue buat tenaga lapangan sosialisasi penanganan gudiken. Gratis nggak usah pakai dana APBN."

"Sorry, Jak. Sebelum elu, gue udah duluan," tiba-tiba Pur muncul entah dari mana, menyuruh Cipto geser supaya ia dapat tempat duduk, lalu melanjutkan, "Ibu gue pesen lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Setelah gue pikir-pikir kontrak pelatihan kartu Pragawe di RuangKelas perlu diubah, program pelatihan Pragawe di RuangKelas bebas biaya kecuali buat konsultasi privat sama tutor dan dapat sertifikat. Materinya gue evaluasi ulang. Bebas akses pokoknya buat yang kepengin baca-baca atau nonton video, cukup modal kuota, nggak usah keluar dana APBN."

Ojak, Tisna, dan Cipto bertepuk tangan. "Sampeyan benar-benar siswa teladan lulusan SD Mangundikaran I, Mas!" kata Cipto yang bangga dengan sepupunya itu.

Ke-empat stafsus merasa lega karena berhasil merumuskan solusi sebagai masukan untuk Presiden Republik Rawa Bebek mengatasi pandemi gudiken. Mereka yakin bisa melewati masa krisis dengan baik asal semua pihak mau bekerja sama tanpa ego sektoral dan fokus berpihak pada rakyat untuk bergerak bersama sebagai sebuah bangsa.

Sebagai stafsus, punya kesempatan lebih karena berada di lingkaran terdekat presiden, mereka bertekad akan pantang mundur memberi masukan sebagai pendorong presiden membuat kebijakan yang berfaedah untuk rakyat.

Apalagi sebagian dari mereka juga merasakan manfaat dari kebijakan yang pro-rakyat, sampai bisa berkuliah di kampus bergengsi di luar negeri dengan biaya dari negara, mereka ingin "membayar kembali" hadiah yang berharga tersebut.