Entah mengapa selama ini saya selalu berpikir bahwa pasangan multietnis itu adalah pasangan yang unik. Mungkin karena saya amat menyukai apa pun yang berbau keberagaman. Dan beruntungnya, saya lahir di Indonesia dengan budaya heterogennya.

Salah satu pasangan paling unik menurut saya adalah perkawinan campuran antara Suku Sunda dan Suku Batak. Selain karena kedua suku tersebut berbeda secara wilayah geografis, juga karena sifat dan wataknya yang sangat bertolak belakang. Yang satu sopan santun dan lemah lembut, sementara yang satunya lagi berkarakter keras dan tegas. Sungguh perpaduan karakter sempurna yang saling melengkapi.

Well, berbicara mengenai pasangan unik dan keberagaman, maka kisah dalam film Lamaran inilah juaranya. Meskipun telah dirilis sejak lima tahun yang lalu, namun alur ceritanya yang unik, sense of humour yang tinggi, serta dibumbui dengan intrik romansa drama, sesekali mengundang gelak tawa dan menampilkan adegan suasana haru nan melankolis pun tercipta, membuat film lokal yang begitu classy  ini amat sangat patut untuk diulas.

Film bergenre komedi romantis ini berkisah tentang seorang gadis bernama Tiar Sarigar, pengacara muda ambisius berdarah Batak yang diperankan oleh aktris multitalenta Acha Septriasa. Lazimnya orang Batak yang memang kebanyakan berprofesi sebagai pengacara, Tiar pun bekerja di sebuah firma hukum yang dikelola bersama paman-pamannya yang semuanya berdarah Batak, di antaranya Tulang Rico (diperankan Tora Sudiro).

Suatu ketika, terjadi kasus korupsi yang melibatkan seorang bos mafia kelas kakap bernama Arif  Rupawan (diperankan Dwi Sasono), sampai kantor tempat Tiar bekerja pun diserang oleh seseorang (yang disinyalir sebagai anak buahnya Arif) karena Basuki (diperankan Marwoto) yang merupakan musuh bebuyutannya meminta bantuan hukum kepada para pengacara di kantor tersebut.

Tiar memberanikan diri untuk membela Basuki sehingga membuat kariernya melejit walaupun awalnya sempat disepelekan karena dianggap tidak akan becus menangani kasus besar seperti itu.

Banyak media yang meliput kabar keberhasilan Tiar berkat keberaniannya itu sehingga Tiar menjadi terkenal dan membuat orang tua dan seluruh keluarga Bataknya bangga. Namun di sisi lain, dia menjadi target pembunuhan Arif yang takut Tiar akan membongkar keterlibatannya.

Dengan alur cerita yang sulit ditebak, Monty Tiwa berhasil menghilangkan kesan monoton dari film ini. Bagaimana tidak, di sela-sela adegan penyelidikan rencana pembunuhan Tiar yang harusnya takut dan menegangkan, muncul adegan yang menunjukkan tingkah konyol dan kocak Dono (diperankan Mongol Stres), anak buahnya Arif.

Dan ternyata, di luar ekspektasi kita, tampang Arif sebagai bos mafia yang terkesan sangar, tegas, dan galak pun tidak sebanding dengan tingkahnya yang sesekali tampak lemah gemulai. Ditambah dengan munculnya aksi duet Arie Kriting dan Sacha Stevenson sebagai super agent untuk melindungi Tiar makin meramaikan suasana.

Adapun cara mereka untuk melindungi Tiar pun tergolong unik dan nekat. Salah satunya melibatkan Aan (diperankan Reza Nangin), cowok Sunda sekaligus resepsionis kantor Tiar yang polos dan lugu. Aan direkrut untuk menjadi mata-mata dengan berpura-pura menjadi pacar Tiar.

Adegan demi adegan dalam film ini selalu sukses memberi kejutan. Tak ketinggalan pula, romantisme kisah cinta Aan dan Tiar yang mulai kentara meski awalnya mereka hanya sekadar berpura-pura menjalin kasih.

Sayangnya, kisah cinta pura-pura mereka harus menemui kesialan justru dianggap serius oleh keluarga Tiar karena Aan bukan orang Batak. Selain itu, profesi Aan yang hanya sebagai seorang resepsionis dianggap tidak sebanding dengan Tiar yang seorang pengacara.

Hal ini terjadi ketika Tiar mengenalkan Aan pada keluarganya. Dalam adegannya, tampak Aan sebagai cowok Sunda gugup dan terlihat terintimidasi menghadapi keluarga Batak Tiar yang menginterogasinya.

Aan pun berusaha mengambil hati keluarga Tiar demi untuk menutupi penyamarannya. Padahal Bu Sarigar (diperankan Lina Marpaung), ibunya Tiar, berusaha menjodohkan Tiar dengan Raymond (diperankan Restu Sinaga), pemuda Batak yang gagah dan kaya raya agar Tiar mengakhiri “hubungan” dengan Aan.

Tak disangka tak dinyana, kepolosan dan keluguan Aan, Si Pemuda Sunda, berhasil meluluhkan hati Tiar, gadis Batak dengan segudang ambisi. Barangkali inilah menurut saya bagian paling menarik, selain karena peran Acha Septriasa dan Reza Nangin yang begitu menjiwai, sukses memerankan pasangan sejoli dengan background budaya dan profesi yang berbeda.

Lengkap dengan logat Batak dan Sunda mereka yang kental sesuai dengan peran masing-masing. Keseruan tidak hanya sampai di situ. Bu Euis (diperankan Wieke Widowati), ibunya Aan, mencoba berbesar hati ketika Aan bercerita kepadanya untuk melamar gadis pujaannya, Tiar yang seorang gadis Batak.

Benturan budaya pun terjadi. Aan dan ibunya pun dituntut untuk mengeluarkan biaya yang cukup fantastis untuk penyelenggaraan pesta Mangampu pemberian marga bagi orang non Batak. Maka diadakanlah pertemuan dua keluarga yang berbeda itu untuk membahas pesta tersebut.

Ternyata ibunya Aan shock menghadapi perangai Bu Sarigar yang dianggap kurang sopan oleh Bu Euis yang selama ini terbiasa dengan adat Sunda yang “someah hade ka semah” (ramah tamah).

Kekesalan Bu Euis pun makin menjadi-jadi tatkala Bu Sarigar dengan terang-terangan mengaku bahwa keluarganya sering makan daging anjing karena hal itu dianggap sebagai hal yang biasa bagi orang Batak. Sedangkan Bu Euis sebagai orang Sunda terbiasa makan lalapan yang seketika itu dianggap makanan kambing oleh Bu Sarigar. Keadaan ini justru dimanfaatkan juga oleh Bu Sarigar untuk mengintimidasi Aan agar membatalkan rencana pernikahannya.

Last but not least, meski awalnya kisah percintaan sejoli beda etnis ini banyak mengalami rintangan, mulai dari kepura-puraan, konflik keluarga (yang masih tetap dibumbui komedi), hingga hampir terpisahnya mereka karena Aan sempat ingin pindah kerjaan ke luar kota, namun akhirnya cinta mereka disatukan dalam pernikahan yang dilangsungkan secara meriah dengan adat Batak.

Arie dan Sacha, duo agent yang sempat membantu mereka, pun didapuk untuk memandu jalannya acara. Dan di akhir film, pengantin dan seluruh tamu undangan dikejutkan dengan penampilan panggung dari grup Project Pop yang membawakan lagu “Mengapa Mengapa” hingga membuat suasana makin heboh.

Walau sebelumnya terdapat insiden kecil dengan hadirnya Arif, bos mafia yang berencana membunuh Tiar, sempat membuat kekacauan, namun akhirnya berhasil digagalkan. Kisah Pasangan Sunda-Batak itu berakhir bahagia. Dan sekali lagi, Monty Tiwa berhasil mengemas cerita tentang keberagaman yang ada di negeri kita ke dalam sebuah film. Epic!