Masih ingat gak waktu kecil dulu pernah bercanda sama teman-teman kita tentang komedi pak ustaz dan pak pendeta?

Saya masih ingat betul masa itu, saat saya masih bersekolah di tingkat dasar di kota Ende, NTT. Daerah tersebut mayoritas Katolik dan Kristen Protestan, namun banyak juga warga asli dan pendatang yang memeluk agama Islam berbaur bersama.

Saat kecil, di bangku sekolah kita selalu dicekoki bagaimana "menjadi" orang Indonesia. Orang Indonesia disebutkan sebagai orang yang ramah, sopan, santun, berbudaya, murah senyum, toleran, dan sederet sifat baik lainnya yang terdapat dalam KBBI.

Bangsa Indonesia dengan bangga memamerkan keragaman suku, agama, dan ras yang dapat hidup berbaur di negeri Ibu Pertiwi. Persatuan dan kesatuan serta sifat-sifat positif tersebut memang sangat terasa, saat itu.

Dari pengalaman saya (kecuali di sebuah daerah), saya merasakan apa itu persatuan dan toleransi meski saat itu saya minoritas ataupun saat menjadi mayoritas.

Saya masih ingat ketika bercanda tentang pendeta dan ustaz:

Seorang pendeta tua dan ustaz muda berjalan bersama sepulang melayani di daerah pelosok. Mereka harus melewati sungai yang airnya mulai meluap. Si pendeta tua terlihat sudah sangat lelah. Si ustaz muda kemudian menawarkan untuk menggendong sang pendeta tua untuk bersama menyeberangi sungai.

Pendeta tua: bertahun-tahun saya memuji Tuhan, baru kali ini saya rasakan enaknya naik haji.

Ustaz muda: Sekarang saya baru sadar, betapa beratnya memikul Salib Yesus.

Atau cerita lainnya, seperti:

Pendeta dan ustaz sama-sama menunggu bis di pinggir jalan. Saat itu hari sedang mendung, dan mereka sudah cukup lama menunggunya.

Pendeta: wah itu bis kita!

Ustaz: Bismillah, kita akan sampai dengan selamat.

Pendeta: Itu bis kota, pak ustaz, bukan bismillah.

Saat perjalanan ke kota, hujan deras turun. Tiba-tiba petir keras menggelegar. Pendeta kaget dan berusaha menenangkan diri sambil bernyanyi

Pendeta: Hale..lu..yaa

Ustaz: Itu halilintar, pak pendeta, bukan haleluya.

Saat itu si Kristen bisa bikin cerita lucu tentang si Islam, demikian juga si Islam membuat "joke" tentang si Kristen. Semuanya bisa sama-sama tertawa tanpa ada aksi-aksi dan emosi.

Anak kecil, remaja, hingga dewasa sering bersenda gurau tanpa tersulut emosi, dan murni sebagai candaan. Bahkan seorang kiai seperti (alm.) Gusdur pun punya cerita lucu tentang agama. Semua bebas bercanda, bebas tertawa.

Saat ini, semua terasa berbeda. Ciri-ciri umat beragama pun berbeda. Umat beragama bukan lagi orang yang rajin beribadah, penyabar, pemaaf, dan pengasih. Mereka disebut umat beragama adalah mereka yang marah jika agamanya disinggung, mereka yang mengancam orang lain karena agama, dan bahkan siap melakukan tindakan anarkis demi agama.

Legenda komedi Indonesia, Warkop DKI dulu berkata, "Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang." Dan saat ini tertawa itu pun mulai dilarang.

Setiap agama menyebut Sang Pencipta dengan segala sifat baiknya. Tuhan Maha Esa, Tuhan Maha pemaaf, Tuhan Maha Pemurah, dll. Tapi bagi saya, ada sifat lain yang mungkin tidak pernah disebut, Tuhan Maha Humoris. 

Saya tidak bermaksud menghina atau meledek Sang Pencipta, tapi saya yakini itu. Buktinya banyak pelawak lucu yang meninggal muda. Sepertinya Tuhan ingin tertawa bersama mereka di surga.