Jika Anda adalah penikmat politik, pasti Anda pernah menyaksikan berbagai kasus lucu yang pernah di beritakan media. Ragam kekonyolan politisi berhasil mengundang gelak tawa yang tidak ada habisnya. Seolah-olah mereka telah kehabisan cara untuk mempertahankan citra diri mereka agar tetap baik di mata masyarakat setelah terlibat berbagai kasus yang merugikan Negara. 

Sebut saja peristiwa kecelakaan politikus berinisial SN yang harus mengorbankan diri menabrak tiang listrik dan dahi benjol demi menyelamatkan diri dari panggilan KPK. Seorang Walikota yang inisialnya NMI harus berpura-pura hilang ingatan untuk mengidari kasus korupsi yang dibuatnya. 

Dan yang terbaru, drama RS yang berhasil menghebohkan publik berkat aksi operasinya yang diklaim sendiri menjadi korban penganiayaan. Politikus sekelas Prabowo Subianto, Fahri Hamzah, Fadli Zon pun terjebak dalam kasus kebohongan itu.

Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa politik hanyalah permainan drama seperti yang sering kali kita saksikan di stasiun televisi, tidak lebih. Apa yang kita saksikan di layar televisi sudah didesain untuk mengarahkan opini publik tentang siapa yang paling pantas untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini. 

Tapi, lagi-lagi itu hanyalah sebuah majas yang bermakna bahwa politik adalah tentang agenda perebutan kekuasaan. Teori politik apa pun yang anda baca, kekuasaan adalah objek yang tidak pernah hilang, bahkan menjadi inti pembahasan dalam semua teori politik. 

Mengapa orang ingin berpolitik? Jawabannya satu, karena seseorang ingin menjadi penguasa.Lihatlah pemilu 2019, berbagai rentetan drama yang tersaji, mulai dari pemilihan bakal calon presiden oleh partai politik (parpol) hingga masa kampanye. 

Ada banyak kejutan yang muncul menjelang Pemilu 2019 mendatang, yang membuat para penikmat drama politik kian melankolis. entah karena bingung memilih, atau karena drama yang disaksikan sangat mirip dengan drama korea yang membuat hati para penikmatnya sampai terbawa suasana. Apalagi momen yang paling menarik dari agenda lima tahunan Indonesia adalah euphoria sebelum dan sesudah pemilu berlangsung.

Layaknya menonton drama Korea, sedikit banyak masyarakat kita yang hanyut dalam suasana ini, bahkan sampai melibatkan diri pada agenda yang sejatinya mereka tidak tahu-menahu ada apa dibalik itu semua. Kita mungkin pernah tertawa dengan situasi ini, melihat tingkah konyol para politikus yang saling menuding satu sama lain. 

Atau bahkan menangis karena banyak juga politikus yang meminta simpati masyarakat karena merasa dituduh telah berbuat jahat oleh lawan politiknya. Seperti itulah drama, tujuannya adalah mengaduk-aduk suasana hati penikmatnya agar merasa bahwa yang bermain di dalam drama itu adalah penontonnya. Rentetan peristiwa telah di desain untuk mengelabui opini publik. Tujuannya satu, yakni meraih kursi kekuasaan.

Salah satu fenomena yang paling konyol adalah, banyak politikus pendatang baru melakukan hijrah untuk mendapatkan penilaian positif dari masyarakat. Padahal jika ditelisik dari sejarah kehidupan sehari-harinya, mereka tidak pernah absen menghabiskan malam di tempat-tempat hiburan, diskotik, atau sekedar berkunjung ke bar sambil menikmati segelas anggur dengan harga ratusan ribu rupiah. 

Meskipun tetap ada politikus yang tetap sederhana, berpenampilan apa adanya, tidak berlebih-lebihan. Intinya, politikus berasal dari banyak latar belakang dan sejarah hidup pemainnya, tujuannya satu, yakni meraih dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya.

Yang harus kita pahami dalam setiap proses politik adalah, para politikus akan berusaha keras melakukan apapun untuk meraih daya jual di masyarakat.

Terjebak Drama

Setiap hal yang ada di dalam dunia politik adalah abu-abu, hal yang kita lihat di media belum tentu benar-benar terjadi. Karena pada dasarnya, citra lebih efektif untuk meraih dukungan. Maka wajar-wajar saja bila seorang politikus acap  kali menggelontarkan isu kepada lawannya untuk meraih elektabilitas tinggi. 

Kasus fitnah, penyebaran berita hoax, saling meluluh-lapukkan dan aksi yang serupa adalah senjata yang ampuh untuk tujuan itu. Tak harus memilih lawan atau kawan, selama itu sesuai dengan hasrat dan kebutuhan yang bersangkutan akan dirangkul untuk menyerang bersama. 

Dalam hal ini, pemandangan yang seperti itu tidakakan berhenti sampai pemenangnya diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Oleh sebab itulah pemilu demokrasi, baik pilpres, pileg maupun pilkada selalu saja menyajikan wacana yang kering dan tidak berbobot. Karena mengorbankan idealism para pelaku politik demi keuntungan pribadi, sumpah dan janji-janji kampanye tercederai dan masyarakat hanya menjadi tumbal. Ditambah lagi dengan aromaperpecahan di mana-mana. 

Tidak hanya persoalan etnis, geografis, atau agama, melainkan merambat kepada perbedaan pilihan calon pemimpin. Masyarakat grassroot pun tidak lebih hanya pelumas, yang disanjung dan diperhatikan ketika di momem pesta demokrasi berlangsung.

Bukan berarti kita tidak boleh percaya pada para politikus yang sedang berkompetisi, melainkan sebelum kepercayaan itu terbangun, kecerdasan untuk memilah mana yang memiliki kapastitas dan yang tidak harus dimiliki terlebih dahulu. 

Jangan sampai pilihan itu berasal dari sikap fanatik buta terhadap salah satu calon, jika hal yang demikian terjadi, demokrasi hingga saat ini belum mampu menghadirkan pemimpin yang tepat bagi bangsa dan Negara. Karena akal sehat tidak lagi berfungsi, yang ada adalah pikiran yang diracuni oleh kepercayaan tidak berdasar pada sesuatu yang baik, dan kekuasaan telah berhasil menjadi tuan atas pikiran itu.    

Meskipun selama ini demokrasi di Indonesia belum mampu melahirkan pemimpin yang ideal, setidaknya upaya agar yang terburuk tidak terpilih menjadi pemimpin sudah dilakukan. Kita bisa saja memilih jalan yang paling gampang, yakni bersikap pasrah dan apatis terhadap politik beserta sajian drama melankolisnya. 

Toh kondisi masyarakat sampai saat ini sama saja, tidak ada yang berubah secara signifikan. Namun, sebagai bangsa yang sadar, pilihan itu sekiranya dikesampingkan demi mewujudkan Indonesia yang sesuai dengan amanat para pendiri bangsa. 

Biarlah politik hari ini dipenuhi dengan drama yang mendayu-dayu. Tapi, di masa mendatang politik harus memiliki kualitas, yang dibuktikan dengan visi yang jelas, kapasitas yang mumpuni dan politikus-politikus yang rekam jejaknya tidak cacat.