Terorisme itu tidak hanya sebatas bom bunuh diri saja. Bom bunuh diri hanyalah bagian "ending" dari yang nanti berujung dengan menguasai seluruh bagian dari negara ini.

Legitimasi agama sebagai alat pembenaran kekerasan tidak hanya terjadi di dunia Islam, tapi juga agama-agama besar lainnya di dunia ini. Kristen Koptik di Amerika sebagai ujung tombak partai Republican yang mana presiden Bush dulunya pernah menjadikannya sebagai ujung tombak pengangkatan nama dan suaranya. Bentrokan India dan Pakitan yang juga merupakan bagian dari dampak kasus kekerasan yang juga berkamuflase agama.

Kasus penindasan kaum muslim rohingya di Thailand bisa kita amati bagaimana para pemuka agama Budha menancapkan pengaruh mereka sebagai titisan Tuhan melegalkan kekerasan untuk melawan kaum yang mereka anggap sebagai musuh. Dan beberapa kasus Arab Region  seperti Irak, Palestina, Suriah, dan Mesir juga karena menganggap kekerasan tersebut adalah justifikasi agama.

Lantas, jika semua Tuhan versi masing-masing agama melegalkan kekerasan tersebut, bisa jadi sekarang antara Tuhan-Tuhan dari masing-masing agama tersebut sedan gmemperebutkan alam semesta ini. Jadi yang namanya kekerasan dengan tameng justifikasi agama tersebut sebenarnya sudah kerap terdengar di semua belahan bumi ini. Hanya saja masih banyak manusia yang tidak benar-benar melihat prahara dunia dengan terbuka.

Sebelum bom bunuh diri dan makar yang merupakan buntut dari gerakan radikal tersebut, banyak gerakan radikal lainnya yang menuju pada terorisme. Kekerasan fisik secara langsung atau "direct violence" diawali dengan kekerasan kebudayaan, pemaksaan ajaran, menjadikan dalil sebagai senjata pembenaran, dan banyak kekerasan lainnya yang bersifat secara tidak langsung atau "non-direct violence", dan bisa juga disebut "cultural violence".

Jadi sekarang ini, banyak manusia yang merasa tidak pernah berbuat radikal karena menurut mereka, mereka tidak pernah menyakiti siapa pun. Tapi sekali lagi, ini hanyalah langkah awal. Mereka tidak melakukan "direct violence" tetapi mereka telah melakukan "cultural violence" yang nanti tetap berbuntut pada "direct violence" tersebut.

Dan ketika kita melihat realita di Indonesia sekarang ini, virus-virus kekerasan fisik maupun secara kultural tersebut mulai menyebar. Banyak para pengikut awal dari gerakan ini menganggap mereka mau menegakkan hukumTuhan. Karena bagi mereka sistem sekarang ini adalah buatan manusia. Sekilas kita lihat akan sangat masuk akal dan keimanan serta hati nurani kita juga akan merintih seperti itu.

Namun, maukah mereka membuka mata dan pikiran bagaimana sanad ilmu pelopor gerakanyang mereka ikuti, tidakkah mereka mau mengikuti Ulama-Ulama yang jelas sanad keilmuannya yang telah menebarkan berbagai ajaran-ajaran keagamaan. Atau mungkin mereka menganggap bahwa diri mereka adalah agen-agen perubahan yang membawa kebenaran yang sesungguhnya? 

Entahlah. Mereka punya argumen dan dalil sendiri. Namun miris sekali ketika kita melihat mereka seperti memegang kebenaran yang utuh, padahal mereka juga manusia, bukan lah Tuhan pemilik kebenaran yang seutuhnya. Manusia hanya memungut kepingan-kepingan kecil dari pecahan dan serpihan kebenaran tersebut.

Dan mereka seperti paling memiki solusi jitu kemaslahatan umat dunia ini. Padahal mereka pada akhirnya hanya lah menumpahkan kesalahan yang nanti mereka perbuat, kepada Tuhan. Tuhan telah menakdirkan. Tuhan telah berskenario. Dan beberapa ungkapan putus asa lainnya yang seperti mereka mau cuci tangan atas tindakanyang mereka lakukan. 

Dan parahnya lagi mereka memfasilitasi dan membingkai opini agar masyarakat membenci rezim pemerintahan sah saat ini. Padahal ..??

Ahsudahlah. Mungkin saya nulis gini bentar lagi pasti ada yang mentakfiri saya. Saya sesat, liberal, syi'ah, kafir, kurang ngaji, aqidah dangkal, dlsb. Lengkap deh. Sekian.